Arkipel 2017 Angkat Tema Penal Colony

Purba Wirastama    •    17 Agustus 2017 19:03 WIB
arkipel
Arkipel 2017 Angkat Tema Penal Colony
Cuplikan film Dysfunction (1983), salah satu karya yang akan ditampilkan di program kuratorial Penal Colony Arkipel 2017 (dok Arkipel)

Metrotvnews.com, Jakarta: Festival film internasional Arkipel ke-5 siap digelar mulai besok Jumat 18 Agustus 2017. Tahun ini Arkipel mengangkat tajuk Penal Colony, frasa yang secara umum merujuk pada konsep tempat pembuangan tahanan politik, atau pemukiman terisolir khusus para narapidana.

Hafiz Rancajale, direktur artistik Arkipel 2017, berujar bahwa setiap tahun mereka selalu mencari tema yang relavan dalam konteks Indonesia dan internasional. Dalam setahun terakhir, setelah diskusi panjang di Forum Lenteng dan dengan beberapa kawan, mereka menemukan persoalan terkait kriminalitas dan hukum. Lalu muncul istilah 'penal colony'.

Istilah penal colony disebut mulai muncul dalam teks-teks karya sejak awal abad ke-20. Salah satunya adalah naskah cerita pendek berbahasa Jerman berjudul In der Strafkolonie, atau In the Penal Colony, tulisan Franz Kafka tahun 1914. Naskah ini telah diadaptasi ke beberapa pertunjukan teater dan film.

"Penal colony membayangkan bagaimana hukum bekerja dan sistem diterapkan untuk menjadikan para terpidana teratur. (Penal colony) punya sistem sendiri yang disebut aparatus," kata Hafiz dalam jumpa pers di Ke:Kini, Cikini, Jakarta.

"Dari ide itu, kami mencoba (menelaah) bagaimana sinema membaca itu, dan merangkum persoalan terkait aturan sistem," imbuhnya.

Namun menurut Hafiz, istilah ini tidak hanya merujuk ke konsep koloni terpidana. Dunia era pasca-kolonial memberi penal colony konteks lain, yaitu kawasan milik suatu negara yang ditujukan sebagai daerah konsentrasi dengan sistem baru. Misalnya Australia dan Jamaika.

Tim Arkipel lantas menelusuri karya-karya film terkait konsep penal colony yang dapat diputar dan dibaca ulang. Mereka juga menerima dan menyeleksi film submisi dari berbagai negara dengan pertimbangan utama pada tema tersebut.

"Setahun ini kami menemukan banyak interpretasi ulang terhadap naskah Penal Colony. Ada karya teater yang dikembangkan. Bahkan ada satu film yang terkenal dengan judul sama, The Penal Colony karya sutradara Raoul Ruiz," ujar Hafiz.

Film ini dirilis pada tahun 1970 dan akan diputar di Arkipel 2017 dalam program Kuratorial di kineforum Jakarta pada Minggu 20 Agustus 2017. Raoul sendiri adalah sutradara asal Chili kelahiran 1941 dan telah meninggal pada 2011 lalu.

The Penal Colony dan 84 film lain dari 32 negara akan menjadi sajian Arkipel 2017 yang akan digelar di Jakarta pada 18-26 Agustus 2017. Ada sejumlah program pemutaran yang dikelompokkan berdasar tujuan dan subtema.

Program Kompetisi menyuguhkan 31 film dari 15 negara yang disaring dari sekitar 1.700-an pendaftar. Lalu ada program Candrawala dengan enam film Indonesia yang tidak lolos program kompetisi, tetapi dinilai penting untuk dibicarakan.

Menurut Hafiz, satu hal tak terduga dalam program kompetisi adalah kemunculan sejumlah film dari Afrika. Temuan ini kemudian menjadi salah satu sorotan utama festival.

"Dalam studi dan presentasi film di Indonesia, Afrika sepertinya tidak terlalu dibaca. Kebetulan kami punya relasi dengan tokoh dokumenter dari Kamerun (Jean-Marie Teno) dan dia bersedia menunjukkan karya-karyanya. Dia juga mau menjadi juri," tukas Hafiz.

Festival akan dibuka di GoetheHaus dengan empat film dan penampilan musik Frau. Seluruh program pemutaran dan diskusi diadakan di GoetheHaus, kineforum, serta Gudang Sarinah Ekosistem. Semua program terbuka untuk publik dan tidak dipungut biaya. Jadwal lengkap dapat dilihat di laman resmi arkipel.org.


 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA