Ulasan Film Deadpool 2

Purba Wirastama    •    16 Mei 2018 10:07 WIB
film hollywoodmarvel cinematic universe
Ulasan Film Deadpool 2
Deadpool 2 (Foto: 20th Century Fox)

LEWAT film pertama, kita sudah tahu bahwa Deadpool adalah film dewasa dengan genre laga fantasi penuh darah dan kekerasan, serta genre komedi dengan ragam lawakan meta yang keluar dari "dinding keempat" dunia fiksinya.

Dalam film kedua, sajian tersebut semakin dipertebal dengan kehadiran tokoh-tokoh baru yang lebih banyak, dari besar sampai kecil. Patuhilah kategori 21+ dari LSF dengan tidak membawa anak dan remaja menonton film ini.

Bagi yang suka dan terhibur dengan metajokes, di mana Wade Wilson alias Deadpool (Ryan Reynolds) sangat sadar dirinya adalah tokoh fiksi dan membuat lelucon atas itu, dijamin akan kenyang. Apalagi jika referensi budaya pop kalian cukup luas atau setidaknya pernah menonton film-film X-Men dan Avengers. Sama seperti film pertama, Logan alias Wolverine mendapat tempat utama dalam materi lelucon.

Hubungan Wade dan kekasihnya Vannesa (Morena Baccarin) mendapat porsi cukup banyak. Wajah Wade masih penuh bekas luka bakar dan tubuhnya, lewat mutasi genetika, masih dikutuk tidak bisa mati meski kanker stadium IV menggerogoti. Alur kisah personal ini membuat Wade jatuh pada kesedihan mendalam sekaligus membuat penonton punya satu hal emosional untuk diperhatikan. Ditambah lagi Cable (Josh Brolin), yang datang membawa kisah kelamnya sendiri.

Karena itu, karakter Wade yang banyak bicara dan hampir selalu bercanda tampak sangat beralasan. Selain demi bumbu yang membuat film tidak terlalu berat, humor adalah cara Wade berhadapan dengan berbagai derita yang dialami. 

Pada saat bersamaan, aksi laga dengan kekerasan yang lebih ganas mewarnai perjalanan cerita. Elemen ini datang baik dari Wade, kawan-kawan barunya di tim X-Force yang direkrut oleh Weasel (TJ Miller), Cable, maupun mutan kecil bermasalah bernama Russel (Julian Dennison). Formula humor khas Deadpool setidaknya turut berguna di sini, yaitu menarik kembali penonton kepada kesadaran mengenai statusnya sebagai kisah fiksi.

Deadpool 2, lewat metajokes, juga kembali melabeli diri sebagai film "kelas dua" dibanding dengan film-film superhero komik lain yang lebih serius. Dalam standar formula dan kekhasan yang dibawa, Deadpool 2 masih menunjukkan diri sebagai yang terbaik. 

Sayangnya, ada jalinan yang terasa kurang mantap antara elemen drama Wade, elemen lagakekerasan, serta elemen humor. Setiap elemen menonjol, tetapi perpaduan ketiganya masih kurang kuat dibanding film pertama. Ada beberapa bagian cerita yang terasa tidak terkontrol dengan rapi. 

Deadpool 2 mengantar penonton kepada pertunjukan laga fantasi penuh kekerasan dan suasana depresi yang mungkin terjadi di sinema. Namun film ini juga bertanggung jawab atas fantasi itu karena pada saat bersamaan, menyadarkan penonton kepada kenyataan bahwa ini hanyalah pertunjukan audio visual serba rekayasa. 


Deadpool 2   
Sutradara: David Leitch   
Penulis naskah: Ryan Reynolds, Paul Wernick, Rhett Reese, Rob Liefeld, Fabian Nicieza   
Produser: Ryan Reynolds, Simon Kinberg, Lauren Shuler Donner   
Durasi: 119 menit   
Kategori LSF: 21+   





(ASA)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

3 days Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA