Petak Umpet Minako, Dari Forum Kaskus ke Film Panjang

Purba Wirastama    •    06 September 2017 17:51 WIB
film indonesia
Petak Umpet Minako, Dari Forum Kaskus ke Film Panjang
Petak Umpet Minako

Metrotvnews.com, Jakarta: Cerita soal film yang diadaptasi dari novel laris bukan hal langka. Penerimaan pasar komersial memang menjadi faktor penentu pembuat karya dalam mengembangkan medium bercerita. Jalur ini juga yang ditempuh oleh Petak Umpet Minako, drama horor yang berawal di forum internet Kaskus dan kini telah menjadi film panjang komersial.

Pada Juli 2014, pengguna Kaskus bernama alias manhalfgod mengepos cerita bersambung di forum Stories from the Heart laman Kaskus. Judulnya Petak Umpet Minako. Banyak pengunjung forum tertarik dan menyimak kelanjutan ceritanya. Rak Buku, penerbit buku Ngenest 1-3 karya Ernest Prakasa, juga berminat. Beberapa bulan kemudian, mereka menggandeng halfmangod untuk menerbitkan kisah ini dalam bentuk buku fisik berjudul sama setebal 400 halaman.

"Dari segi penerbitan, kami melihat (kisah) ini potensial untuk dijadikan buku fisik. Ternyata (PUM) memang jadi satu buku best seller kami," kata Ardianto Agung, perwakilan pihak Rak Buku dan salah satu produser film PUM, di kantor redaksi Metrotvnews.com, Senin 4 September 2017.

"Karena ngomongin soal horor, reuni, dan permainan yang seperti dua kultur – petak umpet yang umum di Indonesia dan Minako dari Jepang – (kisah) ini jadi menarik. Kita tertarik untuk bikin (cerita ini jadi) buku waktu itu," imbuhnya.

Menurut Ardi, kisah versi buku juga mendulang respon positif dari sejumlah pembaca. Ada yang sampai membuat peta berisi rangkuman kejadian pembunuhan beserta lokasi di dalam cerita. Pihak penerbit mengaku terkejut ketika para pembaca memberi ulasan beragam sesuai imaji mereka terhadap cerita. Buku telah dicetak tiga kali dengan total eksemplar 15-20 ribu.


Adaptasi ke Film

Melihat tanggapan yang bagus, medium dan ceruk pasar lain dilirik. Pada 2015, Ardi dan pihak Rak Buku berdiskusi dengan kawan-kawan pembuat film mengenai kemungkinan kisah ini diceritakan lewat medium film.

"Dari segi cerita, bentuk horor, dan brand, Petak Umpet Minako itu menarik. (Sosok) Minako ini juga menarik. Kalau promosi, yang kami angkat selalu karakter Minako karena dia boneka (yang bisa) berbentuk orang berjalan," ujar Ardi.


Petak Umpet Minako (Foto: Youtube nimpuna)

Dikisahkan, belasan anak muda berkunjung ke sekolah lama untuk reuni. Atas usulan salah seorang yang dianggap aneh, mereka bermain petak umpet gaib dengan boneka itchimatsu bernama Minako. Boneka ini merupakan boneka pemanggil arwah dari Jepang. Permainan yang awalnya mereka jadikan bahan lawakan, berubah menjadi permainan hidup dan mati. Mereka harus menyelesaikan permainan dan tidak boleh keluar dari area sekolah.

Petak umpet mistis ini berangkat dari permainan Hitori Kakurenbo, ajang uji nyali yang populer di masyarakat urban Jepang. Semua peserta bersembunyi dan boneka itchimatsu yang diminta berjaga. Arwah yang masuk ke boneka akan mencari peserta satu per satu.

"Kalau di Indonesia kayak Jailangkung, di mana kita bermain dengan boneka dan ritual. Setelah ritual, boneka (itchimatsu) ini mencari kita. Kita ngumpet, boneka mencari. Yang ketangkap, jiwanya akan tertarik (disedot oleh arwah dari boneka)," terang Ardi.

Pihak Rak Buku lantas menawarkan cerita ini ke Wida Handoyo dari perusahaan konten media Nimpuna. Wida tertarik dan terlibat sebagai produser eksekutif bersama David Hutagalung. Billy Christian, sutradara Tuyul (2014) dan Kampung Zombie (2015), bergabung sebagai penulis dan sutradara.

"Novelnya menarik dan visualnya kebayang (dapat dibayangkan) banget. Karena itu (saya) enggak ragu mengambil proyek ini. Ini lebih ke survival horror. Saya ambil proyek ini, menjadi sutradara dan menulis juga," kata Billy usai pemutaran khusus film PUM di Plaza Senayan Jakarta, Selasa 5 September 2017.

