Sutradara Jelaskan Akhir Cerita Film Glass

Purba Wirastama    •    21 Januari 2019 15:01 WIB
film hollywood
Sutradara Jelaskan Akhir Cerita Film Glass
Tiga karakter utama film Glass, Mr Glass (kiri), Kevin Wendell Crumb (tengah) dan David Dunn (kanan) (Foto: Universal)

California: Artikel ini mengandung bocoran cerita besar dari film Glass.

Sutradara, penulis, dan produser M Night Shyamalan menutup trilogi Unbreakable dengan film Glass yang kini sedang tayang di bioskop puluhan negara. Film ketiga ini punya akhir cerita mengejutkan karena seolah menjadi peletak dasar cerita baru untuk menjadi waralaba jagat fiksi superhero, tetapi dengan cara tidak biasa. 

Glass adalah kisah pertemuan tiga tokoh utama dari Unbreakable (2000) dan Split (2016) dengan karakteristik masing-masing. David Dunn (Bruce Willis) tidak bisa terluka dan bisa melihat masa lalu lewat objek. 

Elijah Price alias Mr Glass (Samuel L Jackson), yang membantu David menemukan jatidiri, adalah otak di balik sejumlah pembunuhan massal dan orang dengan penyakit tulang rentan retak. Kevin Wendell (James McAvoy) adalah pegawai kebun binatang yang punya 24 kepribadian berbeda yang mampu mengubah tubuhnya. 

Dalam Split, ketiga tokoh utama ini meninggal. Elijah Price dibunuh oleh Kevin yang hendak membalaskan kematian sang ayah. Kevin dan David dibunuh oleh organisasi rahasia yang hendak merahasiakan informasi dari publik, bahwa ada orang-orang dengan kemampuan super seperti mereka.

Namun, video dari Elijah sudah terlanjur tersebar ke publik. Video ini menampilkan Kevin dan David yang menggunakan kekuatan super mereka. Dalam akhir film, ibu dari Elijah berkata bahwa jagat baru telah lahir karena manusia super menyadari eksistensi manusia super lain. 

Akhir cerita ini seperti memberi pintu bagi pengembangan film, tetapi tanpa tokoh utama yang bertahan hidup. 

Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, sineas keturunan India ini menyebut bahwa dia sudah punya rencana akhir cerita demikian sejak mengerjakan film pertama, Unbreakable yang dirilis 19 tahun silam. Bagi Shyamalan, format cerita ini seperti sebuah opera.

"Aku sudah punya rencana itu. Aku selalu merasa ini sedikit mirip dengan sebuah opera, bahkan ketika aku mulai mengerjakan Unbreakable. Aku rasa ini sangat operatik ketika ceritanya berakhir dengan orang-orang yang berteriak serta segala macam maksudnya," tutur Shyamalan.

"Ini semua lebih soal implikasi ketimbang apapun. Aku penggemar berat One Flew Over the Cuckoo's Nest, mungkin kalian sudah tahu. Format film itu benar-benar mengejutkan aku ketika menontonnya. Ide bahwa perjalanan karakter utama dipenuhi oleh karakter lain adalah ide yang sangat kuat," lanjutnya. 

Kendati Glass berpotensi dilanjutkan ke film-film berikutnya, Shyamalan lebih memilih untuk membuat film dalam jagat fiksi lain. 

"Aku punya banyak kisah asli untuk diceritakan," ungka pria kelahiran 1970 ini.

"Aku adalah pembuat film asli dan aku ingin tetap menceritakan kisah baru dan karakter baru. Aku senang memahami bahasa baru, belajar dari situ, dan mencoba membuat penonton dalam dua jam untuk belajar, menerima ceritanya, dan sampai ke sana," tukasnya. 

Glass dirilis perdana di bioskop puluhan negara sejak pekan lalu. Hingga Minggu, 20 Januari 2019, Glass meraup pendapatan kotor sekitar USD89 juta atau Rp1,26 triliun.

 


(ASA)