Garin Nugroho Angkat Kisah Pesugihan dalam Film Setan Jawa

Agustinus Shindu Alpito    •    22 Agustus 2016 15:38 WIB
film indonesia
Garin Nugroho Angkat Kisah Pesugihan dalam Film Setan Jawa
(Foto: Metrotvnews.com/ Agustinus Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pesugihan atau cara menjadi kaya lewat bantuan gaib, cukup akrab dengan tradisi masyarakat Jawa.

Bahkan, di dunia yang kian modern, cerita-cerita pesugihan tetap saja eksis. Sutradara Garin Nugroho menangkap fenomena pesugihan ke layar lebar, lewat film terbaru yang berjudul Setan Jawa.

Film ini terbilang spesial, karena menjadi film bisu pertama yang diproduksi sineas Indonesia dan dijadwalkan tayang di berbagai festival seni di dunia. Sejauh ini, setidaknya sudah enam negara menyatakan niat menayangkan Setan Jawa.

Layaknya film bisu pada era 1920an dan 1930an, musik pengiring film dilakukan oleh kelompok orkestra.

Dalam penayangan perdana di Gedung Teater Jakarta, pada 3 dan 4 September mendatang, musik pengiring Setan Jawa diserahkan kepada kelompok gamelan asuhan Rahayu Supanggah. Rahayu merupakan maestro gamelan yang sudah berpengalaman dan telah menggelar pertunjukkan gamelan di tingkat internasional. Ini merupakan kolaborasi kedua Garin dengan Rahayu, setelah pentas Opera Jawa.

Untuk pemutaran di negara lain, Garin mengajak musisi setempat untuk berkolaborasi, menginterpretasi film Setan Jawa dan menerjemahkannya ke dalam musik.


"Di Australia, kami bekerja sama dengan Melbourne Symphony Orchestra untuk mengiringi Setan Jawa, lalu di Zurich akan kolaborasi dengan DJ (Disc Jockey), di Filipina akan kerjasama dengan musisi rock. Sudah ada 6 negara yang tertarik dengan film ini," tukas Garin dalam jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Senin (22/8/2016).

Setan Jawa menceritakan karakter bernama Asih (Asmara Abigail) yang hidup di awal abad ke-20. Dia adalah sosok perempuan Jawa dari keturunan ningrat.

Asih memiliki kekasih, namun karena sang kekasih bukan seorang yang kaya, orangtua Asih melarang hubungan cinta mereka berlanjut. Akhirnya, kekasih Asih memutuskan mencari pesugihan agar mampu mengangkat derajat ekonominya.

Pesugihan Kandang Bubrah yang dipilih jadi awal prahara hubungan mereka. Asih yang mengetahui kekasihnya ikut pesugihan segera memohon kepada setan agar kekasihnya tidak menjadi tumbal. Setan setuju dengan permohonan Asih. Namun, setan itu memberi syarat yang cukup sulit bagi Asih.

Setelah tayang perdana di Jakarta, Setan Jawa akan diboyong ke Australia untuk ditayangkan dalam Opening Night of Asia Pacific Triennal of Performing Arts di Melbourne pada Februari 2017.

Sadiah Boonstra, perwakilan dari Arts Centre Melbourne menegaskan, film Setan Jawa sangat menarik dari segi seni kontemporer. Hal itu yang membuat pihaknya meminang Garin untuk memutar film ini dalam festival seni bergengsi di Melbourne.

"Mengapa proyek ini menarik, karena kami fokus pada kolaborasi seni dari Asia Pasifik, inovasi seni, interkultural dan kolaborasi. Dalam hal ini Setan Jawa memenuhi aspek penggabungan seni, mulai dari tari, musik, dan menggabungkan masa lalu dan masa kini," kata Sadiah.

Seperti dalam mengerjakan film-film lainnya, Garin mengedepankan riset yang mendalam. Untuk Setan Jawa dirinya sempat melakukan riset tentang lukisan bertema mistik yang berkaitan dengan ritual pesugihan.

"Saya meriset seni visual karya Cipto Waluyo, pelukis pesugihan di era 1940-an. Di Jawa, di pasar mistik masih ada yang menjual lukisan pesugihan, misal lukisan kuda menghadap ke kanan, sampai sekarang masih ada."


"Saya juga riset sejarah magic realism di Bali dan Jawa pada era 1920-an dan 1930-an. Tentang arti dan simbolnya. Salah satunya tentang mengapa masyarakat Jawa suka pelihara bulus (kura-kura) dan kepiting," kata Garin.

Informasi dan tiket film Setan Jawa untuk penayangan di Gedung Teater Jakarta dapat diakses melalui www.setanjawamovie.com, www.blibli.com, dan Go-Tix.

Tiket dijual dalam empat kategori, yaitu VIP Rp1 juta, Gold, Rp700 ribu, Silver Rp450 ribu, dan Bronze Rp250 ribu.


(DEV)