Alasan Falcon Pictures Tak Penuhi Permintaan Rp25 Juta untuk Kasus "Biang Kerok"

Purba Wirastama    •    21 April 2018 07:00 WIB
film benyamin biang kerok
Alasan Falcon Pictures Tak Penuhi Permintaan Rp25 Juta untuk Kasus
Syamsul Fuad (Foto: Medcom/Purba)

Jakarta: Sebelum membawa perkara "Biang Kerok" ke ranah hukum, Syamsul Fuad sempat meminta kompensasi dari Falcon Pictures dan Max Pictures karena mengklaim dirinya adalah pemilik hak atas judul film dan para karakternya. Menurut pihak Falcon, mereka tidak memenuhi permintaan dana itu karena keberatan dengan klaim Syamsul.

Penasehat hukum Falcon, Lydia Wongsonegoro, menyampaikan itu dalam jumpa pers di kantor Falcon di Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat sore, 20 April 2018. Dia menyebut Falcon bersedia memberikan uang senilai itu asalkan hanya atas dasar "tali kasih".

"Pak Fuad, entah kepada Max atau siapa, sudah meminta uang Rp25 juta, hanya Rp25 juta," kata Lydia.

"Ini bukan masalah uang. Kami, kalau memberi uang ke Pak Fuad sebagai tali kasih, kami beri. Namun kalau Pak Fuad meminta uang dan mengaku sebagai pencipta, itu yang kami keberatan. Itu yang perlu kami luruskan. Perfilman nasional, kalau semua orang seperti cameramen, omong dia pencipta, mati kita. Mau jadi apa?" lanjutnya.

Syamsul mengajukan gugatan hukum atas perkara hak cipta ini setelah dua surat teguran dan satu somasinya tidak mendapat respons baik dari pihak Falcon maupun Max. Dalam gugatan yang terdaftar tanggal 5 Maret 2018, dia menuntut ganti rugi materiil dan imateriil senilai total Rp11 miliar.

Syamsul juga menuntut pengakuan resmi bahwa dirinya adalah pemegang hak cipta atas cerita film Benyamin Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung. Pihak yang digugat adalah kedua rumah produksi serta produser HB Naveen dan Ody Mulya Hidayat. Max keberatan dan justru menggugat balik dengan tuduhan Syamsul menyebabkan film merugi.

Menurut Lydia, gugatan hukum Syamsul menimbulkan kerepotan yang tidak perlu. Dia menyebut pihak Falcon dan Max telah memiliki berkas dokumen yang sah bahwa mereka adalah pemegang segala hak cipta dan turunan atas kedua film tersebut, termasuk judul dan karakter yang dipermasalahkan oleh Syamsul. Cerita atau naskah film, kata Lydia, seharusnya menjadi milik produser dan bukan penulis naskah ketika proyek sudah berjalan.

"Ini bukan masalah uang. Kalau kami kasih uang saja Rp25 juta, kan enggak usah bayar pengacara ratusan juta dong, enggak usah repot-repot perkara kayak gini. Ini kami hanya ingin semua harus pada porsi dan koridor jelas. Kami mewakili seluruh produser dan pembuat film lho. Kalau hanya menulis naskah saja dan enggak ada itu, apa jadi itu film," ujarnya.

Pihak Falcon berencana melayangkan gugatan balik terhadap Syamsul. Namun berbeda dengan Max, Lydia menyebut mereka tidak akan meminta uang ganti rugi selain biaya perkara.

"Kami hanya bikin pelajaran. Kalau mau bikin susah orang, kira-kira kalau dibikin susah enak enggak? Dia wira wiri sidang saja, capek enggak? Kami sekarang ini capek, bukan karena takut salah, capek harus bayar (pengacara), bolak-balik pengadilan, hal-hal yang engak perlu," ucap Lydia.

"Enggak (ada tuntutan ganti rugi). Mungkin Rp1 buat biaya perkara saja, ya seribu lah," imbuhnya.

Kini kasus gugatan Syamsul telah masuk tahap pemberian jawaban dari pihak tergugat. Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan pemberian tanggapan dari pihak Syamsul.

Sementara itu, Ody Mulya dan Max lewat kuasa hukum HRM Bagiono telah menggugat balik Syamsul di pengadilan yang sama. Ody menuding gugatan hukum Syamsul membuat citra film Benyamin Biang Kerok versi terbaru menjadi buruk dan tidak begitu laris di bioskop. Syamsul dituntut membayar ganti rugi senilai Rp50 miliar.



 


(ELG)