Kaleidoskop Perfilman Indonesia 2017

Purba Wirastama    •    27 Desember 2017 07:00 WIB
kaleidoskop film
Kaleidoskop Perfilman Indonesia 2017
Adegan film Pengabdi Setan yang menjadi film Indonesia terlaris 2017 (Foto: rapifilm)

Jakarta: Tahun baru 2018 di depan mata. Banyak proyeksi perfilman Indonesia yang telah menanti hari masing-masing untuk dikerjakan dan terjadi.

Namun 2017 juga punya beberapa riwayat penting untuk dikenang dan ditinjau ulang. Medcom.id merangkum sembilan hal yang terjadi selama 2017.

1. Film-film Horor Dapat Sambutan Hangat
Ada masa saat aliran film horor lokal lekat dengan citra 'sekadar jualan esek-esek' karena jumlahnya banyak dan cukup laris di peredaran bioskop. Jenis film horor ini kerap mendapat tanggapan negatif.

Setelah itu, minat penonton terhadap jenis film ini menurun dan produksinya berangsur berkurang. Pada 2017, jumlah film horor non-erotis mengalami kenaikan signifikan dan disambut hangat penonton.

Ini membuktikan aliran film horor, bahkan yang non-erotis, tetap mempunyai tempat di pasar. Danur: I Can See Ghosts adalah salah satu buktinya. Lalu disusul Jailangkung, The Doll 2, Pengabdi Setan, Mata Batin, dan Keluarga Tak Kasat Mata.

Pengabdi Setan bahkan mendapat tempat di ajang Festival Film Indonesia dan diunggulkan di kategori Film Terbaik. Sangat jarang, atau bahkan tak pernah, film horor domestik diakui oleh festival ini.



2. Kisah Lama Diangkat Kembali
Old but gold. Kisah dari sejumlah film populer era lama, satu dekade atau lebih, diceritakan kembali untuk layar lebar dengan kemasan terkini. Ada yang mampu bersaing, ada pula yang tak sesuai harapan.

Sebut saja Galih & Ratna, Jailangkung, Jomblo, Lima Cowok Jagoan, dan  Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2. Lalu ada yang kembali sebagai proyek sekuel, seperti Ayat-ayat Cinta 2.

Ini belum termasuk proyek yang masih dalam tahap produksi atau pasca-produksi. Misal Wiro Sableng, Keluarga Cemara, Eiffel I'm in Love 2, dan Benyamin Biang Kerok.

Penampakan Wiro Sableng di Film Versi Baru

3. Kontroversi Posesif di FFI
Festival Film Indonesia membawa lagi pembaruan mendasar terkait penjurian. Seluruh proses seleksi, mulai dari pemilihan unggulan hingga penentuan pemenang, diserahkan ke asosiasi atau komunitas film yang dianggap mewakili ekosistem perfilman.

Tak ada lagi sistem pendaftaran. Tiap organisasi mengajukan film layak nominasi dengan supervisi panitia pusat. Penyerahan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) tak lagi jadi kewajiban awal karena pihak produser juga tak mendaftar.

Film Posesif, yang lebih dahulu masuk nominasi sebelum STLS-nya disahkan Lembaga Sensor Film, dipersoalkan sejumlah kalangan. Masuknya film ini ke FFI dianggap telah melanggar hukum negara.

Sempat beredar di kalangan wartawan, naskah petisi berisi mosi tidak percaya terhadap kinerja panitia FFI. Tak hanya mempersoalkan Posesif, petisi juga menyorot beberapa hal yang dinilai sebagai cacat FFI.

Kontroversi Film Posesif di FFI 2017 dan Status Sensor


4. Wajah-wajah Baru di FFI
FFI atau Piala Citra 2017 menghadirkan wajah-wajah 'baru' dalam perfilman domestik. Ini cukup meredam salah satu anggapan bahwa film Indonesia isinya itu-itu saja.

Putri Marino, lewat debut di film Posesif, menang sebagai Aktris Terbaik. Edwin, yang sebelumnya lebih dikenal di jalur 'arthouse', menang sebagai Sutradara Terbaik lewat Posesif, film komersial pertamanya.


Putri Marino (Foto: medcom/purba)

Lalu ada Muhammad Adhiyat, aktor anak pendatang baru yang menang lewat Pengabdi Setan. Night Bus, Film Terbaik, adalah karya perdana dari produser dan rumah produksi baru. Ernest Prakasa, komika yang terjun ke produksi film, mendapat pengakuan dalam penulisan skenario.


