Delapan Naskah Film Domestik Pilihan Salman Aristo

Purba Wirastama    •    27 Februari 2018 16:49 WIB
salman aristotrivia film
Delapan Naskah Film Domestik Pilihan Salman Aristo
Salman Aristo (Foto: MI/Ramdani)

Jakarta: Salman Aristo memiliki dedikasi khusus terhadap penulisan naskah film. Tak hanya terlibat dalam proyek produksi film drama, Aris juga berbagi ilmu menulis skenario lewat program lokakarya yang dimulai sejak 2009.

Dia telah ikut menulis 20-an naskah film produksi. Sebagian yang mengemuka antara lain Jomblo (2006), Laskar Pelangi (2008), Garuda di Dadaku (2009), Jakarta Maghrib (2010), Sang Penari (2011), Athirah (2016), dan Bukaan 8 (2017). Film-film ini punya penggemar masing-masing.

Namun, apa saja film domestik favorit Aris?

"Semua yang ditulis oleh Asrul Sani. Jelas banget, dewa gue adalah Asrul Sani karena gue belajar dari skenario-skenario dia," kata Aris kepada Medcom.id, yang mengaku belajar menulis otodidak lewat katalog skenario Asrul di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail Jakarta.

"Gue belajar struktur, kedalaman, skenario itu apa, dari semua skenario Asrul Sani yang ada di PPHUI. Konon kabarnya semua (naskah Asrul) ada di situ (...). Sepotong kalimat dari dia bisa menginspirasi gue puluhan tahun," imbuhnya.

Kami secara spesifik menanyai film favorit Salman yang dirilis dalam satu dekade terakhir. Berikut daftarnya.

1. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya, Rama Adi & Garin Nugroho, 2017)

Marlina the Murderer in Four Acts (cinesurya)

"Sebentar sebentar, kalau ditanya begini kok hilang dari kepala gue. (Bukan karena kurang berkesan), justru banyak."

"Marlina!" ucap Aris.

2. Posesif (Edwin – Gina S Noer, 2017)

Posesif (palari films)

"Terlepas dari yang menulis siapa (Gina adalah istri Aris), Posesif gue suka banget. Ini yang terakhir nempel di kepala."

3. Istirahatlah Kata-kata (Yosep Anggi Noen, 2016)


"Nah, baru kebuka kan (ingatannya)."

4. Ziarah (BW Purba Negara, 2016)

Ziarah (Foto: Purbanegara Films)

"Ziarah-nya Popo (panggilan akrab BW), gue suka banget."

5. Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, 2016)

Turah (fourcolours films)

"Gue suka banget skenarionya."

6. Siti (Eddie Cahyono, 2014)

Siti (fourcolours films)

"Gue suka banget Siti."

7. My Stupid Boss (Upi - Chaos@work, 2016)

My Stupid Boss (falcon pictures)

"(Dari studio besar), My Stupid Boss, gue suka skenarionya."

8. Dilan 1990 (Fajar Bustomi – Pidi Baiq & Titien Wattimena, 2018)

Dilan 1990 (max pictures)

"Dilan, dalam cara tertentu gue suka. Ada sihir tertentu dalam penulisannya."

"Apalagi ya... Itu sih yang terpikir, top of mind," tukas Aris.

 


(ELG)