Cars 3, Kisah Fabel Pixar Soal Perbedaan Generasi

Purba Wirastama    •    28 Agustus 2017 08:12 WIB
resensi film
Cars 3, Kisah Fabel Pixar Soal Perbedaan Generasi
(Foto: Walt Disney)

Cars 3
Sutradara: Brian Fee
Cerita: Brian Fee, Ben Queen, Eyal Podell, Jon Stewart
Penulis: Kiel Murray, Bob Peterson, Mike Rich
Produser: Kevin Reher, Andrea Warren, John Lasseter (Pixar/Walt Disney)
Durasi: 109 menit
Rilis Indonesia: 16 Agustus 2017

Roda terus berputar. Begitu juga roda Lightning McQueen (Owen Wilson), mobil balap merah bernomor 95 dalam dunia fiksi yang semua penduduknya adalah 'mobil.' Usia dan regenerasi membuat dia tak lagi unggul di arena balap seperti dulu. Perkembangan zaman membuat dia tertinggal jauh dari puluhan mobil baru dengan teknologi terkini. Sukses dan gagal sama-sama menjadi suatu keniscayaan.

Sterling (Nathan Fillion), mobil perak muda kaya raya, membeli Rust-eze, garasi pusat balap Lightning, dan jadi sponsor baru untuknya. Selain memperbarui semua interior dan teknologi pusat balap, Sterling juga merekrut mobil muda bernama Cruz Ramirez (Cristela Alonzo) untuk menjadi pelatih para mobil Rust-eze, termasuk Lightning.

Berjalan kemudian 'proyek senior' Cruz. Pembalap senior Lightning mendapat pelatihan 'terkini' dari junior seperti Cruz. Bisa dibayangkan ragam konflik yang mengemuka, meliputi perbedaan pengalaman, cara pandang, dan pengetahuan. Tentu saja, ada pula jurang ego. Masing-masing kukuh bahwa apa yang mereka yakini adalah yang terbaik.

Interaksi kedua mobil, terutama relasi mereka yang unik dan dinamis, menjadi kunci perjalanan cerita film. Menjadi jelas bahwa sorotan utama Cars 3  adalah tentang perubahan generasi dan bagaimana para pelaku dari era berbeda menyikapi perubahan. Dari sini, sutradara Brian Fee dan segenap tim penulis cerita tampak hendak menyajikan sejumlah permasalahan regenerasi yang dihadapi manusia.

Ada cukup banyak momen yang seru dan penuh kejutan menarik. Hal yang lebih menarik, film ini semakin menegaskan bahwa kisah Cars  serupa fabel dengan petuah-petuah bijak terkait aspek sosial manusia. Bukan hewan yang mengalami personifikasi, melainkan mobil. Beberapa jenis binatang memang ikut muncul, tetapi tetap tampil sebagai mobil. Jadilah masyarakat mobil berisi spesies mobil manusiawi dan mobil hewani.


(Foto: Walt Disney)

Pembenturan ini membuat kisah Cars 3  semakin mudah untuk dimaknai dalam konteks manusia. Faktornya, selain konflik cerita yang dapat dibilang universal, adalah upaya film ini dalam meniru ragam elemen dalam kehidupan manusia urban. Teknologi animasi Studio Pixar dan pengalaman sekian tahun memungkinkan fabel versi mobil ini tampak begitu hidup.

Selain soal regenerasi dan perubahan era, Cars 3  juga menawarkan pandangan soal bagaimana kompromi dilakukan dalam perjalanan hidup. Ihwal menghadapi situasi sulit, ketika ada jurang lebar antara hal yang kita harapkan dan apa yang sebenarnya terjadi.

Terkait aspek di luar cerita, keterlibatan Brian Fee dalam film ini juga menjadi pencapaian baru baginya. Cars 3 adalah debut Brian sebagai sutradara film panjang. Sebelumnya dia terlibat di sejumlah film Pixar sebagai animator dan penggarap story board. John Lasseter, penulis cerita dan sutradara untuk dua film pertama, menjadi produser eksekutif untuk film ketiga dan memberi kepercayaan kepada Brian untuk duduk di kursi sutradara.

Karya debut Brian juga merupakan buah manis. Cars 3  adalah sajian cerita yang hangat, dekat, emosional, dan patut menjadi tontonan keluarga.




(DEV)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA