Mars Met Venus, Menyisir Duri Menjalin Harmoni

Purba Wirastama    •    20 Juli 2017 18:20 WIB
review film
Mars Met Venus, Menyisir Duri Menjalin Harmoni
Mars Met Venus (YouTube MNCP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kisah Mars Met Venus dibagi menjadi dua film berdasarkan perspektif kedua tokoh utama, yaitu Part Cewe dan Part Cowo. Tulisan ini adalah ulasan untuk film pertama, yang menjadi panggung untuk persepsi tokoh perempuan.

Kelvin (Ge Pamungkas) hendak melamar Mila (Pamela Bowie), kekasihnya. Supaya berkesan, Kelvin membuat video kenangan yang diaku sebagai video blog. Lewat video tersebut, dia mengajak Mila untuk bercerita di depan kamera, mengenai perjalanan hubungan sejak awal pacaran.

Cerita film pertama, Part Cewe, dimulai pada hari pertama mereka membuat rekaman video. Mila mengatur jadwal dengan kru, bahwa sesi perekaman dimulai jam lima sore. Namun kepada Kelvin, Mila meminta dia datang jam empat karena berpikir pacarnya pasti akan terlambat.

Kelvin ternyata datang sesuai permintaan dan harus menunggu hingga Mila datang satu jam kemudian. Jengkel Kelvin karena merasa begitu dikontrol dan tidak dipercaya. Mereka beradu argumen dan mengungkit beberapa keterlambatan sebelumnya. Mila tak mau disalahkan dan Kelvin harus menerima. Setelah satu momen kecil, mereka kembali akur dan mesra.

Adegan pembuka ini terasa cukup efektif dalam memberikan konteks serta gambaran cerita yang akan tersaji sepanjang film. Secara garis besar, ada konflik dalam hubungan, perbedaan pemahaman, penjelasan dari kedua sisi, serta tindakan untuk mengakhiri. Perbedaan dilihat lewat bingkai lelaki perempuan. Barangkali terkesan stereotip, tetapi sangat diyakini demikian adanya.


Mars Met Venus (YouTube MNCP)


Kelvin dan Mila membuat rekaman cerita selama beberapa hari di tempat berbeda dengan sejumlah pertanyaan sederhana. Misalnya, mengapa keduanya saling jatuh cinta, atau bagaimana cerita awal mereka berpacaran. Selama momen kilas balik ini, mereka menemui beberapa hal yang ternyata menjadi masalah.

Beberapa hal dimaknai dan dikenang secara berbeda, bahkan bertolak belakang. Mereka sering gagal memahami satu sama lain serta bertindak tidak sesuai harapan. Namun di sisi lain, konflik tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengurai satu persatu ganjalan yang dulu dibiarkan.

Lewat penuturan masa lalu itu pula, penonton secara perlahan mengenal lebih dalam karakter Mila, dan juga sekelumit karakter Kelvin. Sebagian besar peristiwa kilas balik tidak diceritakan secara berurutan tetapi mudah diikuti. Barangkali ini karena segmen cerita nostalgia berfokus ke kesan emosional, bukan ke rangkaian sebab akibat.

Perjalanan hubungan Mila dan Kelvin adalah kisah cinta yang biasa dan sederhana, sekaligus mendalam dan terasa dekat. Pamela, Ge, dan sejumlah pemeran pendukung mampu menyalurkan emosi setiap tokoh dan membangun empati terhadap mereka. Nyaris semua penonton dalam pemutaran khusus di Jakarta pekan lalu merespons berbagai momen dengan kompak.

Terhadap kenangan Kelvin dan Mila yang memalukan, penonton tertawa. Terhadap momen romantis yang personal, terdengar beberapa tawa kecil dan lebih banyak keheningan, entah karena kikuk atau senyum simpul. Terhadap kesedihan yang dihadapi tokoh, penonton juga larut.

Hal lain yang membuat kisah Kelvin dan Mila terasa dekat adalah kejeniusan aspek sinematografi, pengadeganan, artistik, serta penyuntingan. Dalam cerita film, ketika kedua tokoh bercerita, ada dua kamera perekam yang masing-masing diletakkan di hadapan mereka. Lewat lensa ini pula, penonton melihat ekspresi mereka dalam berdialog dan mengenang masa lalu.


Mars Met Venus (YouTube MNCP)


Tokoh kru video yang membantu mereka bernama Lukman. Namun dia tidak pernah dimunculkan di layar sehingga seakan-akan berada di bangku penonton film. Sadar tak sadar, penonton akan memposisikan diri sebagai Lukman, yang bertanya serta menyimak setiap cerita Kelvin dan Mila. Setiap kali tokoh bercerita sesuatu yang personal, mata penonton akan berpindah ke lensa kamera di dalam cerita. Mereka memang bercerita kepada Lukman, tetapi sekaligus kepada penonton.

Sebagai paket film cerita yang menekankan perbedaan sudut pandang tokoh dan menerjemahkannya ke sejumlah aspek teknis di luar cerita, termasuk memecah film menjadi dua, upaya Hadrah Daeng Ratu dan segenap tim terbilang berhasil. Penonton akan tahu alur cerita dari awal hingga akhir, tetapi tidak cukup lengkap sehingga harus menyimak film kedua. Tentu saja dari segi komersial, keputusan kreatif ini juga dapat dilihat sebagai salah satu strategi bisnis.

Mars Met Venus adalah perayaan sederhana hubungan lelaki dan perempuan di jenjang pernikahan, yang berbeda tetapi berupaya untuk menjalin harmoni. Ada kegembiraan dan kehangatan nostalgia. Ada haru biru atas segala hal manusiawi yang sulit dipahami.

Mars Met Venus, Part Cewe :
Sutradara: Hadrah Daeng Ratu
Penulis naskah: Nataya Bagya
Produser kreatif: Lukman Sardi
Produser: Ferry Ardiyan (MNC Pictures)
Durasi: 98 menit
Rilis Indonesia: Kamis 20 Juli 2017

 


(ELG)