The Emoji Movie

Ketika Emoji Punya Perasaan Seperti Manusia

Purba Wirastama    •    14 Agustus 2017 07:46 WIB
resensi film
Ketika Emoji Punya Perasaan Seperti Manusia
(Foto: Dok. Columbia Pictures)

The Emoji Movie
Sutradara: Tony Leondis
Naskah: Tony Leondis, Eric Siegel, Mike White
Cerita: Tony Leondis, Eric Siegel
Produser: Michelle Raimo Kouyate (Sony Pictures Animation)
Durasi: 91 menit
Rilis Indonesia: Jumat 11 Agustus 2017



Emoji, atau ikon ekspresi perasaan (dan benda) di gawai canggih, adalah temuan besar di era komunikasi digital. Penanda ekspresi manusiawi dapat disematkan ke dalam pesan teks yang sebelumnya statis dan hanya diisi tanda baca.

The Emoji Movie  mengupayakan personifikasi data digital lebih jauh lagi. Film menampilkan emoji sebagai sebuah peradaban layaknya manusia. Ada suatu kota berisi para makhluk emoji yang dapat mengindera, berbicara, serta punya perasaan seperti manusia.

Gene (TJ Miller) adalah anak dari keluarga emoji ekspresi meh, atau unamazed, atau datar-tak-tertarik. Tujuan hidup dia hanya satu, layaknya para penduduk kota itu, yaitu menguasai teknik ekspresi wajah sesuai jenis keluarga masing-masing. Mereka semua tinggal di sebuah kota aplikasi pengirim pesan, di dalam sebuah gawai cerdas milik remaja bernama Alex (Jake Austin).


(Foto: Dok. Columbia Pictures)

Seperti dalam film Monster Inc., kota pengirim pesan punya satu pusat bisnis, tempat para emoji bekerja dan terhubung dengan dunia manusia. Mereka harus siaga di bilik bertingkat masing-masing, jika pada pada momen tertentu, Alex hendak mengetik pesan teks dan mencari emoji. Setelah itu, mesin akan memindai dan emoji terkait harus beraksi sesuai ekspresi mereka. Muncullah satu ikon emoji di kolom pesan.

Apa yang kemudian menjadi masalah, Gene tidak beraksi sesuai takdir digitalnya. Sebagai 'remaja' dengan krisis identitas, dia justru menampilkan ekspresi milik spesies emoji lain, seperti kissing  atau LOL. Dia dianggap sebagai malfungsi. Tak ingin dihapus dari program, Gene mencari bantuan ke luar aplikasi pesan dan melakukan perjalanan memantapkan jatidiri.

Kisahnya sederhana, berangkat dari krisis identitas dan takut gagal. Mudah bagi kita untuk bersimpati atau berempati. Dengan pendekatan humor dan plesetan, pengenalan 'kehidupan makhluk data' di dalam gawai canggih Alex cukup seru. Tentu saja, emoji memang diciptakan sebagai keseruan baru dalam berinteraksi.

Simpati kita diarahkan kepada Gene sang tokoh utama. Dia merupakan satu emoji ekspresi variatif di sebuah masyarakat yang meyakini prinsip pembagian peran tunggal. Katakanlah ini seperti masyarakat distopia di novel dan film Divergent, yang menilai bahwa 'multi-talenta' adalah sebuah dosa. Masalah Gene memang rentan dihadapi oleh jenis emoji ekspresi muka. Bukan emoji makanan, objek, tempat, simbol, atau bendera karena ekspresi mereka tak jadi perhatian utama.


(Foto: Dok. Columbia Pictures)

Sayangnya, perjalanan cerita menjadi tidak terlalu seru begitu setengah bagian film berjalan, terutama ketika para tokoh keluar dari kota pengirim pesan. Tensi tak berubah banyak, malah lebih cenderung datar. Ada beberapa kejutan, tetapi kecil dan tidak bertahan lama. Jika respons terhadap film ini digambarkan dengan emoji, ekspresi meh  milik Gene, thumb up, atau sweat smile  lebih mendominasi daripada ekspresi seperti scream, lol, grin, crazy, atau tear.

Pada satu sisi, cerita film Emoji terasa sebagai metafora. Bahwa kehidupan yang monoton seperti makhluk emoji ekspresi muka tidaklah seru. Selain itu, terselip pula gagasan dari pembuat cerita, untuk membuat jenis emoji baru di gawai dunia nyata yang mewakili beragam perasaan.

Seandainya memang demikian, metafora ini masih kurang kuat. Lagipula, prinsip beragam yang dibawa tokoh Gene juga berlawanan dengan prinsip kibor komputer atau gawai cerdas. Tak ada yang hendak menggunakan tombol yang fungsinya tidak stabil. Perintah otomatisasi di dalam komputer jelas butuh stabilitas. Pengguna yakin bahwa hasilnya sesuai dengan yang telah diatur sebelumnya. Itulah mengapa bug dan malfungsi menjadi perhatian serius.

Jika kisah film Emoji hendak mengangkat keceriaan emoji, sebagai karya grafis ragam bentuk dan warna dari budaya pop milenial, satu dua penggal bagian memang terasa. Namun banyak bagian terasa biasa. Barangkali aman untuk tidak berekspektasi, bahwa Emoji membawa keseruan yang sama seperti saat kita mengobrol dengan orang lewat pesan teks, sambil sekali dua menyisipkan emoji favorit. Bukan tidak menarik, tetapi hanya kurang spesial.




(DEV)

Renjana Base Jam Bernostalgia

Renjana Base Jam Bernostalgia

1 day Ago

"Sesuai lagu kita yaitu, Jatuh Cinta dan Rindu. Bagaimana mengenang awal orang 'jatuh …

BERITA LAINNYA