The Golden Circle, Kingsman dalam Dunia Baru

Purba Wirastama    •    29 September 2017 12:41 WIB
review film
The Golden Circle, Kingsman dalam Dunia Baru
Taron Egerton dalam Kingsman The Golden Circle (Foto: dok. 20th Century Fox)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tiga tahun lalu, Kingsman: The Secret Service garapan Matthew Vaughn hadir dengan kesegaran film laga spionase. Mengingatkan pada film-film Bond tetapi dengan wajah baru, kemasan lebih komikal, serta sedikit bumbu superhero. Film ini mengikuti perjalanan Gary 'Eggsy' Unwin (Taron Egerton), pemuda London pengangguran yang takjub memasuki dunia baru agensi rahasia independen Kingsman, yang punya sekian metode mutakhir, berkelas, tetapi sekaligus mematikan.

Dalam seri terbaru, The Golden Circle, Eggsy masuk lagi ke kehidupan yang baru. Begitu Eggsy mulai menikmati segala kemewahan masa mudanya – pekerjaan agen rahasia, teman-teman seru, serta kekasih cantik Putri Tilde (Hanna Alstrom) – awan kelam datang membawa hujan bencana. Rekan lamanya, Charles Hesketh (Edward Holcroft), datang sebagai musuh dengan misi dari bos antagonis baru, Poppy Adams (Julianne Moore).

Kingsman berada dalam kondisi darurat dan menyisakan Eggsy serta pakar teknologi Merlin (Mark Strong). Protokol menuntun mereka ke Kentucky, menemui agensi spionase AS yang menyamar sebagai pabrik pembuat minuman beralkohol Statesman. Tak ada lagi gaya necis yang dikenal Eggsy lewat Galahad senior (Collin Firth), tetapi gaya koboi dari Tequila (Channing Tatum) dan Jack Daniels (Pedro Pascal). Mereka bekerjasama untuk melawan musuh baru yang punya misi 'mulia' yang terlampau ekstrem.

Film-film Kingsman tampaknya memang punya gaya tersendiri dalam merancang karakter antagonis. Sama seperti di Secret Service, tokoh musuh di Golden Circle adalah megalomaniak kaya raya nan cerdas dengan pandangan radikal mengenai baik dan buruk. Poppy, bos kartel berbasis Asia Tenggara, mengedarkan ganja racikan khusus demi membunuh para pelanggan di seluruh dunia. Masa depan cerah dimulai dari pembersihan 'sampah', katanya.


Taron Eagerton dan Mark Strong dalam Kingsman The Golden Circle (dok 20th century fox)


Selera humor Poppy sebagai antagonis juga tak beda jauh dengan Richmond Valentine, tokoh antagonis film sebelumnya. Dia punya cara sendiri untuk membunuh orang-orang yang tidak disukai. Jika Secret Service punya parade ledakan dengan asap warna-warna, yang dibuat satu ritme dengan musik Pomp & Circumstance, film Golden Circle punya gaya yang lebih kasar dan sadis berdarah.

Soal mana gaya laga yang lebih bagus, lain soal. Seri Golden Circle jelas punya gaya berbeda. Masing-masing pihak, baik koboi Statesman maupun anak buah Poppy, terkesan lebih spontan dan kasar dalam bertindak dibanding kalangan Kingsman yang meniru gaya kaum terhormat Inggris, serta pihak Valentine yang memuja akurasi dan efisiensi dalam beraksi.

Terkait elemen kekerasan dan pembunuhan, dua film Kingsman punya aspek pembeda. Kamera hampir selalu berjarak dengan subjek korban. Untuk Golden Circle, sutradara Matthew seperti punya ketertarikan khusus dengan kartun animasi Happy Tree Friends. Bentuk kejahatan tidak terlalu tampak sebagai tragedi yang begitu emosional menyayat hati, tapi lebih ke pertunjukan visual yang sadis dan aneh.

Konflik seputar penggunaan ganja, yang menjadi kunci perjalanan cerita, turut mengemuka secara politis karena melibatkan tokoh otoritas pemerintah. Bagian cerita tersebut menyeruak sebagai penyumbang aspek komedi satir film. Dalam beberapa dialog, terselip gugatan dan olok-olok soal peran pemerintah dalam mengatasi situasi masyarakat yang kacau secara sosial ekonomi.

Di sisi lain, olok-olok terhadap jenjang sosial juga diperkuat lewat tokoh Eggsy. Sebagai bocah yang besar dengan kultur jalanan, Eggsy dengan segera 'naik kelas' karena bergabung dengan Kingsman. Dalam waktu relatif singkat, dia masuk ke lingkaran bangsawan Eropa lewat kekasih Putri Tilde. Eggsy, yang mengenalkan diri sebagai penjahit setelan pria, tak menemui masalah gap sosial dan pendidikan ketika bertemu keluarga Tilde yang bangsawan.


Poppy Delevingne dan Pedro Pascal dalam Kingsman The Golden Circle (dok 20th Century Fox)


'Jangan percaya siapapun' adalah lagu lama dalam film spionase, meski hampir selalu menjadi muatan wajib. Film Golden Circle tampak hati-hati di sini, dengan tidak menyorot pembelot secara berlebihan.

Pengerjaan sinematografi, suara, musik, dan efek spesial serta visual yang padu membuat film ini menjadi tontonan hiburan yang memanjakan. Apalagi dengan sekian adegan menegangkan dan dialog komikal yang melegakan.

Golden Circle barangkali tidak sesegar Secret Service karena merupakan sekuel dari pembuat yang sama. Beberapa muatan punya pola serupa, hanya beda kultur dan cara para tokoh bicara. Namun film ini mampu menghadirkan dunia fiksional yang menggabungkan kultur AS klasik, kultur pop anak muda, koboi, penyulingan alkohol, spionase teknologi mutakhir, serta isu sosial politik ekonomi.


Kingsman: The Golden Circle
Sutradara: Matthew Vaughn
Naskah: Jane Goldman, Matthew Vaughn
Produser: Matthew Vaughn (Marv Films), David Reid, Adam Bohling
Distributor: 20th Century Fox
Rilis Indonesia: 20 September 2017

 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

5 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA