Film Panjang Satu Shot Garin Nugroho Terbuka Bagi Pemutaran Komunitas

Purba Wirastama    •    09 Oktober 2018 19:22 WIB
garin nugroho
Film Panjang Satu Shot Garin Nugroho Terbuka Bagi Pemutaran Komunitas
Nyai (Garin Nugroho)

Jakarta: Nyai, film panjang eksperimen Garin Nugroho yang digarap dengan satu shot dan satu take, telah tayang perdana di Festival Film Busan dua tahun silam. Sekarang film ini terbuka bagi komunitas yang ingin menayangkan di layar-layar alternatif.

Tidak hanya penayangan, Garin juga membuka kesempatan kerja sama untuk mengadakan kelas diskusi bersama komunitas.

Nyai mengambil latar 1926-1927 ketika awal sejarah film Indonesia tercipta. Film berkisah tentang kehidupan seorang perempuan pribumi yang menikah dengan lelaki Belanda pada masa kolonial. Annisa Hertami berperan sebagai Nyai dan beradu akting dengan Rudi Corenz, Chawatie, dan Gunawan Maryanto.

Film ini diadaptasi dari sejumlah novel klasik yang menceritakan sosok serupa, yaitu "nyai" atau perempuan pribumi yang menjadi istri tak resmi orang Belanda era kolonial.

Novel rujukan adalah Nyai Isah (1904) karya F Wiggers, Seitang Koening (1906) karya RM Tirto Adhisoerjo, Boenga Roos dari Tjikembang (1927) karya Kwee Tek Hoay, Nyai Dasima (1960) karya SM Ardan, serta Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya Ananta Toer.

Menurut Garin, Nyai mampu menjadi pengantar sejarah film Indonesia pada awal pertumbuhan, serta kaitan film ini dengan aspek sejarah industrialisasi awal abad ke-20, sejarah perkembangan sastra dan film ke teater, dan kaitan film dengan politik kolonial.

"Film saya yang ini memang tidak akan beredar di bioskop reguler, tetapi layak untuk ditonton karena bisa menjadi pengantar sejarah film Indonesia. Maka kami akan memperbanyak pemutaran dengan komunitas-komunitas dan melengkapi dengan rangkaian master class," kata Garin dalam keterangan tertulis yang kami terima.

Nyai berdurasi 89 menit. Syutingnya dilakukan dalam satu shot, satu take, dan waktu riil ibarat pertunjukan teater. Produksi dilakukan pada tahun yang sama dengan film Setan Jawa. Ong Hari Wahyu menangani riset visual dan penataan artistik. Andhy Pulung menjadi produser dan editor.

"Karena produksi film ini sangat independen dan dengan tim yang kecil, metode distribusinya juga bergerak independen. Film ini unik dan memberikan perspektif baru di perfilman Indonesia," ujar Garin.

Sebelum mampi ke komunitas, Nyai ditayangkan di Jakarta dan Surabaya lewat kerja sama dengan CGV dan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm).

Sesi penayangan Jakarta telah diadakan di bioskop CGV Pacific Place pada Sabtu, 6 Oktober. Sesi Surabaya akan diadakan di CGV BG Junction pada 12 Oktober. Garin juga membuka kelas diskusi terbatas dan gratis bagi pembuat film muda yang pernah menyutradarai satu film pendek.

Sebelumnya, Nyai telah tayang di sejumlah festival film bergengsi di Busan, Torino, Singapura, Rotterdam, dan Goteborg.


 


(ELG)

Produser The Rolling Stones Percaya Dangdut Mampu Mendunia

Produser The Rolling Stones Percaya Dangdut Mampu Mendunia

1 day Ago

Seperti yang dikatakan Rhoma Irama lewat lagu Viva Dangdut, "Dunia pun berdangdut, dunia k…

BERITA LAINNYA