Kerjasama Sineas Jepang-Indonesia Lahirkan Film Laut

Purba Wirastama    •    17 Desember 2018 20:59 WIB
film indonesia
Kerjasama Sineas Jepang-Indonesia Lahirkan Film Laut
Cuplikan film Laut (Foto: YouTube Nikkatsu)

Jakarta: Koji Fukada, sutradara Jepang peraih penghargaan Cannes lewat film Harmonium, mengerjakan film terbaru berjudul Laut atau The Man from the Sea. Film ini merupakan proyek ko-produksi studio film tertua di Jepang, Nikkatsu, bersama Kaninga Pictures Indonesia serta Comme Des Cinemas Prancis.

Film ini dibintangi Dean Fujioka, aktor dan musisi Jepang kelahiran 1980 yang sebelumnya pernah bermain di film adaptasi Fullmetal Alchemist. Mayu Tsuruta, Junko Abe, dan Taiga menjadi pemeran pendukung bersama Sekar Sari dan Adipati Dolken. 

Kisahnya berlatar Banda Aceh pasca tsunami. Seorang pria misterius, yang kemudian dipanggil Laut, ditemukan di pantai oleh Takako, pekerja LSM asal Tokyo. Identitas Laut dipertanyakan dan membuat orang-orang curiga, terutama setelah dia melakukan sejumlah keajaiban. Sementara itu, anak Takako bersama sepupu dan dua kawannya bersahabat dengan Laut. 

Ini menjadi film cerita panjang keenam Koji sebagai sutradara sejak film debutnya The Chair (2002). Ide cerita dasar untuk Laut dikembangkan dari film ketiganya, Goodbye Summer (Hotori no Sakuko atau Au Revoir L'Ete), yang juga melibatkan Mayu Tsuruta.

"Antara Jepang dan Indonesia, ada kesamaan," kata Koji lewat penerjemah dalam jumpa pers di XXI Plaza Indonesia, Senin, 17 Desember 2018. 
 
"Dua negeri itu sering diserang bencana alam. Tahun ini pun, di Jepang ada bencana besar hujan lebat sampai rumah hanyut. Menurut saya, orang yang punya pengalaman dengan bencana alam, lebih bersimpati dengan isi karya film ini," lanjutnya.

Proyek dimulai pada 2014 oleh Nikkatsu bersama Koji. Menurut Willawati, produser eksekutif dari Kaninga, kerja sama dengan Kaninga berawal dari program pemutaran dan eksibisi World of Ghibli Jakarta pada 2017. 

"Saat itu pemilik Nikkatsu mengatakan, 'Kalau Studio Ghibli saja mau kerja sama, saya juga mau,'" ungkap Willawati dalam kesempatan sama.

Syuting sudah dilakukan selama tiga pekan di Aceh pada Agustus 2017. Rencana awalnya, film akan dirilis di bioskop Indonesia pada pertengahan 2018, tetapi diundur hingga akhir tahun, sebelum diundur lagi hingga awal 2019. 

Film dirilis perdana di Jepang pada Mei 2018 dan berkeliling ke beberapa festival internasional, seperti Busan, Hong Kong, Kaohsiung, Jogja-Netpac Asian Film Festival, serta Pekan Sinema Jepang Jakarta.

 


(ASA)