Merayakan Keragaman Muslim dalam Festival Film Madani

Purba Wirastama    •    18 Oktober 2018 11:35 WIB
Festival Film Madani
Merayakan Keragaman Muslim dalam Festival Film Madani
Timbuktu (Abderrahmane Sissako, Prancis)

Jakarta: Festival Film Madani telah resmi dibuka di Jakarta pada Rabu malam, 17 Oktober 2018 dengan penayangan film Never Leave Me garapan sutradara Aida Begic dari Bosnia. Debut festival ini akan berlanjut selama lima hari ke depan dengan 15 film lain yang berkisah tentang komunitas Muslim di seluruh dunia.

Menurut Garin Nugroho, salah satu dewan festival, Festival Film Madani hendak menampung penafsiran yang luas tentang kehidupan Muslim di dunia. Agama, kata Garin, seharusnya menjadi hal menyenangkan. Dia mencontohkan lagu anekdot lawas Pak Kaji Nyolong Dendeng (Pak Haji Mencuri Dendeng), yang tak pernah membuat orang tersulut marah.

"Tidak ada kyai yang marah, tidak ada haji yang marah. Agama itu memang menyenangkan, masak mau masuk surga enggak menyenangkan?" ujar Garin di XXI Djakarta Theater saat membuka festival. 

"Saya haji lho ya, maka saya punya petuah sedikit," sambung Garin santai.

"(Keutamaan) agama hanya dua, iqro dan ijtihad, membaca dan menafsir, dua-duanya harus jalan (...). Kami memberikan ruang yang luas untuk menafsirkan living Islam di dunia ini. Makanya, yang mutlak hanya Tuhan. Kalau ada yang berusaha mutlak, jangan diikuti, itu pasti setan," ungkapnya. 

Inayah Wahid, yang juga dewan festival, berharap Madani memberi inspirasi bagi para penonton mengenai kekayaan interpretasi Islam. 

"Kami ingin merayakan keberagaman kehidupan para Muslim dari seluruh dunia dan karena itu, kami ingin festival ini menjadi inspirasi. Interpretasi tunggal atas Islam hanya akan menumpulkan keislaman itu sendiri dan membatasi kekayaan kita. Semoga narasi itu yang akan menjadi inspirasi dan dibawa setelah keluar dai festival film ini," tuturnya dalam kesempatan sama.

Putut Widjanarko menyebut bahwa mereka hendak membuat Festival Madani menjadi agenda tahunan. Harapannya, festival mampu menyuguhkan cerita mengenai harapan, ketakutan, dan aspirasi masyarakat Muslim yang tinggal di banyak tempat. 

"Sehingga kita merayakan keberagaman Muslim di seluruh dunia. Kami berusaha Festival Madani dirayakan setiap tahun, di tempat lebih besar dan lebih banyak. Tahun depan, selain di Jakarta, mudah-mudahan di Surabaya. 

Festival Film Madani 2018 digelar di Jakarta pada 17-21 Oktober. Ada empat empat lokasi penayangan film, yaitu bioskop XXI Djakarta Theatre, IFI Thamrin, Kineforum, dan Binus Alam Sutera.

Total ada 16 film panjang Indonesia dan mancanegara yang ditayangkan. Salah satunya adalah film esai garapan Garin mengenai "Madani", yang khusus dibuat untuk festival ini dan belum pernah ditayangkan sebelumnya. 

Semua sesi pemutaran tidak dipungut biaya, tetapi penonton diharapkan datang satu jam sebelum jadwal untuk mendapatkan tiket. Jadwal selengkapnya dapat disimak di situs resmi atau akun media sosial Festival Madani.

Berikut daftar film yang ditayangkan.

1. Never Leave Me (Aida Begic, Bosnia)
2. Bid'ah Cinta (Nurman Hakim)
3. My Sweet Pepperland (Hiner Saleem, Prancis)
4. Mencari Hilal (Ismail Basbeth)
5. Fatima (Philippe Faucon, Prancis-Kanada)
6. La Tahzan (Danial Rifki)
7. Haji Backpacker (Danial Rifki)
8. Rindu Kami Padamu (Garin Nugroho)
9. The Island Funeral (Pimpaka Towira, Thailand)
10. Giraffada (Rani Massalha, Palestina)
11. Mata Tertutup (Garin Nugroho)
12. Pagar Kawat Berduri (Asrul Sani)
13. Pengantin (Noor Huda Ismail)
14. Titian Serambut Dibelah Tujuh (Charul Umam)
15. Timbuktu (Abderrahmane Sissako, Prancis)
16. Film esai Garin Nugroho tentang "Madani"



(ASA)

Kaca Benggala Polemik Jerinx SID dan Via Vallen

Kaca Benggala Polemik Jerinx SID dan Via Vallen

1 day Ago

Dapat disimpulkan, Jerinx adalah korban dari sikap 'lancang' Via Vallen dan beberapa pe…

BERITA LAINNYA