LSF Mengaku Terbuka untuk Diskusi dengan Sineas Terkait Sensor

Purba Wirastama    •    02 Juli 2018 18:09 WIB
film indonesia
LSF Mengaku Terbuka untuk Diskusi dengan Sineas Terkait Sensor
Komisioner Lembaga Sensor Film Rommy Fibri Hardianto (kanan) (Foto: Muttya)

Jakarta: Lembaga Sensor Film menyatakan punya metode sensor berbeda sejak tiga tahun terakhir. Mereka tidak langsung memotong adegan yang dinilai tak sesuai dengan kategori usia penonton tertentu, tetapi membuka diskusi dengan pembuat atau distributor untuk menentukan mana klasifikasi usia penonton yang tepat.

Menurut LSF, metode ini memungkinkan seluruh adegan film bioskop tertentu tetap utuh tetapi punya kategori penonton lebih tinggi. Jika pihak pendaftar ingin film tetap diputar bagi kalangan penonton lebih muda, muatan adegan yang tidak memenuhi kriteria harus rela dipotong.

"LSF tidak lagi pegang gunting," kata Ketua Sub Komisi II Bidang Hukum LSF Rommy Fibri Hardianto di kantor LSF Jakarta Selatan, Senin, 2 Juli 2018. 

"Ketika produser dan sutradara ingin film untuk 13+, tetapi ada adegan begini, tentu salah tempat. Maka dari itu, kami undang untuk dialog. Pertanyaan pertama, ini mau bikin film untuk 13+ atau 17+ atau 21+ atau Semua Umur?" lanjutnya.

Metode semacam ini mungkin memakan waktu lebih panjang karena melibatkan diskusi. Kendati begitu, Rommy menyebut bahwa selama setahun terakhir, diskusi soal sensor untuk film produksi domestik semakin berkurang. 

Artinya, konflik perbedaan antara klasifikasi usia dan muatan film juga semakin menurun. Bagi LSF, ini adalah tanda bahwa budaya swasensor semakin dipahami oleh pembuat film. 

"Terbukti pada periode setahun ke belakang, dialognya sudah mulai berkurang. Film-film dari Anugerah LSF 2017, yaitu yang dirilis sejak September 2016 hingga Oktober 2017, dialognya bisa seminggu tiga kali," ungkap Rommy.

"Dengan dialog yang sudah mulai berkurang, sensor mandiri sudah mulai diterapkan karena tidak banyak yang harus didiskusikan. Artinya, (film) lulus begitu saja dengan santai dan nyaman, tidak perlu dialog berat," imbuhnya. 

Salah satu film yang diskusinya relatif ketat adalah Lima produksi Lola Amaria. Pihak Lola menghendaki film ini mendapat klasifikasi 13+. Namun LSF memutuskan film untuk 17+ karena ada muatan cerita yang dinilai sulit dipahami oleh remaja.

Menurut Rommy, diskusi sensor untuk film Lima bukanlah masalah yang fatal dan krusial. 

"Itu bukan hal yang fatal dan krusial karena itu hal yang wajar. Hampir setiap hari, untuk film yang disensorkan dan sudah disensor LSF, produser dan sutradara selalu ikut saat LSF menentukan klasifikasi berapa tahun," terang Rommy.

"Produser dan sutradara itu sering datang ke LSF dan diskusi macam-macam. Ada yang ingin menurunkan, ada yang malah ingin menaikkan biar utuh tayangannya. Itu dinamika yang sering kami hadapi sehari-hari di LSF."

Saat ini LSF sedang menyiapkan gelaran tahunan Anugerah LSF 2018. Dalam acara ini, LSF memberikan penghargaan bagi film bioskop, film televisi, serial televisi, dan pihak eksibitor yang dinilai telah menjalankan swasensor atau sensor mandiri. Seremoni penyerahan piala penghargaan akan digelar pada Oktober mendatang. 

 




(ASA)

Kaca Benggala Polemik Jerinx SID dan Via Vallen

Kaca Benggala Polemik Jerinx SID dan Via Vallen

3 days Ago

Dapat disimpulkan, Jerinx adalah korban dari sikap 'lancang' Via Vallen dan beberapa pe…

BERITA LAINNYA