Ideosource Siap Berinvestasi pada Genre Film Drama Islami di Akatara 2018

Cecylia Rura    •    05 Juni 2018 22:40 WIB
film indonesiabekraf
Ideosource Siap Berinvestasi pada Genre Film Drama Islami di Akatara 2018
Jumpa media Road to Akatara 2018 di Topaz Room, Hotel Grand Mercuri, Harmoni, Jakarta, Selasa 5 Juni 2018. (Foto: Cecylia Rura)

Jakarta: Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf) bersama Badan Perfilman Indonesia (BPI) membuka peluang bagi para investor untuk berinvestasi dalam forum pembiayaan proyek film Akatara yang kini memasuki tahun kedua. Salah satu investor yang tertarik terlibat dalam forum biro jodoh dengan filmmaker dan film enterpreneur kali ini adalah Ideosource.

Edward Ismawan Chamdani selaku Managing Partner dari ideosource mengungkapkan ada empat genre film yang menjadi fokus utama. Menariknya, Ideosource memilih genre drama islami sebagai salah satu genre terbaik lantaran memiliki daya pikat penonton tertinggi berdasarkan hasil riset.

"Ada di sisi komedi, drama, horor, dan drama islami. Kita analisa dari tahun 2007 sampai 2017, top 15 dari genre, yang masuk ke top (terbaik) ini ya empat ini," papar Edward kepada Medcom.id di Hotel Grand Mercure, Harmoni, Jakarta, Selasa 5 Juni 2018.

"Kelihatannya kita hanya mengumpulkan fakta dari data itu, kenyataannya seperti misal Ayat Ayat Cinta lumayan populer. Jadi di situ akhirnya masuk genre drama islami sebagau yang populer. Drive-nya ada di Ayat Ayat Cinta," lanjut Edward.

Untuk kriterianya sendiri sudah ada tim kurator yang menyeleksi proposal terpilih. Mereka juga sempat terlibat dalam produksi film. Soal dana, Edward menambahkan tergantung pada kebutuhan dalam proposal dengan kisaran range dana tertentu.

"Biasa kita bergantung sama proposal mereka, rata-rata tadi kita sebut antara Rp6-18 miliar tergantung dari kelas produser yang mereka propose ke kita, biasanya kita masuk tidak sendirian juga, jadi ada beberapa investor bersama," lanjutnya.

Dari Ideosource ikut menilai secara rinci dari segi aktor, sutradara, marketing timeline, hingga distribusi.

"Kami percaya bagaimana filmmaker secara kreatif bisa mengkomersialisasikan produk film,  bukan berarti art movie enggak bisa jadi komersil. Contohnya ada beberapa proyek yang kita lihat, aku belum bisa disclose, filmnya art movie banget, tapi tiba-tiba filmnya sudah dapat pre-sale dari Amazon. Artinya secara investasi sudah ketutup. Jadi kita melihatnya enak ini buat investasi," ujar Pandu Birantoro, perwakilan dari Ideosource yang ikut menilai proposal dan berpengalaman industri film.

"Ada juga film-film yang straight to bioskop (komersil), hasil utamanya penjualan tiket dan segala macam. Setiap proyek masuk kita nilai, di Ideosource Entertainment yang menilai proyeknya. Kami tembak dari produksi, oke atau enggak, segi marketing solid enggak, pengalaman, track record produser dan sutradara pernah bikin apa, jadi cukup ketat kita menilai satu proyek."

"Karena kalau misal proyek rugi bukan cuma di filmmaker tapi kami pasti ikut rugi. Jadi dari awal kami harus membatasi itu," imbuhnya.

Pandu Birantoro akan ditemani tiga rekan lain yang berpengalaman di bidang film di antaranya co-produser Ada Apa Dengan Cinta 2, Marhimin, lalu Rahardian Agung, Andi, dan Mendi.

"Kita bisa baca naskah, menilai yang bagus atau tidak bagus. Jadi melewati semua itu sampai akhirnya kami decide, are we going invest or not," tutupnya.




 


(ELG)

Seksisme dan Biduan Dangdut

Seksisme dan Biduan Dangdut

1 week Ago

Unsur seksisme bahkan lekat dengan profesi pedangdut ini. Seksisme merupakan penghakiman, prasa…

BERITA LAINNYA