5. Film Indonesia di Pasar Internasional
Sejumlah film produksi domestik berkelana di negara lain lewat festival film dan peredaran bioskop. Misal Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, The Seen and Unseen, Turah, Ziarah, dan Istirahatlah Kata-kata.

Itu baru film cerita panjang, belum film dokumenter atau film pendek, seperti Ruah, Joko, dan Balada Bala Sinema.

Tak hanya festival, sejumlah film juga diedarkan ke jaringan bioskop negara-negara lain. Misalnya The Doll 2, Pengabdi Setan, dan Marlina.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival, satu festival film internasional yang berbasis di Yogyakarta, juga memiliki program kompetisi baru khusus bagi film Indonesia. Pembaruan ini meningkatkan apresiasi bagi film-film produksi domestik.


6. Forum Pendanaan Film
Sokongan biaya produksi film menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi para pembuat film. Pada 2017, setidaknya sudah ada dua program yang hendak menjawab tantangan ini.

Ada Akatara Indonesian Film Financing Forum dari  Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Setiap tahun, forum menerima proposal proyek yang akan diseleksi dan difasilitasi untuk mendapat dukungan pendanaan dari sejumlah mitra.

Kemudian ada Good Pitch, program jejaring film dokumenter dari Eropa yang membuka koneksi baru di Asia Tenggara mulai 2017. Program ini dikelola oleh In-Docs dan Jia Foundation. Satu proyek dari Indonesia yang mendapat fasilitas untuk tahun ini adalah Song for My Children.


7. Indonesia Tuan Rumah Lokakarya Film ASEAN
ASEAN-ROK Cooperation Fund serta Busan Film Commission dan Asian Film Commissions Network punya program lokakarya tahunan bagi pembuat film kawasan Asia Tenggara. Program ini bernama Film Leadership Incubator atau FLY.

Pada 2017, Indonesia menjadi tuan rumah untuk gelaran FLY ke-6. Kegiatan dipusatkan di Yogyakarta dan melibatkan 22 pembuat film dari 11 negara yang dibimbing oleh mentor dari Korea dan Indonesia. FLY juga menjalin kerjasama dengan JAFF untuk eksibisi film pendek hasil lokakarya.

Direktur Busan Film Commission Choi Yoon (tengah) bersama mentor dan panitia Film Leadership Incubator 2017 (Foto: Medcom/Purba)


8. Kontroversi Film Berbalut Tuduhan Religius
Protes ke pembuat film terkait muatan film yang dianggap menghina agama memang bukan cerita baru. Tahun ini, ada setidaknya dua film tersandung masalah serupa, yaitu Bid'ah Cinta serta Naura & Genk Juara.

Bid'ah Cinta mendapat kontroversi karena penggalan cerita yang diangkat, yaitu kisah asmara lelaki dan perempuan dari dua keluarga Islam paham puritan dan tradisional. Pihak protes menyebut film ini dapat menyebarkan paham bid'ah. Produser menyebut film ini berbasis riset atas fakta sosial sehari-hari.

Naura & Genk Juara dituding telah menista agama karena salah satu tokoh antagonis digambarkan dalam sosok dengan berewok dan seruan takbir. Penyebar opini di media sosial menyebut film ini menebar kesan bahwa orang beragama Islam adalah penjahat.

LSF Tegaskan Film Naura Tidak Menistakan Agama

Faktanya, protes ini didasarkan pada tuduhan palsu. Selain ungkapan kaget berbahasa Arab, tidak ada seruan takbir yang muncul di film. Lebih ironis lagi, beredar video rekaman bioskop di media sosial, dengan suara takbir yang ditambahkan oleh si perekam.

9. Akumulasi Jumlah Penonton Tinggi
Pada 2016, akumulasi jumlah penonton untuk 10 film terlaris mencapai angka 27 juta orang. Jumlah ini meningkat drastis daripada tahun sebelumnya.

Pada 2017, jumlah total ini cukup terjaga dengan total penjualan tiket bioskop jaringan mencapai 20 juta lembar untuk 10 film terlaris. Jika Ayat-ayat Cinta 2, Susah Sinyal, Surat Cinta untuk Starla, dan Si Juki the Movie juga laris, angka ini bisa bertambah.

10 Film Indonesia Terlaris 2017

Situs FilmIndonesia.or.id juga punya data yang lebih lengkap. Dalam kurun 1 November 2016 hingga 31 Oktober 2017, akumulasi jumlah penonton untuk semua film adalah 39.574.947. Hingga akhir Oktober sudah ada 1.386 layar bioskop jaringan di Indonesia.

 
(ELG)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

4 days Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA