Transformers 5, Gemilang Visual Hampa Cerita

Purba Wirastama    •    24 Juni 2017 08:00 WIB
review film
Transformers 5, Gemilang Visual Hampa Cerita
Adegan Transformers The Last Knight (paramount)

Metrotvnews.com, Jakarta: Transformers: The Last Knight (TLK) adalah pertunjukan fiksi sains dengan segala gemilang efek visual. Balap mobil, perang robot galaksi raksasa, penjelajahan bawah laut dan luar angkasa, sihir fisika alien, serta berbagai ledakan fantastis. Namun kehebatan eksekusi teknis ini jauh meninggalkan pengemasan cerita. Cerita baru, tetapi sebenarnya itu-itu saja dan terkesan hampa.

Film seri kelima ini memiliki formula yang kurang lebih sama dengan film-film Transformers sebelumnya. Ada sejarah terselubung dalam peradaban manusia yang ternyata berkaitan erat dengan para robot dari planet Cybertron. Setelah gunung es Arktik, piramid Mesir, astronot di bulan, dan dinosaurus prasejarah, mitologi yang kali ini ditulis ulang adalah kejayaan Britania Raya sejak abad pertengahan.

Adegan pembuka menceritakan salah satu kilas balik dengan cukup serius. Peperangan antara ksatria meja bundar pimpinan Arthur dengan prajurit Saxon ditampilkan. Transformers era itu ternyata punya andil dalam kemenangan Arthur, melalui naga yang dibawa oleh Merlin. Para robot ksatria hampir selalu membantu salah satu pihak dalam perang-perang berikutnya.

Tak lupa ada benda keramat dari Cybertron yang menjadi rebutan para Autobot baik dan Decepticon jahat. Bukan Allspark, Matrix, pilar jembatan Sentinel, atau Seed, tetapi benda baru. Jika jatuh ke tangan robot jahat, keselamatan hidup umat manusia terancam. Satu bonus untuk cerita TLK, Optimus Prime berubah menjadi jahat.


Adegan Transformers The Last Knight (paramount)

Elaborasi masa lalu Transformers di Bumi diceritakan seiring dengan pembangunan konflik utama dan pengenalan beberapa tokoh baru, seperti profesor sastra Inggris Viviane Wembly (Laura Haddock), sejarawan Sir Edmund Burton (Anthony Hopkins), dan penyihir Cybertron Quintessa (Gemma Chan). Bagian ini mempunyai porsi paling banyak dalam film berdurasi 2,5 jam.

Beberapa penggal cerita tersebut punya andil dalam plot besar TLK. Namun fungsinya seperti tidak lebih penting dari tujuan utama mengembangkan dunia fiksi ini menjadi lebih besar lagi, sebagai modal melanjutkan waralaba dengan film-film berikutnya. TLK juga jadi semacam penegasan mengapa Bumi begitu penting dalam konflik berkepanjangan para robot alien. Seperti tak ada planet lain.

TLK memang mampu merekayasa ulang sejarah panjang dunia Barat dalam dunia fiksi Transformers dengan sejumlah detail artistik yang digarap serius sekaligus menggelikan. Namun di sisi lain, ambisi untuk menceritakan banyak hal membuat film secara keseluruhan menjadi tontonan yang membosankan.

Misalnya ketika gadis muda yatim piatu Izabell (Isabela Moner) bersama Sqweeks autobot kecilnya, yang tampak seperti Rey dan BB-8 dalam Star Wars, menolong empat bocah iseng di area terlarang. Insiden bertele-tele ini menuntun Cade Yeager (Mark Wahlberg) pada suatu kebetulan yang membuatnya terpilih sebagai tumpuan harapan. Momen ini juga yang membuat robot jahat dapat menguntit perjalanan robot baik lewat prajurit manusia TRF.

Setelah itu, kita dapat melupakan mereka dengan mudah. Mereka punya peran minor dalam pertempuran dan hidup Cade, tetapi siapa yang peduli selama ada Optimus Prime, Bumblebee, dan profesor cantik yang masih lajang.


Adegan Transformers The Last Knight (paramount)

Kehadiran Sir Edmund dan autobot asisten serupa C3PO Star Wars cukup menghidupkan suasana, meskipun tidak lama. Ada pendekatan segar pada dialog mereka dan musik latar. Interaksi mereka menjadi momen paling menghibur di tengah-tengah film.

Ketika narasi film masuk ke bagian utama, yaitu pertempuran besar antara pihak Quintessa dan pihak Cade, rasa penasaran menghilang dengan mudah, terutama bagi penonton yang telah menyimak empat film sebelumnya. Kita akan segera tahu bagaimana cerita berakhir.

Tema patriotik mengemuka dalam cerita TLK. Siapapun dapat menjadi pahlawan tanpa harus punya asal-usul keluarga patriot, seperti Cade, Izabell, atau Sqweeks. Namun tema ini pun turut hilang ditelan berbagai aksi para robot logam raksasa dan penjelasan ekstra mengenai sejarah mereka. Bagi penonton yang ingin merasakan sensasi visual film 3D (Michael Bay menyebut 98% aset direkam dengan kamera 3D IMAX), tanpa harus menyimak perjalanan cerita, Transformers: The Last Knight adalah film yang tepat.


* Sutradara: Michael Bay
* Cerita: Akiva Goldsman, Art Marcum, Matt Holloway, Ken Nolan
* Naskah: Art Marcum, Matt Holloway, Ken Nolan
* Produser: Lorenzo di Bonaventura, Tom DeSanto, Don Murphy, Ian Bryce
* Produser Eksekutif: Steven Spielberg, Michael Bay, Brian Goldner, Mark Vahradian
* Rilis Indonesia: Rabu 21 Juni 2017


 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

1 week Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA