Perankan Jenderal Soedirman, Perasaan Adipati Dolken Campur Aduk

Anindya Legia Putri    •    25 Agustus 2015 13:00 WIB
adipati dolken
Perankan Jenderal Soedirman, Perasaan Adipati Dolken Campur Aduk
Adipati Dolken (Foto:Antara/Muhammad Adimaja)

Metrotvnews.com, Jakarta: Banyak hal baru yang didapatkan Adipati Dolken ketika diberi amanat memerankan tokoh nasional Jenderal Soedirman di film Jenderal Soedirman.

Dalam memerankan Soedirman, Adipati belajar dari berbagai sumber, mulai buku hingga keluarga keturunan Jenderal Soedirman.

"Saat saya memerankan Jenderal Soedirman, kesannya campur aduk. Rasanya senang, juga deg-degan. Saya sadar kalau ini merupakan peran yang berat dan beban serta tanggung jawabnya berat. Tapi bantuan teman-teman memotivasi saya," ungkap Adipati saat ditemui di gala premiere film Jenderal Soedirman, di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin (24/8/2015).

Tak dipungkiri, Adipati menemui kesulitan dalam menghadirkan sosok sang Jenderal di layar lebar.

"Kesulitannya adalah di suara. Karena sampai sekarang, saya belum pernah mendengar suara Jenderal Soedirman dan juga nembangnya Jenderal Soedirman. Saya juga belum fasih menggunakan suara Jawa. Jadi itu semua pakai interpretasi sendiri. Saya tanya kepada anaknya Jenderal Soedirman, pak Teguh dan melihat bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain. Katanya, Soedirman adalah perokok berat dan suaranya berat banget," papar Adipati.

Untuk mendalami karakter, Adipati rela mengikuti boot camp bersama Kopassus di Lembang, selama delapan hari. Di sana, dia dilatih layaknya seorang tentara.

Adipati  berharap film yang dirilis pada 27 Agustus 2015, dapat menjadi pelajaran terbaik bagi generasi muda.

"Film ini punya kemasan yang luar biasa. Ini adalah film sejarah, tapi tidak mendikte untuk belajar sejarah. Kalian bisa mengenal Soedirman dan perjalanannya melalui film ini. Saya juga memainkan peran yang luar biasa, pasti ada kritikan. Tapi yang penting saya sudah melakukan dengan semaksimal mungkin agar film ini dapat diterima oleh masyarakat," ujar Adipati.

Film yang disutradarai  Viva Westi itu mengisahkan tujuh bulan perang gerilya pada 1948, sesaat setelah Belanda melancarkan agresi militer kedua ke Yogyakarta yang saat itu berstatus Ibu Kota Indonesia.

Sang Jenderal menempuh jarak 1.000 kilometer dalam keadaan sakit dengan hanya satu paru-paru yang tersisa, dan memimpin perang gerilya.

Selain Jenderal Soedirman sebagai tokoh utama, pada film ini menampilkan tokoh kemerdekaan lainnya. Ada Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Jusuf Ronodipuro, dan Oerip Soemohardjo.

 


(ROS)