Proses pra-produksi dimulai pada penghujung 2015. Syuting berlangsung selama dua pekan pada Januari hingga Februari 2016. Lokasi syuting terpusat di Jakarta, antara lain Gedung CTC Senen, Gedung Perusahaan Film Negara (PFN) Jatinegara yang terbakar pada 2014, dan gedung gereja Katolik yang sedang direnovasi. Dua lokasi pertama menguntungkan aspek cerita karena memang sudah menjadi bangunan tak terpakai.

Tahap pasca-produksi berlangsung cukup lama, yaitu setahun lebih. Filmnya sendiri akan dirilis pada Kamis 7 September 2017, sesuai kesepakatan dengan pihak bioskop. Waktu panjang ini, kata Ardi, disebabkan oleh agenda promosi mereka yang panjang. Mereka tampil di sejumlah ajang kultur pop seperti Indonesia Comic Con untuk mengenalkan permainan Hitori Kakurenbo dan karakter boneka Minako.

Belasan aktor terlibat dan berbagi layar dalam satu periode waktu dan tempat. Ada Miller Khan, Nicky Tirta, Gandhi Fernando, Wendy Wilson, Hans Hosman, Regina Rengganis, Novinta Dhini, Natasha Gott, Tia Muller, Ario Astungkoro, Herichan, Cindy Valerie, Daniel Topan, Reza Restapop, Tamara Tyasmara, dan Aelke Mariska.

Terkait proses kreatif film, Ardi menyatakan bahwa mereka membuat konten cerita film semirip mungkin dengan deskripsi buku. Alasan utama adalah soal pasar. Mereka ingin film menjangkau pembaca buku dan sekaligus calon penonton film yang belum menyimak kisahnya di Kaskus atau novel.

"Kami ingin, semaksimal mungkin, apa yang ada di buku kami tarik ke film, supaya imajinasi pembaca dengan apa yang mereka lihat (di film) nanti sama. Mas Billy memang ingin banget (elemen yang ada di) film mirip banget dengan (deskripsi) buku."

"Tapi ya enggak bisa persis sama. Film cuma 90 menit. Gimana caranya, kami mengemas semua yang ada di buku dalam 90 menit dan semua bisa tersampaikan. Semua bisa terpuaskan," tutur Ardi.


Petak Umpet Minako (Foto: Youtube Nimpuna)

Billy, pembuat film kelahiran 1983, menyebut bahwa perbedaan utama cerita versi novel dan film adalah soal perubahan wujud boneka Minako. Dalam novel, tidak ada deskripsi spesifik mengenai boneka yang berubah wujud menjadi hantu Jepang.

"Di sini adalah ruang di mana gue bisa berkreasi. Gue bikin beberapa perubahan. Awalnya kecil, menjadi manusia, (menjadi manusia setengah). Novel enggak spesifik (soal perubahan ini), jadi tahapnya gue bikin sendiri," kata Billy.

Proyek Film Pertama Rak Buku

Petak Umpet Minako menjadi debut film panjang produksi Rak Buku. Trilogi Ngenest dari Ernest yang mereka terbitkan memang diadaptasi menjadi film oleh Starvision Plus, tetapi mereka tak terlibat urusan film.

"Kami masuk ke industri baru. Kami merasa kami punya konten bagus, mengapa enggak kami masuk ke industri (film) yang diawali dari konten," kata Ardi.

Menurut Ardi, buku dan film sama-sama menawarkan cerita. Perbedaan utama  adalah tingkat perincian tiap tahapnya. Film memiliki proses yang lebih panjang dan detail. Misalnya tahap produksi buku, yang disebut sebagai tahap pasca-produksi jika disandingkan dengan medium film.

"Kalau (buku) cetak, (kami) hanya menyerahkan ke bagian printing dengan (catatan) spesifikasi, sudah jadi. Kalau film, proses pasca-produksi, ada mixing, scoring, editing. Ada editing offline, online, grading, mixing, DCP (digital cinema projection). Detail lebih banyak. Menarik banget dan (menjadi) tantangan baru," ungkapnya.

Setelah Petak Umpet Minako, Ardi sudah melirik beberapa buku yang menarik untuk diadaptasi menjadi film. Namun keputusan ini tetap tergantung ke banyak hal, termasuk tanggapan pasar terhadap film. Apalagi ini kali pertama Rak Buku melebarkan sayap menjadi rumah produksi film.

"Kami melihat dulu di (film Minako), respon seperti apa. Kalau siap lagi, kami mencoba produksi film lagi. Bisa dibilang, sekarang banyak film dimulai dari buku. Malah saya dengar, beberapa PH (rumah produksi) masuk ke industri penerbitan," tukas Ardi.





 


(ELG)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

4 days Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA