Aruna dan Lidahnya, Jalinan Persahabatan di Atas Meja Makan

Cecylia Rura    •    31 Mei 2018 19:22 WIB
film indonesiaFilm Aruna dan Lidahnya
Aruna dan Lidahnya, Jalinan Persahabatan di Atas Meja Makan
Media Gathering film Aruna dan Lidahnya di Ecology, Kamis, 31 Mei 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Sutradara Edwin kembali berkolaborasi dengan rumah produksi Palari Films merilis karya baru diadaptasi dari novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak. Dalam bukunya, sang penulis mengajak pembaca untuk melihat sudut pandang berbeda terkait politik, isu sosial, sejarah lokal, serta kabar aktual terkait pemerintahan melalui dunia kuliner.

Laksmi mengambil sudut pandang tersebut dari tokoh utama Aruna, perempuan berusia 35 tahun berprofesi sebagai ahli wabah spesialisasi unggas (epidemiologist) yang juga terobsesi dengan makanan. Suatu waktu, Aruna ditugaskan menginvestigasi kasus flu burung di beberapa kawasan Indonesia.

Ia kemudian mengajak kedua temannya yang bersinggungan langsung dengan dunia kuliner, yaitu koki profesional Bono dan kritikus kuliner Nadezhda Azhari alias Nad. Kebetulan, Nad juga mempersiapkan tulisan untuk dibukukan. Ketiganya pun berpetualangan mencicipi aneka masakan nusantara.

Di tengah perjalanan, Farish, mantan rekan kerja Aruna diam-diam memantaunya. Mereka berempat dengan karakter yang berbeda spontan menjadi tim yang siap berwisata kuliner.

Aruna merupakan sosok yang polos dan sederhana, ditemani Bono yang santai dan suka mencoba hal baru, Nad sosok petualang yang terap bersikap elegan, dan Farish yang sebagai pribadi yang praktis. Keempatnya akan berkeliling ke empat kota di antaranya Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang.

Tak hanya menawarkan warna-warni kuliner beserta sudut pandang berbeda, konflik persahabatan di antara keempatnya ikut disinggung dalam film ini.

Titien Wattimena selaku penulis naskah menyeleksi bagian yang akan diangkat ke kanvas film. Menurutnya, ini menjadi tantangan khusus dan harus selektif dalam memilah esensi cerita yang diangkat.

"Tantangannya ketika kita harus memilha mana yang dipertahankan, mana yang kita kurangi. Habis itu kita pilih, yang pasti memilih ruang-ruang dan meletakkan kreativitas di dalamnya," ungkapnya dalam media gathering di kawasan Kemang, Jakarta, Kamis 31 Mei 2018.

Sementara sang sutradara, Edwin mengaku cerita ini menarik diangkat ke layar film karena bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

"Karena bukunya waktu saya baca mengingatkan ketika sangat senang mendengarkan orang ngobrol depan makanan. Rasanya kayak jadi teman dan seru saja melihat orang makan sambil ngobrol," kata Edwin.

"Dalam buku banyak momen-momen menarik. Yang sehari-hari kita suka makan dan selalu menyenangkan, membicarakan apa saja. Mulai gosip, politik, sampai hal pribadi. Itu buat saya pribadi salah satu materi yang bagus untuk diolah sinema," tambahnya.

"Pemikiran unek-unek soal makanan. Banyak makanan yang saya enggak tahu, saya pingin banget. Belum tentu semua orang bisa menikmati ragam makanan," tukasnya.

Edwin sebagai sutradara bergerak berdasarkan naskah yang juga dikemas oleh Titien Wattimena. Produser diduduki Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Aktor yang terlibat yaitu Dian Sastrowardoyo (Aruna), Nicholas Saputra (Bono), Hannah Al Rashid (Nad), dan Oka Antara (Farish).

Palari Films bekerja sama dengan GO-STUDIO Original, CJ Entertainment, Phoenix Films dan Ideosource Entertainment yang bergerak sebagai produser eksekutif.

Syuting film memakan waktu 25 hari. Rencananya, film Aruna dan Lidahnya siap tayang di bioskop pada akhir September 2018.



 


(ELG)