Cerita Hanif Thamrin, Dulu Diremehkan Kini Kisahnya Diangkat ke Film

Cecylia Rura    •    12 Mei 2018 07:00 WIB
film indonesiaHanif Thamrin
Cerita Hanif Thamrin, Dulu Diremehkan Kini Kisahnya Diangkat ke Film
Hanif Thamrin. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Jurnalis Hanif Thamrin sempat mengalami stigmatisasi dari rekan kerja jurnalis ketika ia bermukim di Inggris. Hal itu dirasakan ketika ia pertama kali bekerja sebagai International Content di Manchester City Football Club.

"Ketika pertama kali kerja di Manchester City ada stigma di lingkungan kerja saya bahwa orang Indonesia itu secara kualitas enggak sama dengan wartawan di Eropa. Sehingga ketika saya mendapatkan pekerjaan atau tugas spesifik, rasanya enggak dipercaya. Nah, itu butuh proses, butuh waktu untuk meyakinkan mereka kalau orang Indonesia itu juga sama, kok," cerita Hanif saat memperkenalkan karya bukunya yang diangkat ke layar lebar di Oreima Films, Jakarta Selatan, Jumat, 11 Mei 2018.

"Kita juga punya sama kualitas yang bagus. Perjalanannya, orang Inggris enggak negur, wartawan Inggris enggak anggap saya matters, pekerjaannya yang dikasih yang ringan-ringan saja. Sampai akhirnya saya bisa mendapatkan kesempatan sama seperti yang lainnya. Mulai dari cover conference press, waktu itu wawancara manajer langsung, ambil reaksi dari pemain, selesai pertandingan pada saat itu."

Saat akan bertolak ke Indonesia, Hanif menyempatkan diri untuk tetap menjaga komunikasi baik dengan para pemangku tanggung jawab media di beberapa klub sepak bola Inggris bergengsi.

"Di akhir masa saya di Inggris sebelum pulang ke Indonesia saya sempat Skype dengan seluruh kawan-kawan yang ada di klub premier Inggris yang besar. Saya Skype dengan yang tanggung jawab di medianya Liverpool, Arsenal, Chelsea, Tottenham, sama Manchester United."

Rupanya, Hanif baru mengetahui bahwa dia adalah orang Indonesia pertama yang berada pada posisi tersebut.

"Di situ saya terkejut karena tenyata yang ngerjain medianya mereka untuk pasar Indonesia itu semuanya bule. Di situlah saya tahu, oh baru saya ternyata yang bekerja seperti ini dengan kesempatan seperti ini. Yang lainnya, benar-benar mereka hanya translate dan mereka enggak kasih kesempatan orang Indonesia untuk bisa interaksi sama pemain-pemain, sama manajer, sama apa yang terjadi di belakang layar," katanya.

Hanif sendiri merupakan lulusan Universitas Padjadjaran Strata-1 jurusan Hukum. Ia kemudian bekerja di tiga stasiun televisi swasta. Sampai akhirnya, jurnalis berusia 32 tahun itu mendapatkan kesempatan untuk mengambil kuliah master di Goldsmiths, University of London.

Menjelang kelulusannya, Hanif berkesempatan untuk magang di kantor BBC. Pengalaman yang panjang di industri media Indonesia tampaknya membuat Hanif pesimistis untuk kembali pulang, sehingga ia bertekad untuk mengadu nasib di Inggris dengan sisa visa yang dimiliki.

Ia kemudian diterima di Manchester City sebagai International Content Producer. Hanif pun sempat mencicipi posisi sebagai Direktur Hubungan Internasional dan Media PSSI. Namun, karena satu lain hal dan tak berjodoh ia kembali bekerja di Manchester City F. C. dari Indonesia.

Kisahnya ini kemudian ditulis dalam sebuah buku berjudul Pemburu di Manchester Biru. Sutradara Rako Prijanto kemudian tertarik untuk mengangkat film ini dengan tidak mengubah judul aslinya.

Pemburu di Manchester Biru mulai melakukan syuting pada Mei hingga Juli mendatang. Latar tempat sebagian besar diambil di Inggris. Sudut pandang cerita tetap diambil dari sisi Hanif Thamrin. Selain sebagai penulis cerita asli, Hanif juga berperan sebagai produser menemani Reza Hidayat. Film ini diproduksi oleh Oreima Films.

Pemburu di Manchester Biru rencananya ditayangkan pada Desember 2018.

 


(ELG)

Produser The Rolling Stones Percaya Dangdut Mampu Mendunia

Produser The Rolling Stones Percaya Dangdut Mampu Mendunia

6 hours Ago

Seperti yang dikatakan Rhoma Irama lewat lagu Viva Dangdut, "Dunia pun berdangdut, dunia k…

BERITA LAINNYA