Black Panther, Warna Baru Film Superhero Amerika

Purba Wirastama    •    16 Februari 2018 15:05 WIB
review film
Black Panther, Warna Baru Film Superhero Amerika
Black Panther (marvel studios)

Jakarta: Sebagai film dengan protagonis kulit hitam non-Amerika pertama di waralaba film superhero terbesar Amerika, Black Panther dengan nilai produksi USD200 juta punya banyak hal untuk diceritakan. Ada negara monarki fiktif futuristik kaya raya Wakanda di bagian tersembunyi Afrika, tradisi yang terawat kuat seiring kecanggihan teknologi komputasi, silsilah keluarga kerajaan, konflik yang dihadapi Wakanda sebagai negara kecil tertutup, hingga keraguan yang dihadapi T'Challa, penerus tahta kerajaan.

T'Challa (Chadwick Boseman) adalah putra mahkota dari Raja T'Chaka (John Kani), pemimpin Wakanda yang terbunuh dalam film Captain America: Civil War (2016). Tak hanya meneruskan pemerintahan, T'Challa juga mewarisi tugas sebagai Black Panther, pelindung Wakanda. Film ke-18 Marvel Cinematic Universe ini mengikuti kisah sang Raja baru dalam menghadapi masa transisi pemerintahan sekaligus ancaman pihak luar.

Dalam durasi 125 menit, film garapan penulis-sutradara Afrika-Amerika Ryan Cogler ini cukup memuaskan dan terhitung segar. Selain kebanyakan tokohnya berkulit hitam dan petarung bela diri, pendekatan cerita juga baru bagi film superhero. Ryan pernah menyebut, dia mengambil pengaruh dari film-film kriminal, spionase, serta film dengan kisah intrik politik keluarga dan masyarakat rahasia. Beragam pengaruh ini sangat terasa serta bercampur dalam satu jalinan cerita utuh yang efektif dan tidak sulit dipahami.

Satu hal paling menarik adalah pencampuran antara tradisi mistik kuno dan penggunaan alat-alat canggih futuristik berbasis komputer dan metafisika. Karena pengaruh metal meteorit dari luar Bumi, Wakanda menjadi satu negeri Afrika yang maju makmur dan subur dengan lanskap perbukitan, hutan sungai, tebing, dan puncak es. Penduduk beternak dan bertani. Budaya dan pakaian mereka penuh warna. Agama lokal mengakar kuat. Namun teknologi komputer bisa merasuk begitu saja tanpa saling menyisihkan dan justru saling menunjang. Dunia fiksi yang dibangun Ryan dan desainer produksi Hannah Beachler menyuguhkan pengalaman visual dan cerita yang fantastis.


Salah satu adegan Black Panther (marvel studios)

Adegan laga juga menjadi suguhan menarik yang memperluas dunia fiksi film ini. Dari nuansa daerah pinggiran kota California, kelab privat dan pasar gelap di perkotaan Asia Timur, hingga belantara hutan dan padang sabana Afrika, T'Challa dan para petarung keturunan Wakanda (Michael B Jordan, Lupita Nyong'o, Danai Gurira, Daniel Kaluuya) menguasai arena.

Dengan kisah yang berfokus pada tokoh-tokoh kulit hitam Afrika, sejumlah tokoh berkulit putih Amerika cenderung menjadi sasaran olok-olok. Bukan kebencian rasial, tetapi semacam bukti bahwa warga kulit hitam punya kekuatan mandiri. Dalam satu dua adegan, Ryan menyelipkan cemooh terhadap situasi AS, yang dapat dipahami, ini merujuk ke situasi sesungguhnya di luar cerita fiksi. Terasa sedikit tendensius, tetapi tak terlalu mengganggu keseluruhan cerita.

Unsur humor menyusup tak terduga. Karakter T'Challa yang serius dan irit bicara (tidak seperti kebanyakan tokoh superhero Marvel lain) membawa pengaruh besar bagi keseluruhan cerita yang kelam. Keberadaan Shuri (Letitia Wright), Everett Ross (Martin Freeman), Ulysses (Andy Serkis), dan M'Baku (Winston Duke) memberi sentuhan komedi yang meringankan suasana. Musiknya menjadi pembeda yang memperkuat perpaduan ini.
 
Black Panther adalah warna baru bagi genre superhero Hollywood. Dengan konflik cerita yang tidak rumit, film ini mampu mengenalkan dunia antah berantah yang punya kedalaman budaya, serta mendongengkan impian atas dunia yang lebih baik.

Sutradara: Ryan Cogler
Penulis naskah: Ryan Coogler, Joe Robert Cole
Produser: Kevin Feige (Marvel Studios/Disney)
Rilis Indonesia: 14 Februari 2018
Durasi: 125 menit
Kategori: 17+





 


(ELG)