Go-Jek Lebarkan Sayap ke Industri Film Dokumenter

Purba Wirastama    •    20 Juli 2018 08:53 WIB
film dokumenter
Go-Jek Lebarkan Sayap ke Industri Film Dokumenter
Amelia Hapsari, direktur program In-Docs (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Jakarta: Perusahaan makelar transportasi Go-Jek melebarkan sayap bisnis ke perfilman. Tahun ini, setelah mendukung sedikitnya empat film cerita, Go-Jek lewat Go-Studio akan bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRaf) dan In-Docs untuk mengadakan program bimbingan, pendanaan, dan distribusi film dokumenter Indonesia. 

Program ini berada satu atap dengan Docs By The Sea, forum internasional untuk proyek film dokumenter yang dimulai BEKRaf dan In-Docs di Bali sejak tahun lalu. Setelah gelaran perdana itu, sejumlah pihak melirik dan tertarik bermitra. Go-Studio adalah salah satunya dengan program kolaborasi Docs By The Sea Co-Production Fund yang akan dimulai tahun ini.

"Salah satu pilar utama kami adalah inovasi dan kreativitas. Misi Go-Jek sejak lahir adalah ingin membantu pertumbuhan ekonomi melalui teknologi dan inovasi," kata Chie Corporate Affairs Go-Jek Nila Marita dalam jumpa pers di kawasan Gambir, Jakarta, Kamis, 19 Juli 2018.

"Jadi, inisiasi yang dilakukan BEKraf dan In-Docs ini sejalan karena kami ingin mendukung kreativitas, khususnya dalam sektor dokumenter, untuk bisa mendapat peluang dan akses lebih besar, terutama di mancanegara," lanjutnya. 

Amelia Hapsari, direktur program In-Docs, menyatakan pihaknya menyambut baik kerja sama ini. Menurut Amelia, selama ini sumber pendanaan yang terbuka luas untuk pembuat film lokal sangat sulit diakses, bahkan nyaris tidak ada. 

Selain itu, pihaknya berharap kolaborasi dengan Go-Studio bisa membantu mengurai satu masalah klasik dalam distribusi film dokumenter, yaitu ketiadaan pasar penonton lokal. Amelia menyebut bahwa selama ini, kanal televisi tidak berkolaborasi dengan pembuat film independen dan hanya menayangkan konten produksi tim internal. 

"Biasanya kami memakai pemutaran keliling, komunitas film, festival-festival independen, lalu mendapat (penayangan) festival di luar negeri supaya di negeri sendiri kami dihargai.  Padahal seharusnya kami dihargai dulu di negeri kita sehingga festival internasional itu bonus," ungkap Amel.

"Inisiasi dengan Go-Jek ini adalah terobosan di film dokumenter Indonesia," imbuhnya.

Salah satu bagian dari terobosan itu adalah platform streaming on-demand bagi kalangan penonton Indonesia yang sekarang sedang disiapkan Go-Jek, yaitu Go-Play. Keterlibatan Go-Jek dan Go-Studio dalam Docs By The Sea 2018 tak lain adalah untuk berburu konten film dokumenter lokal. 

Total ada 22 proyek film dokumenter lokal yang akan bersaing mendapatkan dukungan dari Docs By The Sea Co-Production Fund. Program ini masih terbuka dalam hal jumlah peserta terpilih dan besaran pendanaan. 

"Karena ini dana koproduksi, distribusi tidak hanya di platform Go-Jek saja karena memang tujuannya bisa mencapai distribusi global. Namun yang jelas (distribusi) di Indonesia lewat platformnya Go-Jek," terang Amel. 

Docs By The Sea 2018 akan digelar di Kuta, Bali selama sepekan pada 2-9 Agustus 2018. Program Co-Production Fund bersama Go-Jek dihelat tiga hari terakhir. Selain dengan Go-Jek, Docs By The Sea juga bekerja sama dengan Tribeca Film Institute lewat program IF/Then.

 


(ASA)

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

5 days Ago

Meski melaju dengan Regina, Geisha tidak ingin menghapus bayang-bayang Momo. Lantas, ke mana ar…

BERITA LAINNYA