Disney Gandeng Seniman Indonesia untuk Promosi Film Coco

Purba Wirastama    •    27 November 2017 08:53 WIB
film asing
Disney Gandeng Seniman Indonesia untuk Promosi Film Coco
Gitar Coco buatan Tuges dipajang di atrium Neo Soho Mall hingga pertengahan Desember 2017. (Foto: Purba Wirastama)

Jakarta: Walt Disney Indonesia berkolaborasi dengan seniman gitar I Wayan Tuges untuk membuat gitar ukir tematik film Coco.  Gitar bermodel akustik dan tubuhnya diukir dalam motif batik Grageh Waluh dan Mega Mendung.

"Memang kami juga tidak sembarangan mengukir. Kami juga mengambil motif-motif yang bersentuhan dengan (film), (supaya) bisa menginspirasi musisi itu sendiri," kata Tuges dalam keterangan resmi pihak Disney.

Coco  merupakan film animasi Disney dan Pixar garapan sutradara Lee Unkrich dengan latar budaya Meksiko. Kisahnya mengikuti Miguel, bocah 12 tahun yang bermimpi jadi musisi seperti Ernesto de la Cruz, tetapi dilarang oleh keluarga karena masalah masa lalu. Dia menempuh perjalanan untuk menyingkap misteri masa lalu ini.

Gitar tematik Coco dibuat Tuges atas permintaan pihak Disney Indonesia sebagai bagian dari kampanye film. Menurut pihak Disney, gitar dibuat selama dua bulan sejak September 2017. Dari diskusi dan menonton trailer film, Tuges mengambil esensi 'impian bocah' untuk dituangkan ke dalam ukiran.

"Kenapa motif batik, karena saya ingin menggali budaya adiluhung di Indonesia. Saya tertarik dengan motif tersebut karena bisa menginspirasi saya sendiri dan juga yang lain untuk bagaimana menggapai cita-cita," ungkap Tuges.

Dua motif batik dipahatkan pada bidang kayu bagian atas. Grageh Waluh, motif yang menyerupai burung dengan dua sayap, menempati bidang paling lebar. Motif ini merujuk pada makna filosofi cita-cita dan tujuan.

Mega Mendung, yang menyerupai bentuk awan, menghiasi dua bagian samping lubang suara gitar. Motif ini merujuk ke makna perjalanan mengarungi tujuan.

"Mungkin dalam perjalanan waktu, untuk mencapai target tersebut, ada susah senangnya," tutur Tuges.

Body bagian samping dipenuhi ukiran ragam warna berupa bunga, dedaunan, simbol nada, dan para tokoh film.

"Kami menggambar warna-warna ceria dan di sana tergambar juga bagaimana usaha Miguel untuk belajar main gitar," ungkap dia.

Tuges merupakan pria kelahiran Bali 1952. Sejak usia 5 tahun, dia mulai belajar memahat dari sang ayah dan meneruskan profesi keluarga sebagai pengukir kayu generasi ketiga.

Pada 2005, dia mulai mengerjakan ukiran untuk gitar yang juga dia buat sendiri setelah berkenalan dengan Danny Fonfeder dan belajar dari George Morris. Gitar dipasarkan dalam nama Blueberry.

Selama 12 tahun, dia telah membuat lebih dari 2.000 gitar untuk pasar domestik dan internasional. Dewa Budjana, I Wayan Balawan, Eros Djarot, hingga Susilo Bambang Yudhoyono pernah memesan gitar dari Tuges.

Tuges juga pernah membuat instrumen gabungan gitar, harpa, ukulele, kalima, dan washboard atas permintaan grup musik Walk off the Earth. Alat ini dia beri nama guiharpulele.

Menurut Tuges, ukiran membuat gitar bersuara lebih bagus.

"Dengan diukir, gitar itu akan mendapat suara lebih bagus. Ketebalan (gitar) saya buat sama dengan gitar biasa. Tambah diukir, (gitar) mendapat suara lebih bagus," tukas dia.

Gitar Coco  buatan Tuges dipajang di atrium Neo Soho Mall hingga pertengahan Desember 2017.


(DEV)