Hashti Tehran Jadi Film Terbaik di Festival Arkipel 2017

Purba Wirastama    •    27 Agustus 2017 15:13 WIB
arkipel
Hashti Tehran Jadi Film Terbaik di Festival Arkipel 2017
Arkipel 2017 (Foto: dok. Arkipel)

Metrotvnews.com, Jakarta: Festival film internasional Arkipel #5 secara resmi telah berakhir dengan seremoni penghargaan di GoetheHaus Menteng, Jakarta, pada Sabtu (26/8/2017) malam. Hashti Tehran, film garapan sutradara Jerman Daniel Kotter tentang potret pembangunan kota Tehran di Iran, unggul sebagai film terbaik utama dan diganjar Arkipel Award 2017.

Arkipel, atau Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, merupakan ajang tahunan yang digagas oleh Forum Lenteng sejak 2013. Tujuannya adalah membaca fenomena global dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan budaya melalui sinema. Ada sejumlah sesi pemutaran dan diskusi, termasuk kompetisi film.

Arkipel Award sendiri adalah satu dari empat kategori penghargaan yang disiapkan oleh festival untuk film-film peserta kompetisi. Selain itu, ada Jury Award, Peransi Award, dan Forum Lenteng Award. Film kompetisi dinilai oleh lima anggota dewan juri, meliputi Hafiz Rancajale (Indonesia), Jean-Marie Teno (Kamerun), Zbynek Baladran (Ceko), Andres Denegri (Argentina), serta Fang-Tze Hsu (Singapura).

Total ada 31 film dari 15 negara yang masuk ke program kompetisi Arkipel 2017. Finalis tersaring dari sekitar 1700-an film pendaftar. Dua di antaranya berasal dari Indonesia, yaitu Turah  garapan Wicaksono Wisnu Legowo serta Welu de Fasli garapan Wahyu Utami Wati dan Ishak Iskandar.

Berikut adalah daftar film pemenang dalam keempat kategori, beserta gambaran singkat masing-masing film.

1. Peransi Award

Peransi Award diberikan kepada karya sinematik yang secara istimewa dan segar telah melakukan eksperimentasi berbagai kemungkinan pendekatan pada aspek medium dan sosial. Kategori ini secara khusus menyasar pembuat film berusia muda. Nama 'peransi' diambil dari nama David Albert Peransi (1939-1993), seorang seniman, kritikus, guru, dan tokoh penganjur modernitas dalam dunia seni rupa dan sinema dokumenter-eksperimental di Indonesia.



Dadyaa, The Woodpeckers of Rotha  (2016) dipilih sebagai film terbaik dalam kategori Peransi Award. Film pendek berdurasi 16 menit ini diproduksi di Nepal dan dikerjakan oleh Pooja Gurung dan Bibhusan Basnet. Menurut catatan katalog, film ini menceritakan mitos orang-orang yang sudah mati dalam adegan performatif, gambar puitis, serta bebunyian musikal.

Seorang perempuan di suatu desa terpencil pegunungan, tercekau ingatan akan para tetangga yang sudah tiada. Demi menghadirkan mereka kembali, dia memaksa sang suami untuk bersama-sama membuat replika dari sosok orang-orang itu. Jadilah boneka kayu benar-benar hidup dan menghadirkan kembali para tetangga. Suami-istri harus memilih apakah tetap tinggal atau pergi mengikuti para roh.


2. Jury Award

Juri Award, sesuai namanya, diberikan kepada film terbaik versi pilihan dewan juri. Pertimbangan yang digunakan adalah soal kesegaran, keunikan, serta kematangan personal bahasa ungkap yang ditawarkan oleh film. Kendati demikian, tawaran ini belum tentu berlaku di konteks budaya lain karena mungkin isunya sangat lokal dan kontekstual.



Dwa Swiaty, atau Two Worlds  (2016) dipilih sebagai film terbaik Jury Award. Film memiliki durasi 51 menit dan dibuat di Polandia oleh Maciej Adamek. Akbar Yumni, kurator festival, menyebut film ini sebagai karya hangat tentang pengalaman posisi marjinal dari bahasa kedua yang memerlukan  perantara terhadap bahasa dominan yang melingkupi.

Sejumlah footage personal tentang keluarga disajikan. Film secara intim menelusuri keseharian Laura sebagai perantara bagi kedua orang tua dalam berinteraksi sosial.


3. Forum Lenteng Award

Forum Lenteng Award diberikan kepada film terbaik menurut pilihan Forum Lenteng, organisasi penggagas festival Arkipel. Film terpilih dinilai mencerminkan posisi pembacaan dan sikap kritis mereka atas perkembangan karya-karya visual sinematik pada tataran estetika dan konteks. Tiga pengurus forum menjadi dewan juri tambahan yang lantas berdiskusi dengan dewan juri Arkipel.



Utsav  (2016) dipilih sebagai film terbaik Forum Lenteng Award. Film berasal dari India dan dibuat oleh Suruchi Sharma. Durasi 26 menit dan bahasa Hindi. Menurut kurator festival Otty Widasari, film ini bicara soal kaum minoritas yang tak punya ruang. Berikut deskripsi soal film tersebut.

Saat struktur modern tidak memberi ruang, secara politis, keberadaan budaya membentuk ragam inisiatif pada ranah dialek untuk menjelajahi dan memperluas fungsi harafiah tubuh dan obyek, yang selama ini memiliki definisi tunggal modernitas.


4. Arkipel Award

Arkipel Award diberikan kepada film terbaik utama secara umum, yang dinilai punya pencapaian artistik tinggi, kekuatan potensial dalam memaknai perspektif yang diambil film, serta berhasil mengajukan satu definisi baru atas pandangan dunia kontemporer yang menantang cara pandang umum. Film ini juga dipandang paling mewakili pernyataan nilai-nilai yang diusung oleh Arkipel setiap tahun.

Tahun ini Arkipel mengangkat wacana soal Penal Colony. Frasa ini merujuk pada konsep tempat pembuangan tahanan politik, atau pemukiman terisolir khusus para narapidana. Istilah ini mulai muncul dalam teks-teks karya sejak awal abad ke-20. Salah satunya adalah naskah cerita pendek berbahasa Jerman berjudul In der Strafkolonie, atau In the Penal Colony, tulisan Franz Kafka tahun 1914.

Menurut direktur artistik festival Hafiz Rancajale, tema penal colony membayangkan bagaimana hukum bekerja dan sistem diterapkan untuk menjadikan para terpidana teratur. Konsep ini juga merujuk pada kawasan milik suatu negara yang ditujukan sebagai daerah konsentrasi dengan sistem baru, seperti Australia dan Jamaika.

Film berjudul Hashti Tehran (2016) garapan Daniel Kotter dinilai sebagai film terbaik Arkipel. Film berdurasi 59 menit dengan dialog berbahasa Persia. Kendati hak distribusi film berada di bawah bendera Jerman, subjek dan obyek yang disorot adalah pemukiman di kawasan Tehran, Iran.



Film Hashti Tehran  dibagi ke dalam beberapa segmen. Tiap segmen, secara bertingkat, bicara soal pemukiman baru, tata kota, dan keterikatan penduduk dengan sejarah tempat tinggal. Dalam segmen pertama, tampak suatu pegunungan salju serta sekelompok turis yang berfoto dan menikmati lingkungan.

Namun, ketika chairlift bergerak menuruni pegunungan, ada kenyataan yang kontras. Dengan dalih pemekaran kota dan pemenuhan kebutuhan papan, pemerintah pusat dan kota membuat proyek perumahan massal bagi penduduk kelas menengah.


(DEV)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA