Cerita Rizal Mantovani Soal Asal Usul Judul Film Kuldesak

Cecylia Rura    •    20 Desember 2018 17:31 WIB
film indonesia
Cerita Rizal Mantovani Soal Asal Usul Judul Film Kuldesak
Poster Kuldesak (kiri) dan foto empat sutradara Kuldesak (Foto: Dok. Tim Kuldesak)

Jakarta: Kuldesak adalah judul film yang lahir pada era reformasi dan jadi bagian dari generasi baru sineas Indonesia. Ide Kuldesak sendiri berangkat dari Rizal Mantovani, satu dari empat sutradara film Kuldesak.

"Kita waktu itu ketemuan dan membahas bagaimana arahnya, mau ke mana, tapi yang penting spiritnya. Kami merasa sedang menghadapi sebuah jalan buntu dengan aturan yang diberikan kepada pembuat film," kata Rizal di kawasan Epicentrum Jakarta, Rabu, 19 Desember 2018.

"Kebetulan saya background-nya arsitek dan mengenal istilah 'kuldesak' sebagai jalan buntu," imbuhnya.

Film ini merupakan hasil kerja kolektif secara sukarela. Menarik, ketika mengetahui semua yang terlibat tak dibayar. Sponsor film Kuldesak saat itu datang dari perusahaan rokok. Untuk penayangan film bahkan Mira Lesmana langsung menembak pihak XXI tanpa melalui distributor.

Meski ternyata memiliki makna mendalam sekaligus representasi kondisi dunia perfilman saat itu, beberapa kru film Kuldesak tak tahu arti di balik nama tersebut.

"Kru kami karena tahu ini semua harus dilakukan tidak dibayar mereka kemudian menyebutnya dengan 'kulakukan dengan terdesak' (disingkat jadi 'Kuldesak')," kelakar Mira.

Merayakan dua dekade perilisan Kuldesak, Rizal Mantovani, Mira  Lesmana, Nan T. Achnas, dan Riri Riza kembali menayangkan Kuldesak dalam layar terbatas selama satu hari, pada 30 Desember 2018.

Kuldesak yang akan ditayangkan nanti hasil digitalisasi dari materi asli yang disimpan dalam bentuk pita seluloid. Pemutaran terbatas dilakukan di sembilan kota, Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Semarang, Solo, Padang dan Makassar.

Pada saat rilis perdana, 27 November 1998 Kuldesak dirilis perdana di tiga bioskop di Jakarta dan bertambah satu layar di Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Total dari enam layar tersebut sukses menarik 100 ribu penonton, dapat dikatakan masuk kategori box office pada saat itu.

Kuldesak juga diadaptasi ke bentuk buku yang tidak dijual secara bebas. Buku berjudul 20 Kuldesak itu memiliki jargon, berjejaring, bersiasat, bergerak, dan berontak. Buku ini dikonsep dan disunting Mirwan Andan disertai foto adegan dan jepretan belakang layar.

Buku itu juga didistribusikan kepada BEKraf dan Kemendikbud masing-masing 100 eksemplar untuk disebarkan kepada beberapa perpustakaan di daerah. Tim Kuldesak membuka donasi dengan imbalan buku tersebut,  dengan harga Rp750 ribu ke atas. 
 


(ASA)