Penulis Asli Benyamin Biang Kerok Tertawa Max Pictures Minta Ganti Rugi Rp50 Miliar

Purba Wirastama    •    19 April 2018 14:45 WIB
film benyamin biang kerok
Penulis Asli Benyamin Biang Kerok Tertawa Max Pictures Minta Ganti Rugi Rp50 Miliar
Syamsul Fuad, penulis naskah asli Benyamin Biang Kerok (Foto: Medcom/Purba)

Jakarta: Syamsul Fuad, penulis cerita dan naskah film asli Benyamin Biang Kerok versi 1972, tidak habis pikir saat produser Ody Mulya Hidayat justru meminta ganti rugi darinya senilai Rp50 miliar. Menurut Syamsul, Ody menuding dirinya menjadi sebab Benyamin Biang Kerok versi baru tidak begitu laris di bioskop.

"Saya ketawa, banyak yang ketawa," kata Syamsul saat ditemui di Pengadilan Negeri Niaga Jakarta Pusat, Kemayoran, Kamis, 19 April 2018.

Syamsul datang bersama kuasa hukumnya, Bakhtiar Yusuf. Saat ditemui pada siang hari, mereka sedang menunggu Atep Kuswara, kuasa hukum pihak yang mereka gugat terkait persoalan hak cipta. Pihak tergugat dalam kasus ini adalah Max, produser Ody Mulya, serta Falcon Pictures dan produser HB Naveen.

Hari ini mereka menjadwalkan sidang lanjutan untuk mendengarkan jawaban pihak tergugat.

"Mereka kok menyalahkan saya, 'Kok Pak Fuad yang disalahkan'. Orang menyalahkan mereka. Mereka salah sasaran bikin film, tidak bisa dicerna penonton, tidak menggugah. Film itu harus menggugah, apalagi yang komedi," tutur Syamsul, 81, berapi-api.

"Hukumnya sudah pasti, komedi tidak lucu, ya tidak laku, gagal total. Drama tidak menyentuh, penonton tidak tersentak, gagal. Itu prinsipnya. Saya berulang kali bikin film komedi," lanjutnya.

Sebelumnya, Syamsul menuding bahwa Ody dan rumah produksinya Max serta HB Naveen dan Falcon Pictures melakukan pelanggaran hak cipta lewat proyek film Benyamin Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung (belum dirilis) versi baru. Syamsul membawa masalah ini ke ranah hukum setelah filmnya dirilis pada 1 Maret 2018.


Kritik Pedas Betawi Kita dan JJ Rizal terhadap Film Benyamin Biang Kerok: Menipu!

Tiga minggu berselang, Ody menggugat balik. Syamsul menyebut bahwa Ody menyalahkan dirinya dan gugatan hak cipta tersebut sebagai penyebab film Biang Kerok tidak begitu laku. Hingga pekan ketiga, tercatat film ini telah melewati angka penonton 730 ribu orang.

Menurut Syamsul, Ody tidak seharusnya menyalahkan dirinya jika film bioskop tidak laku sesuai ekspektasi. Lagipula, gugatan hukum diajukan setelah filmnya rilis dan menjadi bahan pembicaraan berbagai kalangan yang datang saat press screening dan gala premier.

"Geblek! Geblek mereka bikin film. Kalau dulu, saya bikin (Biang Kerok) untuk menengah ke bawah, sasarannya jelas. Kalau mereka, ambil menengah ke tinggi, lebih tinggi lagi. Sudah di atas, atas lagi. Susah dicerna itu film," kata Syamsul.

"Kita lihat opini masyarakat, banyak tidak puas. Masak saya disalahkan. Saya menuntut setelah film beredar. Jadi mereka mencari alasan. Mereka yang geblek bikin film, kok saya yang disalahkan," lanjutnya.

Riwayat Kasus

Konflik hak cipta antara Syamsul dengan Falcon dan Max sudah bermula sejak penghujung 2017. Setelah mendengar kabar Biang Kerok hendak "dibuat ulang" oleh Falcon dan Max bersama sutradara Hanung Bramantyo, Syamsul menghubungi dua rumah produksi itu untuk meluruskan persoalan hak cipta.

