Film Indonesia Meramaikan Singapore Film Festival 2017

Purba Wirastama    •    21 November 2017 11:30 WIB
film indonesia
Film Indonesia Meramaikan Singapore Film Festival 2017
Film Sekala Niskala (The Seen and Unseen)

Singapura: Sebanyak 21 film Indonesia meramaikan gelaran Singapore International Film Festival 2017 yang akan berlangsung mulai akhir pekan ini hingga awal Desember. Ada delapan film panjang dan 13 film pendek dalam beberapa program, termasuk Sekala Niskala, Ruah, serta Joko  dalam sesi kompetisi.

Sekala Niskala  adalah film panjang kedua Kamila Andini sebagai sutradara. Film produksi Gita Fara dan Ifa Isfansyah ini telah tayang lebih dulu di beberapa festival, seperti Toronto, Busan, Tokyo, dan Australia. Dalam SGIFF, film ini bersaing dengan tujuh film panjang lain.

Ruah dan Joko diputar dalam sesi kompetisi film pendek bersama 14 film lain dari Asia Tenggara.

Ruah  atau The Malediction  merupakan film pendek garapan sutradara Makbul Mubarak, yang sebelumnya aktif sebagai kritikus film. Film ini meraih Piala Citra 2017 dalam kategori Film Pendek Terbaik dan juga diputar dalam program kompetisi Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016.

Joko  adalah debut film pendek sutradara Suryo Wiyogo, yang sebelumnya telah bergabung dalam tim produksi di beberapa proyek film panjang dan pendek. SGIFF adalah tempat film ini diputar perdana.

Tiga film panjang diputar dalam program non kompetisi. Ada hUSh  (Djenar Maesa Ayu, Kan Lume) di sesi Singapore Panorama. Dalam sesi Asian Vision, ada Posesif  (Edwin) dan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak  (Mouly Surya). Posesif  mengantarkan sutradara Edwin dan aktor Putri Marino meraih Piala Citra 2017.

Lalu ada program khusus untuk film-film Indonesia, yang dibuat dalam momen perayaan 50 tahun hubungan bilateral Singapura-Indonesia. Program ini menyorot praktik pembuatan film di Indonesia pasca-reformasi dan kejatuhan era Presiden Suharto. Sesi ini diadakan atas kerja sama dengan Badan Perfilman Indonesia dan kurator Adrian Jonathan Pasaribu.

Ada dokumenter unggulan Piala Citra Balada Bala Sinema  (Yuda Kurniawan), Sunya atau The Talisman  (Hari Suhariyadi), Ziarah: Tales of the Otherwords  (BW Purbanegara), dan Masean's Messages  (Dwitra J. Ariana).

Lalu ada lima film pendek dengan tema pertemuan kolektif, yaitu The Nameless Boy  (Diego Batara Mahameru), Sepanjang Jalan Satu Arah  (Bani Nasution), Pangreh  atau The Silent Mob (Harvan Agustriansyah), Mesin Tanah  atau Terra Machine  (Wimar Herdianto), dan Seorang Kambing  (Tunggul Banjaransari).

Terakhir ada enam film pendek yang mewakili semangat film akar rumput, yaitu Ijolan  (Eka Susilawati), Cermin  (Sarah Adilah), Urut Sewu Bercerita  (Dewi Nur Aeni), Menenggelamkan Mata  (Feranda Aries), Jalan Pulang  (Ignasius LW Somalinggi), serta Dewi Pulang  (Candra Aditya).

Tahun ini merupakan gelaran SGIFF ke-28. Festival berlangsung pada 23 November hingga 3 Desember 2017.


(DEV)