10 Film Dokumenter tentang Musisi

Purba Wirastama    •    16 Januari 2018 19:12 WIB
film dokumentertrivia film
10 Film Dokumenter tentang Musisi
Cobain: Montage of Heck (Brett Morgen, 2015)

Jakarta: Para penggemar mengenal para musisi idola mereka lewat berbagai karya dan aksi panggungnya. Namun kadang itu belum cukup.

Musisi juga punya 'panggung' kehidupan lain yang kerap tak tersorot media, tetapi menjadi momen signifikan dalam perjalanan hidup dan karier mereka. Film dokumenter, dengan keleluasaan gaya, adalah salah satu jendela yang bisa dimasuki penggemar untuk mengenal lebih dalam para musisi.

Berikut kami pilih 10 dokumenter dari dua dekade terakhir tentang musisi dan grup musik dunia. Film-film ini mendapat ulasan relatif positif dan sebagian menerima penghargaan.

1. Amy (Asif Kapadia, 2015)
Lewat rekaman arsip dan testimoni personal, film ini mengulas kehidupan penyanyi Amy Jade Winehouse dan perjuangan dia menghadapi kecanduan alkohol dan obat, sebelum dan sesudah kariernya menanjak. Kecanduan ini pula penyebab Amy meninggal.

Film dokumenter Inggris ini berdurasi 128 menit dan dibuat bagi penonton 17+. Lusinan penghargaan diraih, termasuk dokumenter terbaik Oscar.


2. Chasing Trane (John Scheinfeld, 2016)
Film 99 menit ini menggali kekuatan dan dampak global dari musik John Coltrane, serta mengungkap semangat, pengalaman, kekuatan yang membentuk hidupnya dan musiknya yang revolusioner.

John Coltrane, yang juga kerap disebut Trane, adalah komponis dan pemain saksofon Jazz Amerika yang lahir pada 1926. Dia termasuk pionir penggunaan ragam mode di jazz dan menjadi garda depan free jazz. Dia memberi pengaruh ke banyak musisi dan mendapat sejumlah penghargaan setelah meninggal.


3. Cobain: Montage of Heck (Brett Morgen, 2015)
Film 145 menit ini merangkum kehidupan musisi Kurt Cobain, sejak lahir di Washington pasa 1967, tumbuh dalam keluarga yang bermasalah, hingga bangkit mencapai ketenaran sebagai garda depan Nirvana, dan meninggal di Seattle pada usia 27.

Film ini tayang perdana di Sundance Film Festival lalu dirilis di bioskop dan disiarkan di HBO.


4. Crossfire Hurricane (Brett Morgen, 2012)
Sebelum dokumenter Kurt Cobain, sutradara Brett Morgen membuat dokumenter tentang grup musik Inggris The Rolling Stones. Film 111 menit ini juga menandai 50 tahun kebersamaan The Rolling Stones sebagai grup sejak 1961.

Film ini merangkum awal perjalanan grup, melalui serangkaian wawancara serta rekaman arsip yang menampilkan ragam topik diskusi para personel. Judul film diambil dari baris pertama lagu populer grup tahun 1968, Jumpin' Jack Flash.


5. Metallica: Some Kind of Monster (Joe Berlinger & Bruce Sinofsky, 2004)
Dokumenter 141 menit ini mengikuti perjalanan grup musik Metallica selama 2001-2003, saat mengalami ketegangan dan mencari bantuan dari terapis dalam masa pembuatan album St. Anger.

Hingga enam tahun setelah rilis, menurut laporan Australia's Herald Sun, para personel grup masih merasa kecewa atas dokumenter tersebut karena merekam berbagai momen pahit yang mereka hadapi. Menurut Lars Ulrich, musisi lain memang punya pengalaman pahit, tapi tidak sebodoh mereka yang rela membagi itu ke publik.


6. Oasis: Supersonic (Mat Whitecross, 2016)
Setelah sukses mengerjakan Amy, Asif Kapadia dan James Gay-Rees memproduksi dokumenter tentang grup musik Oasis. Film ini menjadi nominee British Independent Film Awards di kategori Outstanding Achievement in Craft.

Dalam 122 menit, film 17+ ini mengulas sejarah grup Oasis selama masa pembentukan dan kesuksesan mereka pada era 1990-an, melalui wawancara off-screen personel dan orang terkait, rekaman konser, dan rekaman backstage.


7. Searching for Sugar Man (Malik Bendjelloul, 2012)
Dokumenter Swedia/Inggris/Finlandia ini bercerita tentang musisi misterius Amerika Sixto Rodriguez yang dirumorkan meninggal. Dalam durasi 96 menit, film mengikuti dua penggemar asal Afrika Selatan, Stephen Segerman dan Craig Strydom, yang pada akhir 1990-an menelusuri apakah Rodriguez benar-benar mati.

Rodriguez adalah penulis dan penyanyi kelahiran Detroit 1942. Kendati musiknya tidak populer di Amerika Serikat, karyanya dikenal luas publik Afrika Selatan. Namun informasi tentang dia tetap minim.


8. The Filth and the Fury (Julien Temple, 2000)
Dokumenter ini menjadi film kedua Julien Temple tentang grup musik Sex Pistols, setelah The Great Rock and Roll Swindle (1980). Judul film ini diambil dari judul artikel utama koran The Daily Mirror akhir 1976, yang juga diinspirasi oleh judul novel karya William Faulkner.

Dalam 108 menit, film 17+ ini menceritakan momen kebangkitan, penolakan, dan kejatuhan Sex Pistols sejak menapaki langkah awal dari London hingga bubar di San Fransisko, melalui sudut pandang para personel.


9. Tupac: Resurrection (Lauren Lazin, 2003)
Dalam 112 menit, film 17+ ini menggambarkan hidup musisi hip-hop berpengaruh Tupac Amaru Shakur. Tupac, yang bernama panggung 2Pac dan Makaveli, meninggal dibunuh pada 1996 dalam usia 25.

Dokumenter berisi rekaman video rumahan, foto, dan pembacaan puisi. Tupac sendiri menjadi narator. Film ini diunggulkan sebagai dokumenter terbaik Piala Oscar.


10. U.S. vs. John Lennon (David Leaf & John Scheinfeld, 2006)
Selain menjadi musisi dalam grup The Beatles, John Lennon juga aktif sebagai aktivis anti-perang. Dalam durasi 99 menit, dokumenter ini menyorot sisi hidup Lennon saat dia berkembang dari musisi menjadi aktivis dalam kurun waktu akhir 1960-an hingga awal 1970-an.

Selain itu, film juga menyorot upaya pembunuhan yang dilakukan pemerintah AS era Presiden Richard Nixon, yang ingin membungkam Lennon.

 


(ELG)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

5 days Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA