Film 'Mama Amamapare' Berhasil Menangkan Eagle Awards 2016

M Rodhi Aulia    •    16 November 2016 04:23 WIB
eagle awards documentary competition
Film 'Mama Amamapare' Berhasil Menangkan Eagle Awards 2016
Para Pemenang dan Finalis Eagle Awards 2016 bersama Menkes, Dirut Metro TV, dan Ketua Yayasan Eagle Institute Indonesia> Foto: M Rodhi Aulia/Metrotvnews.com.

Metrotvnews.com, Jakarta: Malam puncak Eagle Awards Documentary Competition 2016 yang bertemakan Indonesia Sehat, selesai diselenggarakan. Film yang berjudul 'Mama Amamapare' berhasil dinobatkan sebagai film dokumenter terbaik.

"Film ini mampu berbicara dengan lantang tentang problem yang saat ini kita hadapi sebagai sebuah bangsa," kata aktris senior Christine Hakim yang juga menjadi juri di Grand Studio Metro TV, Selasa (15/11/2016).

Christine dan dua juri lainnya, Angga Dwimas Sasongko (Sutradara) dan Ifa Isfansyah (Sutradara)memilih film yang disutradarai Yonri S.Revolt dan Febian Kakisina ini karena jernih menyampaikan informasi. Selain itu, film tersebut juga dapat menghadirkan rasa yang begitu kuat dan menggugah emosi serta impresif.

Yonri menegaskan, kemenangan mereka bukan karena usaha sendiri. Tetapi, berkat dorongan dan bantuan semua pihak, terutama orangtua.

"Saya juga berterima kasih kepada jajaran Kemenkes (Kementerian Kesehatan). Beginilah kritisisme anak muda zaman sekarang. Asik," ucap Yonri di hadapan hadirin termasuk Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

Febian menambahkan, penghargaan yang mereka dapatkan, dipersembahkan untuk masyarakat Papua. Febian berharap besar ini momentum pembenahan pelayanan kesehatan di Papua agar merata.



Film yang berdurasi 23 menit ini mengambil lokasi syuting di Mimika, Papua. Film ini menceritakan partisipasi seorang dukun bayi, mama Yakoba dalam membantu persalinan di kampung Amamapare. Masyarakat setempat lebih memilih jasa mama Yakoba ketimbang tenaga medis resmi yang mengalami keterbatasan dalam bertugas.

Eagle Awards Documentary Competition 2016 juga memberikan penghargaan kepada dua film lain. Yaitu Sketsa Dua Kisah yang disutradarai oleh Lutfi Yulisa dan Muhamad Burhan dengan kategori film favorit pemirsa.

Film yang berdurasi 23 menit ini berhasil merebut perhatian 39,32 persen pemirsa Metro TV.  Film yang dibuat di Lampung ini, menceritakan seorang wanita yang bersedih lantaran menyandang status Orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Wanita ini terpaksa menyandang status itu lantaran tertular almarhum suaminya.

Di samping itu, terdapat wanita lain yang juga berstatus ODHA, namun ia tetap optimis menjalani sisa hidupnya. Bahkan, wanita yang memiliki dua anak negatif HIV itu mampu berbagi kekuatan dan harapan bagi sesama ODHA.

Dan terakhir, film yang berjudul 'Kutukan tak Bertuan. Film berdurasi 24 menit 51 detik ini memenangkan kategori pilihan juri.

Sutradaranya adalah Rahmi Rizqi dan Ariza Saputra A. Lokasi pengambilan gambarnya di Aceh.

Film ini menceritakan sebuah kampung yang memiliki kepercayaan bahwa memakan salah satu hewan keramat yang mereka sebut 'Noang' akan mengakibatkan penyakit terkutuk, identik dengan kusta.



Salah seorang yang berusia 80 tahun terpaksa harus tinggal sebatang kara di sebuah gubuk dan jauh terpisah dari pemukiman warga dan keluarganya. Warga dan keluarganya menganggap pria itu menderita penyakit kutukan sehingga tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Tidak hanya itu, dua film yang masuk finalis juga mendapatkan penghargaan berupa beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Yaitu film berjudul 'Programmer Cilik' yang disutradarai oleh R. A. Christie Kirana dan A. Saka Saputra. Film ini berdurasi 21 menit 7 detik dan dibuat di Jakarta.

Selain itu, film dokumenter berjudul 'Aku Perlu Tahu' yang dibuat di Jombang. Film yang berdurasi 23 menit 14 detik ini merupakan karya Mufti Rasyid dan Fery Sriafandi.

Yayasan Eagle Institute Indonesia yang menginisiasi program ini berharap banyak lahirnya sutradara baru. Setidaknya sepuluh sutradara setiap tahunnya yang diharapkan mampu berkontribusi terhadap kemajuan kebudayaan dan pradaban bangsa.

Hadir dalam penganugerahan ini, Menkes Nila Moeloek, Direktur Utama Metro TV Adrianto Maghribi dan Ketua Umum Yayasan Eagle Institute Indonesia Kioen Moe. Penganugerahan ini akan ditayangkan di Metro TV pada 20 November pukul 20.05 WIB hingga 21.00 WIB.


(AZF)

Berharap pada Museum Musik Indonesia

Berharap pada Museum Musik Indonesia

5 days Ago

Gedung Kesenian Gajayana adalah rumah baru bagi Museum Musik Indonesia, setelah mereka menempat…

BERITA LAINNYA