Potensi Besar Sineas Daerah dan Film yang Sarat Unsur Lokalitas

Cecylia Rura    •    28 Februari 2018 11:30 WIB
film indonesia
Potensi Besar Sineas Daerah dan Film yang Sarat Unsur Lokalitas
Ifa Isfansyah, Ketua Indonesian Film Directors Club (IFDC) periode 2018-2023. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Belakangan sineas-sineas muda dari daerah bermunculan dan mulai terangkat namanya. Kemunculan mereka tidak lain karena prestasi atas karya yang dianggap mampu bersaing dalam industri.

Ifa Isfansyah, sutradara asal Yogyakarta yang sempat mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI) turut berpendapat atas potensi sineas daerah yang menjanjikan.

"Saya justru mungkin dipilih menjadi ketua (Indonesian Film Directors Club atau disingkat IFDC) karena saya merupakan sosok yang seperti itu (sineas dari daerah). Saya bikin Siti, saya bikin Turah, saya mau bikin syuting film di Palu. Lewat hal-hal seperti itu justru saya dipilih karena saya bisa menjadi penghubung pusat industri ini dengan daerah, karena saya berasal dari daerah," papar Ifa kepada Medcom.id usai Kongres IFDC di Hotel Monopoli, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa, 27 Februari 2018.

"(Saya) memproduksi semua film berasal dari daerah, menggunakan bahasa daerah, film saya yang mau rilis juga daerah. Mungkin, justru pastinya akan ada fokus ke situ (menghubungkan sineas daerah dan pusat)," lanjut Ifa.

Film Siti dan Turah memang sarat unsur kedaerahan. Segala lokalitas yang ada dikemas secara apik lewat penggarapan naskah dan sinematografi yang terukur. Hal ini memberi warna tersendiri dalam dunia film Indonesia. Lebih dari itu, film dengan unsur kedaerahan juga mampu bersaing dalam kancah internasional. Siti contohnya, film itu mendapat penghargaan dari berbagai festival film, di antaranya dari 19th Toronto Reel Asian International Film Festival 2015 dan 9th Warsaw Five Flavours Film Festival 2015.

Memang, sejauh ini yang masih tampak adalah karya para sineas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung dengan karya-karya yang lebih pop. Oleh sebab itu, muncul persepsi Jakarta Sentris dan Bandung Sentris sebagai pusat berkumpul dan proses kreatif para pelaku industri film.

Hal ini menjadikan sineas di kota-kota lain seolah tak mendapatkan perhatian lebih sehingga harus berpindah ke Jakarta dan Bandung untuk mempublikasikan karya dalam skala nasional.

Ifa sebagai sutradara yang berangkat dari daerah di luar Jakarta dan Bandung mengatakan, memang sebuah sentris atau pusat itu dibutuhkan. 

"Sentris tetap ada, yang namanya pusat industri harus tetap ada dan Jakarta sudah tepat," kata Ifa.

Di Jakarta, para sineas dapat berkumpul dengan para pelaku industri profesional untuk berjejaring sekaligus mempelajari hal baru di dunia perfilman. Sehingga ada banyak peluang bagi sineas daerah untuk berkembang melalui jejaring dan pengalaman.

Dengan memimpin 52 anggota sutradara Indonesia yang tercatat di IFDC, Ifa dapat menyalurkan visi misinya sehingga ilmu perfilman dapat berekspansi ke berbagai daerah.

Ifa Isfansyah tercatat sebagai salah satu pendiri komunitas film Fourcolours Films yang aktif memproduksi film-film pendek. Sejak saat tu, Ifa rajin membuat beberapa karya film. Debut film panjang pertama Ifa adalah Garuda di Dadaku (2009).

IFDC merupakan asosiasi profesi sutradara yang berdiri sejak 7 Oktober 2013. Tujuan komunitas ini adalah untuk meningkatkan kapasitas sutradara film Indonesia. Asosiasi ini pun dibentuk sebagai wadah komunikasi antaranggota dan masyarakat luas untuk memperbaiki dan membangun perfilman Indonesia.




(ASA)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

5 days Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA