Pemenang Dokumenter Pendek Festival Amartha Angkat Kisah Koperasi Jamu di Bantul

Purba Wirastama    •    25 Oktober 2017 08:00 WIB
film dokumenter
Pemenang Dokumenter Pendek Festival Amartha Angkat Kisah Koperasi Jamu di Bantul
Cuplikan film Seruni Putih (youtube lula studio)

Metrotvnews.com, Jakarta: Seruni Putih, film dokumenter pendek dari Bantul, menang dalam kompetisi Amartha Short Movie Festival 2017. Kompetisi ini digelar oleh penyedia jasa fintek mikro Amartha dan secara khusus hendak menyorot berbagai kisah mengenai usaha mikro dan kecil.

Menurut keterangan resmi yang terima Metrotvnews.com, total ada 555 film pendek yang dikirim untuk bersaing di kategori fiksi dan dokumenter. Dalam seleksi pertama, enam dokumenter dipilih sebagai finalis, namun tidak ada film fiksi yang berhasil lolos. Juri yang terlibat adalah Nia Dinata, Garin Nugroho, Lucky Kuswandi, dan Chelsea Islan.

"Karya dokumenter yang sangat menarik, digambarkan dengan tingkat profesionalitas dan kedewasaan tinggi. Walaupun, untuk kategori fiksi, (film-film) masih terlalu literal (harafiah) dalam segi naskah dan pemilihan pemain," kata Lucky dalam keterangan resmi.

"Secara keseluruhan film-­film finalis berhasil menginspirasi penonton," lanjutnya.

Chelsea juga menyebut bahwa sejumlah film dokumenter submisi membawa cerita dan fakta menarik, terutama soal potensi usaha kecil di Indonesia.

"Misalnya, ada produk pertanian seperti purwaceng -- gingseng ala Indonesia yang benar-­benar merupakan salah satu warisan kekayaan alam kita," ucap Chelsea.

Seruni Putih, film dokumenter pemenang, digarap oleh sutradara Nur Wucha Wulandari dan produser Nastitya Diesta Whiwanda di bawah nama Ruang Imajinasi. Film durasi 5-menit ini mengikuti kisah perempuan pengrajin jamu di Dusun Kiringan, Desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Budaya pembuatan jamu di dusun tersebut telah berkembang sejak tahun 1950-an. Gempa Bantul 2006 sempat mengacaukan usaha ini. Namun lantas mereka bangkit dan membentuk UMKM atau Koperasi Seruni Putih, demi saling membantu lusinan perempuan pengrajin yang hendak melanjutkan usaha secara mandiri.

Juri menilai film ini mampu menggambarkan semangat bangkit dari keterpurukan, kearifan lokal, dan gotong royong yang merupakan ciri dari usaha mikro di Indonesia.

Juara kedua adalah dokumenter Jarwo: A Metamorphic Journey produksi Ampersound Films. Lalu ada penghargaan khusus juri untuk film Gudeg Mbah Lindu garapan Eddie Setiawan. Film Gudeg Mbah Lindu juga unggul di kategori film terfavorit pilihan warganet partisipan.

Berikut daftar film dokumenter pendek pemenang Amartha Short Movie Festival 2017 beserta film-film finalis lain.

1. Seruni Putih (Nur Wucha Wulandari, Nastitya Diesta Whiwanda – Ruang Imajinasi)
2. Jarwo: A Metamorphic Journey (Ampersound Films)
3. Gudeg Mba Lindu (Riz Visual)
4. Purwaceng yang Disayangkan (Two People)
5. Sepeda Om Sahid (3 a.m. pictures)
6. The Balinese Bastard and 100 Roosters (Caecilia Sherina, Daniel Pawer, Ferdy Syahwara)



 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA