Hashti Tehran dan Tawaran Bahasa Baru Sinema

Purba Wirastama    •    29 Agustus 2017 09:54 WIB
arkipel
Hashti Tehran dan Tawaran Bahasa Baru Sinema
Cuplikan film Hashti Tehran (vimeo:daniel kotter)

Metrotvnews.com, Jakarta: Hashti Tehran, film garapan sutradara Jerman Daniel Kotter, didapuk sebagai film terbaik utama di Festival Film Arkipel 2017. Alasannya, kata Hafiz Rancajale, salah satu juri dan sekaligus direktur artistik festival, film ini dinilai menawarkan pendekatan sinematik paling segar di antara film-film program kompetisi.

"Misal dialog orang-orang itu, orangnya enggak ada, kamera terus jalan, penonton diajak mengimaji siapa yang ngomong. Enggak tahu kita," ujar Hafiz di sela acara penutup Arkipel di GoetheHaus Jakarta, Sabtu (26/8/2017).

Nyaris seluruh bagian dialog di film Hashti Tehran memang demikian. Secara visual, mata penonton dituntun pada lanskap puluhan gedung apartemen di kawasan perbukitan gundul kawasan Tehran di Iran bagian utara. Pada latar audio, ada suara orang yang bercakap dalam bahasa Persia. Kita tahu isi dialog lewat teks terjemahan di layar.

Biasanya, kebanyakan film merekam subjek-objek secara audio dan visual sekaligus. Tindakan tokoh tampak di layar dan suara-suara mereka terdengar. Namun Hashti Tehran memisahkan audio dan visual dengan sangat tegas. Apa yang terdengar tidak berasal dari subjek atau objek yang tampak di layar.

Masing-masing punya lintasan dan ujaran berbeda. Terkesan tidak sinkron, tetapi bersangkut paut dan saling menegaskan karena merujuk ke topik sama.

Misalnya ketika salah satu segmen bicara tentang pemandangan dari kawasan apartemen. Pada latar suara, dua orang berdialog. Satu bertanya soal apa yang bisa dia nikmati dengan tinggal di situ. Menurut lawan bicara, dia bisa melihat pemandangan hijau pepohonan serta danau.


Cuplikan film Hashti Tehran (vimeo:daniel kotter)

Ketika dialog berlangsung, apa yang tampak di layar adalah situasi beberapa apartemen dari jarak sangat jauh. Tampak pemandangan hijau-biru di tengah-tengah. Namun ternyata 'oase' tersebut hanyalah mural di suatu tembok besar. Tak ada pepohonan asli, bahkan danau.

Teknik semacam ini mungkin tak terlalu baru. Berita video atau film dokumenter televisi juga punya teknik serupa. Ketika narasumber atau narator berbicara, footage video ditampilkan sebagai ilustrasi. Atau sebaliknya, suara digunakan sebagai deskripsi atas rekaman video.

Namun pembedanya, Hashti Tehran  menerapkan teknik secara total. Subjek dialog tak pernah muncul. Kamera juga konsisten menangkap situasi dari jarak jauh sehingga tampak aktivitas penduduk serta lingkungan yang melingkupi mereka.


Cuplikan film Hashti Tehran (vimeo:daniel kotter)

"Kita enggak bisa mengidentifikasi orang-orang. Kita tahu bahwa di situ ada pembeli apartemen dan penjual. Ada yang komplain. Tapi kita cuma tahu itu saja. Imajinasi tokoh-tokoh ada di kepala penonton," jelas Hafiz.

"(Kekuatan) film sebenarnya di situ. Film itu (soal) bagaimana kita memberi ruang imajinasi (kepada) penonton," imbuhnya.

Selain soal kebaruan bahasa sinema, Hashti Tehran  dipilih sebagai film terbaik Arkipel 2017 lantaran dianggap paling mewakili tema yang mereka usung, yaitu Penal Colony. Frasa ini merujuk pada konsep masyarakat yang dipaksa dengan sistem hukum baru, misal seperti pemerintahan otoriter.

"Dalam konsep penal colony, suara itu dihilangkan. Hukum mereduksi suara itu. Dalam (teks In the) Penal Colony karya (Franz) Kafka, manusia hancur karena dia enggak punya suara. Dia hanya bisa ikut saja," ujar Hafiz.

(Baca: Arkipel 2017 Angkat Tema Penal Colony)

Menurut Hafiz, film Hashti Tehran menjadi semacam opini dari pembuatnya atas tata kota dan pembangunan hunian di kawasan Tehran. Dengan pembangunan apartemen misal, penguasa memang memenuhi kebutuhan dasar masyarakat berupa rumah. Namun di sisi lain, kepentingan yang ada di masyarakat ikut digerogoti.

"Film ini menarik karena dia (film) tidak hanya langsung ngomong persoalan kemiskinan, tapi ngomong tentang bagaimana negara seperti dua sisi mata uang. Dia membangun, tapi kadang dia menghancurkan," ungkap Hafiz.

Hafiz juga menyebut bahwa masalah tata kota dan kebutuhan dasar rumah adalah isu global yang juga dialami di Indonesia, terutama Jakarta.

"Mungkin sama dengan kasus Jakarta. Ada daerah-daerah yang menurut negara enggak layak ditempati, tapi di sisi lain mereka tercerabut dari sejarah dan interaksi mereka, yang selama ini dibangun bertahun-tahun," tukasnya.


 


(DEV)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

4 days Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA