31 Film Dokumenter-Eksperimental Berkompetisi di Arkipel 2017

Purba Wirastama    •    17 Agustus 2017 17:31 WIB
arkipel
31 Film Dokumenter-Eksperimental Berkompetisi di Arkipel 2017
Arkipel 2017 (Foto: dok. Arkipel)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebanyak 31 film dokumenter dan eksperimental terpilih dari 15 negara akan diputar dalam program kompetisi festival film Arkipel 2017. Dua di antaranya merupakan film dari Indonesia, yaitu Turah garapan Wicaksono Wisnu Legowo serta Welu de Fasli garapan Wahyu Utami Wati dan Ishak Iskandar.

Arkipel, atau Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, merupakan ajang tahunan yang digagas oleh Forum Lenteng sejak 2013. Tujuannya adalah membaca fenomena global dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan budaya melalui sinema. Ada sejumlah sesi pemutaran dan diskusi, termasuk kompetisi film.

Program kompetisi telah digelar sejak festival pertama dan dilanjutkan setiap tahun. Menurut pihak Arkipel, banyak film dari Indonesia didaftarkan, tetapi tidak setiap tahun ada film yang lolos.  Untuk festival tahun ini, mereka menerima lebih dari 1720 judul film dari 85 negara. Jumlah entri dari Indonesia paling banyak, yaitu sekitar 200 judul. Film panjang Turah dan film pendek Welu de Fasli masuk dalam program ini.

"Kita tidak pernah memposisikan film Indonesia atau mana lebih bagus (berdasarkan negara asal). Jadi menurut kita sama sejajar. Kita juga tidak memberi batasan film pendek atau panjang untuk yang dapat didaftarkan. Bagaimana caranya, setiap film yang hadir dalam kompetisi, bisa merespons tema kita atau bahasa sinema yang ada sekarang," kata direktur festival Yuki Aditya dalam jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta.

Barangkali ada kebingungan soal definisi jenis film. Arkipel, sesuai tajuknya, dikatakan sebagai festival film dokumenter dan eksperimental. Sementara Turah, yang lolos program kompetisi, merupakan film cerita fiksi.

Arkipel memiliki definisi khusus soal jenis film. Menurut direktur artistik Hafiz Rancajale, dua kata dokumenter dan eksperimental adalah satu kesatuan konsep dan tidak berdiri sendiri. Konsep eksperimental juga dimaknai lebih luas, tidak sekadar film yang dianggap aneh, tidak lazim, atau tidak dimengerti.

"Kami dari dulu tidak pernah membedakan antara fiksi dan dokumenter. Itu sama-sama film. Sumber pembuatan beda.  Dokumenter berbasis kenyataan. Kalau fiksi ceritanya dibuat dan kenyataan dibangun oleh cerita," ujar Hafiz.

Hafiz menerangkan bahwa dua basis film tersebut berkembang lebih lanjut lewat beragam eksperimen, baik dari segi teknologi, bahasa, maupun estetika. Misalnya, perubahan dari kamera seluloid ke digital dalam beragam resolusi, teknik membangun dialog dari sekadar teks menjadi suara, atau perkembangan jumlah warna dalam gambar film.

Film Turah, kata Hafiz, sebenarnya menyajikan cerita yang biasa saja tentang masyarakat kelas bawah. Namun hal menarik yang akan dibahas di Arkipel adalah soal cara Wisnu, sang penulis dan sutradara, melakukan upaya eksperimentasi dengan hanya syuting di satu desa tempat dia mendapat inspirasi cerita. Film ini juga disebut berbasis dari riset  Wisnu tentang kampung riil yang terisolasi di kawasan kota Tegal, Jawa Tengah.

"Jadi eksperimentasi itu tidak melulu terkait hal aneh, tetapi (juga terkait) spekulasi bahasa, teknologi, dan bagaimana penonton melihat (tayangan). Buat kami, ini penting karena sinema seharusnya selalu melalukan eksperimentasi. Publik perlu dikasih ruang untuk berdialog," lanjut Hafiz.  

Sementara film pendek Welu de Fasli garapan Wahyu Utami dan Ishak memang merupakan karya dokumenter. Film mengikuti perjalanan beberapa orang dengan latar kultur Flores, Nusa Tenggara Timur. Menurut Hafiz, karya ini terpilih karena layak, bagus, dan menarik.

"(Welu de Fasli) tidak hanya menarasikan persoalan kemiskinan dan daerah yang jauh dengan cara (deskripsi) daerahnya jauh berapa kilometer. Tapi dengan visual, bagaimana anak kecil ngobrol dengan orangtuanya tentang pala," tukas Hafiz.

Arkipel 2017 mengangkat tema Penal Colony. Rangkaian festival akan diadakan di tiga tempat di Jakarta, yaitu kineforum, GoetheHaus, dan Gudang Sarinah Ekosistem pada 18-26 Agustus 2017. Ditambah film kompetisi, total ada 85 film dari 32 negara yang akan ditayangkan. Semua program terbuka untuk publik dan tidak dipungut biaya. Jadwal selengkapnya dapat dilihat di laman resmi arkipel.org.

 


(ELG)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

1 day Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA