review film

Hoax, Sisi Kelam Seks dan Percintaan

Purba Wirastama    •    06 Februari 2018 16:12 WIB
review film
Hoax, Sisi Kelam Seks dan Percintaan
Vino Bastian dalam Hoax (youtube-indy pictures)

Jakarta: Sore itu hujan dan Raga (Tora Sudiro) buka puasa bersama ayah, dua adik, serta Sukma kekasihnya. Usai makan, mereka berlima bermain estafet nama dan Sukma (Aulia Sarah) kalah. Dihukum, dia pun menyanyi dengan antusias meski nada-nada suara menyimpang.

Awalnya keluarga ini tampak hangat. Namun tatkala perhatian terpusat ke Sukma, ketiga anak tak lagi tampak antusias dan tak acuh satu sama lain. Adek (Tara Basro), si bungsu, merokok di teras karena Ragil (Vino Bastian) kakaknya melarang asap rokok di rumah. Raga tak nyaman dan malu karena Sukma yang tak merdu.

Kehangatan dalam dunia mereka tampaknya hanya terjadi sesaat di meja makan. Selebihnya, kota yang dingin terguyur hujan sepanjang malam.

Perjamuan makan ini menjadi hulu alur cerita film Hoax, versi sunting baru dari produser HB Naveen dan penata gambar Sentot Sahid, atas film Rumah dan Musim Hujan dari sutradara Ifa Isfansyah serta penata gambar Eddie Cahyono dan Greg Arya. Versi asli telah dirilis terbatas enam tahun silam dalam sejumlah festival.


Hoax (youtube-indy pictures)

Perbedaan besar kedua versi adalah penyajian tiga segmen cerita yang terpecah setelah mereka buka puasa bersama. Dalam versi pertama, tiga penggal kisah terbagi ke tiga babak berurutan. Dalam versi Hoax, tiga segmen ini diceritakan nyaris simultan, dari satu tempat ke dua tempat lain.

Ketiga segmen mengikuti kisah ketiga anak, yang berpisah usai jamuan buka puasa. Anak sulung dan bungsu pamit pulang. Raga tinggal di perumahan kecil bersama pacarnya. Adek tinggal di rumah minimalis khas perumahan kampung bersama sang ibu (Jajang C Noer). Ragil, si anak tengah, tinggal bersama sang ayah (Landung Simatupang).

Ketiga saudara menghadapi konflik mereka masing-masing seputar seks dan percintaan. Raga terlibat dalam persoalan rasa saling percaya dengan Sukma. Ragil menyembunyikan sesuatu dari ayahnya, yang telah beruban dan berusaha menjalani hidup dengan tenang. Lalu Adek menjumpai pengalaman mistis yang mengaduk-aduk ketakutan dan nalarnya.

Apa yang membingungkan para tokoh adalah kenyataan atas kejadian yang sedang mereka alami. Ada krisis rasa percaya karena ucapan tokoh lain berbeda dengan apa yang diyakini masing-masing. Lalu apa yang benar? Bahkan versi 'benar' tidak ditunjukkan dengan jelas kepada penonton. Motif sebab akibat dalam film ini menjadi rangkaian kepingan yang dibiarkan terbuka terhadap interpretasi penonton.

Dibanding rangkaian peristiwa sebab akibat, Hoax memiliki lebih banyak lapisan informasi tentang profil keluarga ini dan dunia kelam yang mereka hidupi. Informasi ini datang lewat dialog yang minim dan bahasa visual yang kuat, baik ekspresi muka maupun set artistik. Sebagian adalah penjelasan atas peristiwa yang terjadi di segmen lain.

Misalnya, kenapa ada anak bernama Ragil (bungsu dalam bahasa Jawa) tetapi masih punya satu adik yang dipanggil Adek, atau perbincangan soal sukma-raga dan kepercayaan mistik Jawa tentang saudara kembar non-fisik yang terpisah saat kita lahir.


Hoax (youtube-indy pictures)


Deskripsi visual terperinci dan punya peran penting terhadap pemahaman karakter dan kisah. Misalnya soal situasi rumah sang ayah yang penuh tempelan kertas pengingat di sana sini, kebiasaan mencabut kunci dari pintu yang menurun ke ketiga anak, atau foto-foto keluarga.

Uniknya, ketiga segmen dikemas dalam nuansa dan ritme berbeda. Kehidupan Raga yang dramatik punya warna komedi. Karakter Raga, yang tampak sedang menekan kemurungan, dihidupkan Tora dengan apik.

Ketegangan horor menyelimuti kisah Adek bersama sang ibu saat hujan malam itu. Adek merokok demi mengatasi tekanan. Namun di sisi lain, hidup Ragil bersama bapak yang beda aliran kepercayaan terasa tenang, pelan, dan terkontrol, kendati kadang kikuk. Karakter para tokoh ini sangat bernyawa lewat akting Tara, Jajang, Vino, serta Landung.

Perbedaan genre antara tiga segmen yang simultan membuat Hoax seperti roti isi campur yang rasanya terlalu berbeda dalam tiap gigitan. Pada satu titik, terselip humor ganjil dalam kejadian yang dialami Raga. Lalu tiba-tiba, ada situasi horor mistis yang bisa ditemui lewat karakter Adek, sebelum pindah lagi ke situasi tenang di rumah Ragil. Ketiga segmen memiliki daya tarik dan sensasi berbeda yang bisa disimak sekaligus dalam 83 menit.


Hoax
Sutradara/Penulis: Ifa Isfansyah
Produser: HB Naveen, Ifa Isfansyah
Rilis Bioskop: Kamis, 1 Februari 2018
Durasi: 83 menit
Kategori: 17+




 


(ELG)

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

6 days Ago

Meski melaju dengan Regina, Geisha tidak ingin menghapus bayang-bayang Momo. Lantas, ke mana ar…

BERITA LAINNYA