Hari Film Nasional 2018

Salman Aristo: Industri Film Krisis SDM Profesional

Cecylia Rura    •    30 Maret 2018 08:00 WIB
film indonesiahari film nasional 2018
Salman Aristo: Industri Film Krisis SDM Profesional
Salman Aristo (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Industri perfilman tengah dilanda krisis tenaga kerja. Bukan karena sepi peminat, banyak pelaku industri perfilman yang memerlukan tenaga kerja yang bisa mengimbangi perkembangan industri perfilman Indonesia yang tengah naik daun.

Penulis naskah sekaligus sutradara Salman Aristo memiliki konsentrasi khusus terkait hal ini. Salman berpendapat, perfilman Indonesia memang sedang krisis tenaga kerja, tetapi sekaligus membutuhkan sineas dengan kapabilitas profesional. Masalah ini menambah tumpukan masalah di perfilman di samping kuantitas tenaga kerja.

"Luar biasa sekali kenaikannya, tapi karena itu, menimbulkan triple effect yang lain bahwa kebutuhan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) tinggi sekali. Di sisi lain juga kualitas pekerja yang high profile juga tinggi sekali, jadi problem-nya bertumpuk," kata penulis naskah yang baru saja mengerjakan proyek film Do(s)a kepada Medcom.id di Jakarta, belum lama ini.

"SDM baru kurang tapi anak baru sudah harus punya high profile, kan enggak mungkin sebenarnya. Nah, itu bagaimana cara dipecahkannya. Gua sangat berharap temen-temen industri menyadari itu, kita semua punya kesadaran itu. Karena kalau enggak terpenuhi yang sedang terjadi ini bisa jadi kesempatan yang terlewatkan jika kita enggak sadar terhadap kebutuhan itu," imbuhnya.

Suami dari sutradara Gina S. Noer ini pun mengatakan, memang sumber daya manusia dengan kualifikasi tinggi memerlukan dasar edukasi yang kuat. Untuk itu, peran pemerintah dibutuhkan untuk membuka ruang atau sekolah khusus film di Indonesia. Namun, Salman sendiri yang telah terjuan di industri film selama bertahun-tahun merasa belum ada sentuhan tangan dari pemerintah.

Jika pemerintah ingin turut membantu ada baiknya memelajari terlebih dulu seluk-beluk industri perfilman dan masalah yang dihadapi. Dengan harapan, solusi yang diberikan tepat sasaran.

"Pemerintah kalau mau ikut campur silakan. Jujur aja gue sudah lama tidak berharap pemerintah ikut campur. Capek hati berharap mereka ikut campur. Ya kalau mau, silakan. Kalau menyadari ini sebagai potensi yang sangat luar biasa sekali, tapi please kalau mau masuk pahami dulu industrinya kayak apa. Enggak bisa datang dengan cuma ngomong, 'Cerita karakter bangsa', apapun itu. Juga 'Yang bikin cerita harus yang harus menuntun, menginspirasi budaya'. (Pemerintah) Pahami dulu industrinya sebelum ngomong kayak begitu."

"Karena sering sekali mereka datang dengan solusi yang tidak tepat karena tidak paham sama sekali industrinya seperti apa. Sehingga sering meleset," jelas Salman.

Terlepas dari peran pemerintah yang masih menjadi tumpuan untuk perubahan SDM di industri perfilman, Salman menaruh harapan besar pada rekan-rekan sejawat kalangan sineas.

Hasil dari bekerja secara independen justru lebih tampak dan berhasil menembus tingkat internasional. Sebagai contoh yang tampak, film Sekala Niskala (Seen and Unseen) dan Marlina Si Pembunuh Empat Babak karya sutradara dalam negeri mampu bersaing di festival film kancah internasional dan meraih piala.

"Gue lebih berharap bahwa ada kesadaran diri dulu deh dari teman-teman indistri. Toh, kami sudah berjalan selama ini dan baik-baik saja. Buktinya bisa meningkat dengan sangat cepat, cuma ya itu harus sama-sama menyadari aja. Jangan blind sided dengan segala pertumbuhan positif ini karena memang yang terjadi saat ini adalah bahwa kapasitas bisnis sedang naik tapi kapasitas secara SDM ternyata memang kurang. Dari dulu juga kita sering ngomong kurang, tapi sekarang benar-benar kerasa. Kru habis, pemain rebutan, syuting susah segala macem. It's a nice problem. Artinya, kita bertumbuh, cuma ya harus segera mencari solusinya aja sih untuk bisa menjawab perkembangan ini," tutup Salman.

Hari Film Nasional dirayakan setiap 30 Maret. Tanggal itu dipilih bertepatan dengan syuting perdana film Darah & Doa yang disutradarai oleh Usmar Ismail, pada tahun 1950. Sosok Usmar Ismail begitu penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Film Darah & Doa juga dimaknai sebagai film yang mencerminkan kebangkitan para sineas Indonesia di tengah dominasi sineas asing pada era itu.

 


(ASA)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA