Stan Lee Getol Sisipkan Pesan Anti-Rasisme dalam Komik Marvel

Cecylia Rura    •    13 November 2018 13:10 WIB
marvel cinematic universe
Stan Lee Getol Sisipkan Pesan Anti-Rasisme dalam Komik Marvel
Stan Lee bersama komik garapannya (Foto: ARALDO Di CROLLALANZA/REX/Shutterstock)

Los Angeles: Penulis sekaligus komikus komik Marvel, Stan Lee punya misi khusus dalam tokoh Marvel besutannya. Pada 1968, ia menuliskan tentang fanatisme dan rasisme yang akan terus menjangkit di dunia. Pemikiran visioner itu dituliskan Stan Lee dalam kolom Stan's Soapbox pada 1960-an.

"Kefanatikan dan rasisme adalah salah satu penyakit sosial paling mematikan yang menjangkiti dunia saat ini," tulis Stan Lee, dilansir dari Washington Post, Selasa 13 November 2018.

Tentang fanatisme dan rasisme, Stan Lee menulisnya pada tahun ketika Martin Luther King Jr. dan Robert F. Kennedy tewas dibunuh. Kalimat ini pernah ditulis kembali olehnya melalui Twitter pada 15 Agustus 2017, menanggapi tentang kekerasan mematikan yang dipicu nasionalis kulit putih di Charlottesville. 

Pada akhir tulisannya, Stan menuliskan harapan bagi manusia. "Cepat atau lambat, jika manusia layak menjalani takdirnya, kita harus mengisi hati kita dengan toleransi."

Ia menggunakan kalimat ini untuk menghadapi dan mencela kefanatikan. Nilai-nilai ini dikisahkan dalam komik Marvel.

"Mavel selalu dan akan selalu menjadi cerminan dari dunia di luar jendela kita. Dunia mungkin akan berubah dan berkembang, tetapi satu hal yang tidak akan berubah adalah cara kita menyampaikan cerita tentang kepahlawanan," ungkap Lee dalam sebuah video yang dibagikan pada musim semi lalu.

"Cerita-cerita itu memiliki ruang untuk semua orang, tanpa memandang ras, jenis kelamin, atau warna kulit mereka. Satu-satunya hal yang tidak kita miliki adalah kebencian, intoleransi dan kefanatikan,"tulisnya.

Contoh pada karakter Black Panther yang diciptakan pada 1966 oleh Stan Lee bersama Jack Kirby. Karakter Black Panther adalah raja Afrika yang memerintah negara kaya dan berteknologi maju, Wakanda. Karakternya sebagai wujud pahlawan super berkulit hitam pertama di dunia.

Perlawanan terhadap nilai rasisme Amerika juga diangkat dalam film X-Men. Para mutan X-Men yang selalu menghadapi diskriminasi.

"Saya selau merasa X-Men, secara halus, sering menyentuh subjek rasisme dan ketidaksetaraan, dan saya percaya bahwa subjek telah muncul dalam judul lain juga," tuturnya dalam wawancara khusus bersama Washington Post dua tahun lalu.

"Kami tidak akan pernah berusaha keras mengenai masalah ini, yang harus ditangani dengan hati-hati dan kecerdasan."

Dalam Stan's Soapbox, ia juga menuliskan bagaimana kebesarana kekuatan cinta dapat mengalahkan rasa benci. Ia mengibaratkan tiga tokoh pembawa perdamaian dari Kristen, Buddha, dan Moses ketika ajaran dan perbuatan mereka dapat mempengaruhi jutaan orang selama bertahun-tahun yang keberadaannya masih terasa di setiap sudut bumi.

"Sekarang perhatikan para praktisi kebencian yang telah menodai halaman-halaman sejarah. Siapa yang masih memuliakan kata-kata mereka? Di mana penghormatan masih dibayar untuk ingatan mereka? Spanduk apa yang masih diangkat untuk tujuan mereka?"

"Kekuatan cinta dan kekuatan kebencian, mana yang paling abadi? Ketika Anda cenderung putus asa... biarkan jawabannya menopang Anda," tulis Lee.

Stanley Martin Lieber meninggal dunia pada 12 November 2018 waktu setempat. Ia meninggal dalam usia 95 tahun.

 


(ASA)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA