review film

It, Imaji Horor Mencekam

Purba Wirastama    •    09 September 2017 14:16 WIB
review film
It, Imaji Horor Mencekam
It (Foto: warnerbros)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bill (Jaeden Lieberher) yang gagap dan adiknya George (Jackson Robert Scott) yang belum berusia 10 tahun, tinggal di sebuah kota kecil AS pada 1988. Suatu hari saat hujan mengguyur kota, Bill yang sedang sakit membuatkan kapal kertas untuk adiknya. Mengenakan jas hujan, George berlarian mengejar kapalnya yang sengaja dihanyutkan di sepanjang arus air hujan jalanan.

Sayangnya, kapal George masuk gorong-gorong. Takut dimarahi kakaknya, dia mengintip lewat lubang saluran dan berharap kapalnya dapat diambil. Sesosok manusia berwujud badut (Bill Skarsgard) muncul dari dalam saluran, membawakan kapal, dan menawari balon udara. Dia mengenalkan diri sebagai Pennywise the Dancing Clown. Dibayangi perasaan takut terhadap kakak dan juga si badut, George menjulurkan tangan hendak mengambil kapal. Teror maut pertama pun dimulai.

Adegan pembuka ini meninggalkan kesan horor begitu kuat. Selain menjadi pangkal perjalanan cerita film, insiden kapal kertas George secara efektif mengenalkan sejumlah elemen penting di dalam cerita. Elemen ini dilekatkan dengan nuansa mencekam dan perasaan takut. Misal badut, balon udara merah, dan saluran gorong-gorong gelap di bagian bawah kota. Insiden juga jadi semacam penegasan, bahwa Derry, tempat mereka tinggal, bukan kota aman bagi anak-anak.



Ketegangan horor berkembang dan menyebar hingga akhir film yang berdurasi sekitar 135 menit. Sensasi takut dalam menonton dibangun terutama oleh perspektif cerita, yang secara konsisten terbatas pada 10 tokoh remaja selain George. Mereka menghadapi teror ganjil di berbagai tempat oleh beragam wujud monster gaib.

Para tokoh, selayaknya manusia, punya ketakutan personal masing-masing. Secara kebetulan, ketakutan tersebut muncul secara nyata dan menjadi teror yang harus mereka hadapi. Katakan, anda memiliki fobia terhadap laba-laba. Ketika pulang dan masuk kamar, kasur bergerak dan berubah menjadi monster laba-laba besar.

Keping-keping informasi dari tiap tokoh mungkin dapat menjadi petunjuk. Namun tetap, kita hanya tahu sedikit mengenai latar belakang sosok Pennywise atau motif dia meneror kota setiap 27 tahun sekali. Hal ini mengamini penjelasan soal rasa takut yang mungkin sering kita dengar. Bahwa manusia, atau bahkan sebagian hewan, cenderung takut akan sesuatu yang asing dan tidak mereka pahami.

Kisah tentang persahabatan juga mengemuka menjadi satu subtema yang menarik. Sebagian tokoh adalah orang-orang yang sering dirundung dan tersingkir dari pergaulan di sekolah. Atas perasaan senasib, mereka membentuk klub Losers dan saling mendukung dalam menghadapi rasa takut.

Keterlibatan aktor Finn Wolfhand, suasana kota pinggiran AS era 1980-an, petualangan anak-anak, serta teror monster gaib di kota, membuat film ini sekilas tampak senafas dengan serial Stranger Things dari Netflix. Serial tersebut kental dengan unsur fiksi ilmiah. Sementara drama horor fantasi dalam film It punya lebih banyak penekanan di aspek manusiawi.



Terasa sekali bahwa film adaptasi ini diramu dari banyak hal dengan sangat teliti dan terperinci. Untuk aspek cerita misalnya, sejumlah isu diangkat ke dalam cerita yang berlapis-lapis. Tidak hanya teror gaib, tetapi juga ada subtema persahabatan, keluarga, perundungan, hubungan asmara, serta perkembangan mental manusia.

Detail lain adalah elemen visual. Misalnya, gambar pangeran katak di kamar Beverly (Sophia Lillis), satu-satunya perempuan anggota klub Losers. Elemen visual yang muncul secara singkat ini menjadi penanda mengenai bagaimana cara Beverly diselamatkan. Penyematan penanda cukup subtil dan mengemuka dalam porsi yang pas.

Seseorang pernah menulis artikel mengenai sensasi menonton film, yang kurang lebih isinya begini. Sebagian penonton film, seperti halnya penonton acara sulap, ingin dirinya mendapat sensasi 'ditipu' oleh alur cerita. Ini yang membuat film hiburan dengan 'twist' bagus cenderung lebih memuaskan.

Sebagai film horor, It mampu memberikan kejutan semacam ini. Ada kepuasan serupa yang dapat ditemui setelah menonton. It telah menghidupkan dunia horor-fantasi-gaib dari Stephen King yang ganjil tetapi mungkin bisa terjadi. Di sisi lain, dunia tersebut adalah imaji yang tidak ingin kita harapkan terjadi di dunia nyata.

It
Sutradara : Andy Muschietti
Naskah : Chase Palmer, Cary Fukunaga, Gary Dauberman
Cerita asli : Novel It karya Stephen King
Produser : Roy Lee, Dan Lin, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg, Barbara Muschietti
Distribusi: Warner Bros. Pictures
Durasi : 135 menit
Rilis Indonesia : Rabu 6 September 2017


 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

1 week Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA