Tiga Film Ini Bisa Anda Tonton di Sajian Pekan Budaya Iran 2018

Purba Wirastama    •    27 Juni 2018 09:16 WIB
film asing
Tiga Film Ini Bisa Anda Tonton di Sajian Pekan Budaya Iran 2018
Where Are My Shoes (via livelifeindo)

Jakarta: Festival Film Iran 2018 gelaran Kedutaan Besar Republik Islam Iran digelar selama tiga hari di Jakarta pada Selasa, 26 Juni hingga Kamis, 28 Juni. Festival ini, yang menjadi bagian dari Pekan Budaya Iran, menyajikan tiga film cerita bertema kekeluargaan peraih penghargaan di negara asalnya.

Ketiga film mendapat slot tayang masing-masing satu mulai pukul 19.00 WIB di bioskop XXI Plaza Indonesia. Tiket gratis dan tersedia di lokasi jelang pemutaran.

"Sebenarnya kami siapkan lima film, tetapi karena tempat terbatas, jadi harus tiga film ini," kata Duta Besar Iran untuk Indonesia Valiollah Mohammadi kepada Medcom.id di Plaza Indonesia, Selasa petang, 26 Juni 2018.

"Film-film ini berkenaan langsung dengan kehidupan masyarakat, di mana film-film ini mempromosikan nilai kemanusiaan, norma kemanusiaan, dan nilai kehidupan. Film-film ini berhubungan dengan pentingnya pertokohan di keluarga," imbuhnya.

Berikut sinopsis cerita dan informasi singkat tentang ketiga film tersebut. Rencananya, Kedubes Iran akan menjadikan Pekan Budaya Iran sebagai agenda tahunan di Indonesia.

1. Bodyguard (2016, Ebrahim Hatamikia)
 
Ketika sedang bertugas menjaga seorang politisi berpengaruh, seorang kepala keamanan menghadapi ancaman dari seorang pengebom bunuh diri. Ancaman itu pada akhirnya berhasil ditangani, tetapi memaksa dia untuk mengusut dampaknya, baik secara personal maupun profesional.

Film 17+ ini ditulis dan disutradarai oleh Ebrahim Hatamikia, sineas yang disebut punya pengaruh terhadap perfilman Iran era 1990-an. Bodyguard diganjar penghargaan aktor terbaik untuk Parviz Parastouee serta efek visual terbaik dari Fajr International Film Festival. Ebrahim juga menang sebagai sutradara terbaik dan penata artisktik terbaik di Vienna Independent Film Festival.




2. Crazy Castle (2015, Abdolhassan Davoudi)

Sekelompok pemuda anggota komunitas online menjelajah kota Tehran, mencari hiburan dengan mengerjai orang. Apa yang berawal dari lelucon, berkembang menjadi situasi rumit ketika mereka terjerat sebuah pemerasan. Pirooz yang sedang berduka, pecandu narkoba Madana, dan penghindar wajib militer Masood mencoba keluar dari situasi yang sulit ini, tetapi sisa-sisa masa lalu mereka kembali muncul.

Film 17+ ini memborong penghargaan Crystal Simorgh dalam Fajr International Film Festival atas film terbaik, sutradara terbaik, efek visual terbaik, aktris terbaik, naskah terbaik, penyuntingan terbaik, dan sinematografi terbaik.




3. Where Are My Shoes? (2016, Keyiumars Pourahmad)

Habib Kaveh mendapat diagnosa Alzheimer. Dia diasingkan oleh keluarganya, yang telah bermigrasi beberapa tahun sebelumnya. Suatu ketika, anak perempuan Kaveh kembali ke hidupnya. Sebuah rahasia pun terkuak.

Film 13+ ini diadaptasi dari novel Still Alice karya penulis Lisa Genova asal Amerika. Salah satu aktor utamanya, Reza Kianian, menjadi nomine peraih penghargaan Crystal Simorgh dalam Fajr International Film Festival.




(DEV)