Syamsul mengklaim dia punya hak atas judul, karakter Pengki, serta cerita karena dia juga yang mengajukan ide dan naskah film aslinya kepada mendiang sutradara Nawi Ismail. Pihak Falcon dan Max mengklaim sudah mendapatkan izin sah dari Yayasan Benyamin Sueb pimpinan Beno Rachmat, putra Benyamin, atas film ini.

Namun menurut Syamsul, seharusnya rumah produksi meminta lampu hijau darinya jika hendak memakai Biang Kerok dan Pengki di film terbaru.

"Mereka bilang beli filmnya (Biang Kerok 1972). Film itu relatif, (beli) apanya. Kalau bicara hak cipta judul, itu mesti dengan saya," ucap Syamsul.

"Hak cipta itu tidak lepas dari saya. Ceritanya, bukan film dan peredarannya. Judulnya, kecuali mereka tidak pakai Biang Kerok, lain soal. Kalau Biang Kerok, ya itu punya saya. Bukti dari Sinematek ada. Sinopsis asli saya ada, karakter ada," imbuhnya.

Menurut Bakhtiar, pembelian film bukan berarti memiliki seluruh properti intelektual yang melekat di dalam film.

"Mereka membeli film dari Yayasan Benyamin Sueb, bukan berarti semua yang ada dalam film itu melekat semua. Jadi ini perlu diluruskan ke masyarakat," kata Bakhtiar dalam kesempatan sama.

Dalam pertemuan pertama pada penghujung 2017 lalu, Syamsul meminta biaya transaksi pengalihan hak cipta Rp25 juta. Permintaan tak langsung dipenuhi. Syamsul menyebut Ody menawar Rp10 juta dalam pertemuan kedua. Sisanya, disuruh meminta Beno dari Yayasan.

"Buat saya, enggak ada relevansinya saya bertemu mereka (Beno)," ucap Syamsul.

Syamsul lalu membuat surat teguran pertama. Tak ada respons, dia mengirimkan yang kedua. Dalam tahap somasi, dia melibatkan pengacara Bakhtiar Yusuf, tetapi juga tak ditanggapi. Saat filmnya dirilis pada 1 Maret, nama Syamsul Fuad memang dicantumkan sebagai penulis asli. Namun tuntutan hak ekonomi Syamsul belum dipenuhi.

"Karena tiga kali tidak ditanggapi, baru saya gugat ke pengadilan, (sesuai) prosedur. Kemudian (mereka) bikin mediasi. Saya sudah kadung, sudah sewa pengacara. Ya sudah jalan terus, let's go," tutur Syamsul.

Sidang perdana dijadwalkan pada 22 Maret 2018, tetapi diundur ke 5 April karena pihak tergugat tak hadir. Pada 5 April, berkas seperti surat kuasa belum lengkap dan sidang dilanjutkan ke 12 April. Baru setelah itu, sidang masuk ke tahap pemberian jawaban dari tergugat yang diadakan hari ini.

Bakhtiar dan Syamsul telah menerima berkas jawaban dari Atep selaku kuasa hukum tergugat. Sidang hanya berlangsung singkat karena hanya memberikan berkas.

Bakhtiar mengaku belum membaca seluruh isi materi tanggapan. Namun secara garis besar pihaknya merasa keberatan. Dia menyebut ada berkas bukti kepemilikan hak cipta yang tidak sesuai hukum.

"Mereka menyampaikan ada perjanjian pengalihan hak cipta dan kami rasa itu tidak benar. Jadi menurut UU, pengalihan itu jangan sampai mengalihkan atau menghilangkan seluruh hak pencipta atas ciptaannya. Jadi ada ketentuan dalam UU," kata Bakhtiar usai persidangan.

Sidang berikutnya akan diadakan pada Kamis, 26 April 2018. Pihak Syamsul dan Bakhtiar akan memberikan tanggapan atas jawaban pihak Max dan Falcon.

"Kami akan menyampaikan tanggapan secara tertulis minggu depan," tukas Bakhtiar.


 


(ELG)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

3 days Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA