Lima Film Indonesia Favorit Mike Lucock

Purba Wirastama    •    09 Desember 2018 08:00 WIB
trivia film
Lima Film Indonesia Favorit Mike Lucock
Mike Lucock (Foto: Medcom/Purba)

Jakarta: Mike Lucock, aktor yang telah bermain dalam 30-an film cerita panjang sejak 2004, berpendapat bahwa bagaimana pun, film-film Indonesia hari ini masih kalah menarik dibanding film-film impor dari Hollywood.

Mike termasuk rajin menonton film-film produksi Indonesia rilisan terbaru. Karena itu pula, dia menyimpulkan bahwa video promosi seperti trailer sering menciptakan ekspektasi yang sulit dipenuhi filmnya ketika sudah tayang.

"Ada beberapa film Indonesia yang trailernya gimana (bagus), waktu kami nonton premier, yah... (kurang bagus). Ada yang trailernya yah... (kurang bagus), pas kami nonton, wah (bagus)!" ujar Mike saat ditemui di CGV Grand Indonesia belum lama ini.

Kendati begitu, ada sejumlah film Indonesia yang disukai Mike. Saat kami menanyakan lebih lanjut film-film favoritnya hingga kini, Mike menyebut beberapa judul serta alasan masing-masing. Tiga di antaranya adalah yang melibatkan dia sebagai pemain.

Berikut ulasannya.

1. Virgin (2004, Hanny R Saputra)
Film panjang debut sutradara dan penulis Hanny R Saputra ini mengikuti kisah tiga sahabat remaja kota yang menjadi korban keluarga berantakan. Satu remaja bertahan untuk tidak "menjual" keperawanan, sementara dua lainnya mendapat uang dengan melayani para "Om senang".

"Virgin berani mengambil topik pembicaraan ABG yang tabu dan dijadikan film," ujar Mike.


2. Nagabonar Jadi 2 (2007, Deddy Mizwar)
Nagabonar, yang kini menua, diminta oleh Bonaga anaknya untuk tinggal bersama di Jakarta. Bonaga ingin mengubah perkebunan sawit ayahnya menjadi resor mewah. Nagabonar marah, frustasi, dan melampiaskan kekesalan dengan keliling Jakarta. Di kota ini, dia justru melihat lebih banyak kepincangan dan perubahan yang sedang terjadi.

Film ini adalah sekuel dari Nagabonar (1986) garapan sutradara MT Risyaf yang dibintangi Nurul Arifin dan Deddy Mizwar. Meraih enam Piala Citra, termasuk film dan skenario terbaik.

"Ini film yang sangat santai, tetapi ada pesan-pesan yang saya dapat," ungkap Mike.


3. Ayat-ayat Cinta (2008, Hanung Bramantyo)
"Gue harus bilang, Ayat-ayat Cinta," kata Mike. "Karena film ini mendobrak, menggabungkan (kisah cinta dengan) ajaran Islam, yang pada waktu itu, malas banget bersentuhan dengan ta'aruf, istri dua."

"Ayat-ayat Cinta berhasil membuat tema yang saya sebut islamic romance sehingga orang-orang lain ikut bikin film inilah, itulah, lalu sekuelnya Ayat-ayat Cinta 2 lah," sambungnya.

Film Ayat-ayat Cinta diadaptasi dari novel berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy. Filmnya mengikuti kisah Fahri, pelajar Indonesia di Al Azhar yang hendak menggapai gelar master. Dia kenal dekat dengan sedikit perempuan. Dua di antaranya adalah Noura yang hendak ditolong Fahri, serta Aisha yang jatuh cinta kepada Fahri.


4. Hijab (2015, Hanung Bramantyo)
Bia, Tata, dan Sari adalah tiga perempuan bersuami dan berjilbab dengan gaya berbeda-beda. Anin memilih untuk bebas. Dia tidak  berjilbab dan sekaligus tidak mau menikah.

"Gue juga main (film Hijab)," kata Mike. "Tapi (ini favorit) karena memperlihatkan wanita Islam di Indonesia sehari-hari begini dan konflik yang jarang kita bicarakan."

"Hal yang diungkit sutradara adalah, apa yang akan lo lakukan ketika istri lo punya penghasilan lebih banyak dari lo. Laki-laki bilang biasa saja, tapi nyatanya enggak dan itu kelihatan di dalam cerita," imbuhnya.


5. The Raid (2011, Gareth H Evans)
The Raid berkisah tentang misi unit pasukan khusus merambah gedung apartemen enam lantai tak terurus yang menjadi markas raja bandar narkotika. Pasukan khusus berjuang membereskan setiap lantai.

Ini menjadi laga kedua Iko Uwais setelah Merantau. Mike terlibat sebagai pemeran pendukung dalam film sekuelnya, The Raid 2: Berandal (2014).

"Film ini berhasil mendobrak jenis film laga baru untuk Indonesia, menghasilkan nama-nama baik sehingga Indonesia juga dikenal lewat bidang laga," ungkap Mike.

"Malaysia ingin kerja dengan kita, Singapura ingin kerja dengan kita, bahkan orang-orang luar negeri memandang Indonesia itu silat – dan akhirnya nama pesilat terangkat," pungkasnya.


 


(ELG)