10 Ide Cerita Finalis Eagle Award 2017

Purba Wirastama    •    19 Juli 2017 13:09 WIB
eagle awards documentary competition
10 Ide Cerita Finalis Eagle Award 2017
Eagle Awards Documentary Competition 2017 (Foto: MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dewan juri Eagle Awards 2017 telah memilih 10 usulan cerita film dokumenter dengan tema Indonesia Cerdas. Selanjutnya, para finalis melakukan presentasi proposal di hadapan tiga juri lain, yaitu Yenny Wahid (Wahid Institute), Mudji Sutrisno (budayawan), dan Riri Riza (sutradara).

Dari situ, ketiga juri memilih lima usulan dengan ide paling kuat, signifikan, mendalam, serta memiliki potensi bercerita secara visual. Lima finalis akhir akan mendapat program bimbingan dan dukungan pendanaan untuk mewujudkan ide tersebut menjadi film dokumenter pendek berdurasi 20-25 menit.

Tahap presentasi 10 finalis telah dilakukan dan akan disiarkan kepada publik dalam program khusus Pitching Forum Eagle Awards di Metro TV pada Sabtu 29 Juli 2017 pukul 20.30 WIB. Lima proposal terpilih juga akan diumumkan dalam program ini.

Berikut gambaran cerita yang diajukan oleh 10 tim finalis, beserta isu dan subjek yang hendak mereka sorot, dirangkum dari paparan mereka sewaktu presentasi.


1. Kabut Asa Baling Karang

Pustaka Kampung Impian (PKI) adalah sekolah alternatif di Baling Karang, suatu kampung pedalaman berjarak 420km dari kota Aceh. Sejumlah relawan remaja menjadi guru membaca dan menulis bagi anak-anak, yang tidak mendapat pendidikan memadai di sekolah formal. Kebanyakan warga Baling Karang juga melakukan praktik penebangan liar hutan.

Ikhsan dan Nurhayatul Ulfa hendak memotret aktivitas sekolah alternatif tersebut lewat perspektif Rizky, murid sekolah formal dan PKI, serta Nurul, relawan guru PKI. Sorotan cerita adalah kurikulum PKI yang lebih terbuka terhadap kebutuhan masyarakat dan anak-anak. Salah satunya adalah pendidikan cinta lingkungan dan dampak buruk kerusakan hutan lewat pendekatan seni.


2. Aujat: Melawan Realitas

Andreas Aujat adalah pelajar sekolah menengah di Boven Digul, Papua. Karena kenakalan di masa lalu, dia kehilangan kepercayaan dan mendapat stigma buruk dari masyarakat. Akibatnya, dia menemui sejumlah hambatan ketika hendak mengenyam pendidikan. Sementara Aujat tetap bertekad untuk berubah dan bercita-cita menjadi guru.

Protus Hyasintus Asalang dan Handrianus Koli Basa hendak memotret aktivitas Aujat terkini, yang berhubungan dengan perjuangan dia untuk belajar, membantu keluarga dan orang sekitar, serta memperbaiki kesalahan masa lalu. Setiap anak memiliki hak sama untuk mengenyam pendidikan tanpa harus melihat sejarah dan latar belakang.


3. Gubuk Baca Gang Tato

Sebuah gang di desa Kemantren, Malang, yang dikenal dengan sebutan Gang Tato, mendapat stigma negatif selama empat generasi karena rantai kemiskinan dan tindakan buruk masa lalu. Lukas dan sekelompok pemuda bertato berupaya memutus stigma tersebut dengan membuat program swadaya pendidikan bagi warga setempat, terutama anak-anak.

Cut Febrina dan Risky Karina Putri hendak memotret aktivitas tersebut lewat perspektif Lukas dan Fahrul Alamsyah. Lukas adalah satu-satunya bekas preman yang memiliki pendidikan tertinggi setingkat SMK. Sementara Fahrul secara khusus mengarahkan para pemuda soal bagaimana cara berubah.

