LSF Ingatkan Khalayak soal Batas Usia Penonton Film

Purba Wirastama    •    07 November 2017 14:00 WIB
lembaga sensor film (lsf)
LSF Ingatkan Khalayak soal Batas Usia Penonton Film
Ilustrasi anak menonton (Foto: pixabay)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Ahmad Yani Basuki menyebut bahwa sensor film dan klasifikasi penonton belum cukup untuk melindungi khalayak dari potensi pengaruh negatif tontonan. Menurut dia, kontrol akhir berada di tangan khalayak sebagai penonton.

"Walaupun LSF sudah melakukan klasifikasi usia penonton, tapi di lapangan, pemahaman, kesadaran, dan kepedulian masyarakat untuk memilah dan memilih tontonan film sesuai kriteria umur, kami lihat memang masih rendah," kata Ahmad usai acara puncak Anugerah LSF 2017 di Balai Kartini Jakarta, Senin malam (6/11/2017).

"Terbukti, di beberapa gedung bioskop, anak-anak di bawah umur menonton film dewasa. Terlebih kalau kita melihat di rumah, di mana mereka menonton film atau tayangan lain berkategori film di televisi, tetapi kurang mempedulikan klasifikasi usia," imbuhnya.

LSF mengaku prihatin menghadapi situasi ini, menimbang dampak negatif yang sangat mungkin terjadi pada anak-anak usia sekolah. Apalagi, perkembangan teknologi komputer dan internet telah memberi ruang lebih luas bagi distribusi film dan tontonan. Misal video streaming yang dapat diakses kapan pun oleh siapa pun tetapi tanpa sensor.

Dengan pertimbangan ini, LSF membuat program kampanye bertema Sensor Mandiri, yang dijalankan selama masa kepengurusan 2014-2019. Pesannya jelas, yaitu bahwa pembuat film dan khalayak penonton diajak lebih serius dalam memperhatikan konten tayangan dan melakukan swa-sensor sesuai kategori usia penonton.

"Kami LSF memandang tidak cukup melaksanakan tugas kami (dengan) duduk di meja dan menyensor film semata. Kami merasa (perlu) hadir di tengah-tengah masyarakat untuk mengingatkan: Menonton (film) yang tidak sesuai klasifikasi usia itu sangat besar dampak (negatifnya)," kata Ahmad.

Secara teknis, LSF menularkan budaya Sensor Mandiri dengan cara sosialisasi kebijakan ke beberapa daerah di luar Jakarta. Menurut catatan di situs lsf.go.id, mereka juga membuka kantor perwakilan LSF untuk mempermudah pelayanan sensor.

Selain itu, LSF juga memakai pendekatan baru dalam proses sensor film. Dalam beberapa kesempatan, pengurus LSF menyebut bahwa sistem kerja mereka tak lagi sekadar potong-memotong konten, tetapi mengutamakan dialog sebagai proses pengambilan keputusan klasifikasi usia penonton.

Dalam lingkup seremonial, LSF juga mengadakan Anugerah LSF yang menurut rencana akan jadi agenda tahunan. Ajang penghargaan ini adalah bentuk apresiasi LSF bagi pembuat film atau distributor yang taat aturan dan secara khusus mengangkat nilai budaya lokal dalam konten tayangan.

Tahun ini, Anugerah LSF memberi apresiasi kepada sejumlah karya, seperti film Silariang, FTV Namaku Sugeng Rawuh, dan sinetron Para Pencari Tuhan.

"Mudah-mudahan (tahun depan) kami bisa memperluas aspek dan kriteria (penghargaan) karena kami yakin banyak yang telah berbuat terbaik dalam menyajikan, menontonkan, dan menyebarkan film yang dapat dinikmati," tukas Ahmad.

 
(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA