Ringgo Agus Rahman Bersemangat Syuting 8 Jam per Hari

Purba Wirastama    •    16 November 2017 18:32 WIB
ringgo agus rahman
Ringgo Agus Rahman Bersemangat Syuting 8 Jam per Hari
Ringgo Agus Rahman dalam Satu Hari Nanti (Rumah Film)

Jakarta: Aktor Ringgo Agus Rahman mengaku bersemangat saat ikut syuting film Satu Hari Nanti di Swiss pada akhir 2016 lalu. Pasalnya, ada pembagian jam kerja yang dirasa cukup adil baginya.

"Biasanya, kalau ditawari syuting di luar negeri, ada beberapa (aktor) yang tak semangat karena (masalah jadwal kerja). Misal, 10 hari ke luar negeri, tapi 10 hari hanya dipakai untuk syuting saja, tanpa ada jalan-jalan. Jadi, ah capek..," kata Ringgo dalam jumpa pers film di  Qubicle, Jakarta Selatan, Rabu 15 November 2017.

"Tapi di sini (Satu Hari Nanti), karena ada regulasi (maksimal syuting) delapan jam sehari (di Swiss), kami sering jalan-jalan dan menikmati semua. Jadinya, saya mau untuk ke sana lagi," lanjut Ringgo.

Menurut produser Dienan Silmy, syuting dilakukan 21 hari dalam rentang waktu produksi 26 hari. Delapan jam setiap hari. Sisa waktu dipakai untuk persiapan dan istirahat.

Film Terbaru Salman Aristo Soroti Masalah Generasi Umur 20-an

Saat syuting berjalan, kata Dienan, tak ada kendala berarti dan nyaris tak ada improvisasi karena semua telah disiapkan dengan ketat dalam tahap pra-produksi. Hal ini dapat terjadi karena ada penerapan regulasi ketat dari pemerintah Swiss mengenai batasan jam kerja.

"Produksi tinggal jalan karena penjadwalan sudah siap. Sampai lokasi, (rencana) juga sudah terkunci, seperti misal kami syuting di Gunung Jungfraujoch. Gambar ke arah sana, pemain berapa banyak, itu dalam pra-produksi sudah harus terkunci supaya syuting enggak (berubah) karena waktu, persiapan," ujar Dienan.

Saking ketat regulasi, mereka harus menyerahkan keterangan tertulis soal rincian rencana syuting ke pemerintah Swiss.

"Makanya Salman tadi ngomong: Kami enggak bisa ganti shot (mengubah rencana di lokasi) karena ada storyboard, ada floorplan, dan itu harus dikirim ke pemerintah Swiss, karena itu perihal hak warga negara Swiss juga. Enggak boleh masuk kamera, dan lain-lain," tuturnya.

Jam Kerja dan Jaminan Honor Kerap Dikeluhkan Artis Peran

Menurut Dienan, konsekuensi sistem kerja ini adalah persiapan panjang dan ketat. Bahkan jadwal syuting sempat diundur sebulan demi memastikan para pemain dan kru memiliki kategori visa yang tepat, yaitu izin kerja.

Sementara visa biasa hanya mengizinkan syuting maksimal delapan hari. Dana ekstra pun harus dikeluarkan. Anggaran proyek film ini disebut cukup tinggi dan hampir mencapai Rp20 miliar.

"Sebenarnya masalah syuting relatif enggak ada. Bahkan bisa, jam 4 sore (kami) sudah pulang, jalan sore sama-sama. Cuma, persiapan harus benar-benar (ketat)," imbuhnya.

Pemerintah Indonesia belum punya regulasi ketat soal jam kerja produksi film. Saat diminta pendapat terkait penerapan sistem 'delapan jam Swiss' di Indonesia, produser Ci(N)ta dan sutradara Cerita Cinta ini ragu.

"Bisa saja sih, cuma masalahnya, syuting itu masalah pilihan. Kita mau memilh delapan jam atau tidak. Ketika syuting mau rapi delapan jam, pasti pra-produksi bisa (panjang) banget."

Parfi 56 Bahas Jam Kerja Artis hingga Aktor Anak-Anak

"Nah, persiapan kami rapi banget, sampai para pemain dikarantina, belajar bahasa, supaya jangan sampai lima menit terbuang cuma gara-gara ganti shot," tukas dia.

Film ini diproduksi oleh Dienan Silmy dan Khrisna Wiyana di bawah atap Rumah Film dan Evergreen Pictures. Salman Aristo menjadi penulis dan sutradara. Selain Ringgo, aktor lain yang terlibat adalah Deva Mahenra, Adinia Wirasti, Ayushita, dan Donny Damara.

Satu Hari Nanti akan tayang perdana dalam program kompetisi Screen Awards di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada awal Desember 2017. Film juga akan ditawarkan ke beberapa distributor kawasan Asia.




 


(ELG)