Selain pendidikan dasar, Lukas dan kawan-kawan membuat kelompok musik dan pelatihan pembuatan kerajinan. Menurut Lukas, mereka tidak ingin lebih baik dari orang lain, tetapi hanya ingin lebih baik dari diri mereka di masa lalu.


4. Di Atas Genteng

Desa Jatisura di Jatiwangi, Jawa Barat, telah dikenal sebagai desa penghasil utama genteng selama 112 tahun. Illa Syukrilah Syarief menjadi salah satu tokoh penting atas perkembangan desa tersebut. Dia menginisiasi program Jatiwangi Art Factory pada 2005, dengan misi utama memadukan kesenian lokal dan modern. Sejumlah kegiatan seni dan residensi seniman telah membuat warga berpikiran lebih terbuka dan kritis.

Ika Yuliana dan Sangga Arta Witama hendak memotret dinamika desa tersebut lewat perspektif Illa, atau biasa dipanggil Kadus Illa. Salah satu momen adalah ajang pemilihan kepala desa baru yang dikhawatirkan mengancam eksistensi genteng sebagai identitas asli desa tersebut. Pemerintah dinilai gagal memajukan desa karena hendak menggantikan produksi genteng dengan peternakan dan budidaya jamur, serta membiarkan pabrik pakaian masuk desa.


5. Mendengar Senyuman

Choky Suhendra, musisi penyandang tunanetra sejak 2009, membuat kegiatan ekstra-kurikuler teater di Panti Sosial Bina Netra Tan Miyat, Bekasi. Dia menjadi pengajar akting dan koreografi bagi para murid beragam usia yang juga tidak dapat melihat, bahkan sejak lahir. Berangkat dari pengalaman pribadi, seni peran dan ekspresi nonverbal digunakan sebagai jalan bagi para tunanetra untuk beradaptasi di lingkungan sosial, menerima kondisi fisik, serta menumbuhkan kepercayaan diri.

Carya Maharja dan Radisti Ayu Praptiwi hendak memotret salah satu dinamika kegiatan tersebut lewat perspektif Choky dan Husein, murid tunanetra baru di PSBN Tan Miyat. Choky berhasil meyakinkan Husein untuk tampil dalam pertunjukan teater. Kini mereka sedang berdiskusi soal cerita yang hendak diangkat. Bagi Carya dan Radisti, pendidikan seharusnya menciptakan ruang dialog setara antara pendidik dan yang dididik.


6. Perawat Huruf-Huruf Di Kampung Nelayan

Kampung Nelayan adalah pemukiman apung miskin di tepi laut Belawan, Sumatera Utara. Prostitusi, peredaran narkoba, dan hiburan malam merupakan hal lumrah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk anak-anak. Mereka enggan bersekolah dan lebih memilih mencari uang untuk bermain. Nyaris tak ada perhatian dari pemerintah maupun masyarakat sekitar. Arnilla, mahasiswa kedokteran dari kota, datang ke desa tersebut dan berupaya mengajar anak-anak sejak 2013.

Tantry Ika Adriati dan Yulien Lovenny Ester Gultom secara khusus hendak memotret perjalanan Arnilla dalam upaya membebaskan anak-anak dari lingkaran setan tersebut. Dia mendirikan pondok belajar di kampung nelayan dan berharap anak-anak memiliki pertimbangan moral yang lebih baik. Mereka juga remaja 12 tahun bernama Wahyu, yang lebih suka menyaksikan Kibor Bongkar, acara dangdutan di mana penyanyi melepas pakaian satu persatu di atas panggung.


7. Melukis Mimpi Anak TKI di Serawak Mayalsia

Anak-anak buruh sawit Indonesia di Sarawak, Malaysia, tidak dapat belajar di sekolah formal setelah mereka berusia 12 tahun. Menurut aturan hukum setempat, akses pendidikan bagi buruh migran hanya diberikan kepada anak-anak di bawah 12 tahun. Sejumlah buruh dan relawan membuat program sekolah nonformal Community Learning Centre (CLC). Namun 17 unit sekolah yang tersebar hanya mampu menampung sedikit murid.

Ineu Rahmawati dan Akad Syamifudin hendak memotret situasi tersebut lewat perspektif seorang relawan guru dan seorang murid 12 tahun bernama Icha. Icha adalah siswa berprestasi di CLC yang ingin menjadi guru tari. Dua kakaknya, tidak dapat melanjutkan pendidikan dan harus ikut menjadi buruh ladang di negeri tetangga.


8. Sekolah Kolong Tanpa Seragam

Pada 2004, Aco Mulyadi menggagas sekolah alam partisipatif bagi anak-anak korban konflik agraria di salah satu desa di Mamuju, Sulawesi Barat. Sekolah diadakan di berbagai tempat, meliputi kolong rumah, musholla, gereja, bantaran sungai, dan hutan. Mereka membuat kurikulum alternatif dan tetap berupaya mengikutsertakan para murid ke Ujian Nasional di sekolah terdaftar. Namun sekolah alam terancam hilang karena rencana pembangunan mega proyek bendungan.

Syamsudin dan Samsuddin hendak memotret dinamika sekolah alam lewat perspektif Aco, Eping, dan Abidin. Selain menggagas sekolah alternatif, Aco juga ikut berjuang mempertahankan tanah mereka. Eping adalah guru bantu hasil kaderisasi sekolah alam. Lalu Abidin adalah orangtua murid yang juga ikut terlibat dalam proses pengajaran di sekolah. Bagi mereka, tanpa tanah tempat tinggal, mereka tak punya kehidupan dan pendidikan.


9. Diaz, Membaca Orang Laut

Densy Diaz, 41 tahun, menjadi aktivis pendidikan di Pulau Penaah, Riau, dan sekitarnya sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2015, dia menginsiasi program Jembatan Ilmu Berantas Buta Aksara Suku Laut bagi orang-orang laut, termasuk anak-anak. Mereka ingin mengecap pendidikan formal, tetapi tidak mendapat kesempatan dan ruang yang sesuai dengan pola kehidupan mereka.

Muhammad Hasbi dan Muhammad Hasanul Asyary hendak memotret perjalanan Diaz beserta upaya dia menjalankan pendidikan dasar bagi para warga suku laut. Mereka juga hendak menyorot perjalanan Edi, kepala suku laut di Selat Konky dan ketua salah satu RT. Edi buta huruf dan menjadi murid di program sekolah Diaz. Bagi Hasbi dan Hasanul, suku laut tetaplah suku laut. Membuat mereka tinggal di darat dan memberikan pendidikan formal daratan bukanlah jawaban.


10. Lentera Di Pundak Ngatapapau

Dusun Ngatapapu di dataran tinggi Sulawesi Tengah memiliki tanah subur dan kekayaan alam. Namun mayoritas penduduk buta aksara. Lina, 22 tahun, lulusan SMP, mengabdikan diri menjadi pengajar sejak 2011. Sejumlah relawan dari Banua Pangajari juga membantu. Sofin, salah satu murid yang kemudian bisa membaca dan menulis, menularkan pengetahuan tersebut kepada ayahnya.

Lucky Arie dan Nur Muthiawati hendak memotret upaya pendidikan baca tulis di kampung tersebut lewat perspektif Lina dan Sofin. Aktivitas sekolah dilakukan di bangunan bekas gereja. Sejauh ini belum ada tenaga guru pengajar dari sekolah Inpres terdekat yang mau ikut mengajar. Lina sendiri mengajar 35 siswa yang sebenarnya terdaftar di sekolah formal, yang berjarak 1,5 - 2 jam dengan berjalan kaki.

 


(ELG)