Kerumitan Adaptasi Novel Bumi Manusia Menurut Salman Aristo

Purba Wirastama    •    17 Oktober 2017 13:28 WIB
film bumi manusia
Kerumitan Adaptasi Novel Bumi Manusia Menurut Salman Aristo
Salman Aristo (Foto: MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Salman Aristo mengaku menemui banyak tantangan saat menulis skenario Bumi Manusia, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer. Kendati sudah membaca berulang kali, dia baru memahami struktur cerita novel setelah terlibat dalam pengerjaan naskah untuk film.

"Dengan sangat 'brengsek', novel itu sangat luar biasa sekali strukturnya. Gue sudah baca novel sampai lima kali, tapi baru benar-benar sadar saat gue mau mengadaptasi karena harus benar-benar memahami struktur," ujar Salman saat ditemui di Senayan City Mall Jakarta, Senin (16/10/2017) malam.

"Baru sadar bahwa novel ini 'sembarangan' amat ya, enak banget ya. Ada cerita, sudah sampai satu bab, terus tiba-tiba (ada keterangan): Itu terjadi lima hari sebelum hari ini. Ini flashback di dalam flashback, yang di-flashback-kan lagi. Gimana cara mengerjakan ini," imbuh Salman bersemangat.

Kerumitan yang dimaksud adalah soal alur cerita atau plot, yang sering tidak berurutan secara kronologis dan dengan mudah meloncat ke depan-belakang. Selain itu, peristiwa juga diceritakan tidak hanya oleh satu narator, tetapi beberapa narator secara bertingkat.

Salman mencontohkan satu bagian, yaitu ketika Minke mendengar dari Annelies, yang menceritakan bahwa dia diceritakan oleh Nyai Ontosoroh.

"Banyak banget yang begitu."

"Kami enggak mau ambil jalan gampang, yang tinggal dibuat kilas balik saja (...). Kami membongkar itu dulu. Titik berdiri mau dari mana, premisnya dari apa siapa, itu yang lama," ucap Salman.

Terkait sudut pandang cerita, Salman juga menyebut bahwa novel Bumi Manusia punya sekian tokoh yang dapat dipilih.

"Novelnya sangat kaya. Lu mau ambil dari mana saja juga bisa, dari Nyai (Ontosoroh), dari Annelies, dari Minke, gayanya mau seperti apa," ujar dia.

Proyek film adaptasi dikerjakan Salman dan Hanung di bawah bendera Falcon Pictures. Penulisan naskah dimulai sejak awal 2017. Salman mengerjakan naskah bersama tim dari Wahana Penulis. Arief Ashshiddiq bertindak sebagai story editor dan Hasan Aspahani bergabung menjadi story developer.

Sejauh ini belum ada kabar mengenai siapa aktor yang dibidik. Jadwal resmi rilis film juga belum ditentukan. Salman mengaku dia dan Hanung tak mau gegabah dan mengambil waktu panjang untuk mengerjakan naskah, yang kini sudah sampai draf ke-3. Hanung sendiri masih sibuk di proses syuting film Benyamin.

"Kita berusaha, apa yang mau coba disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer di novel itu, sebisa mungkin muncul semua. Bukan dalam arti adegan, tapi esensi dan intisari, semua harus bisa keluar," tukas Salman.


 
(ELG)

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

1 day Ago

Danilla merengkuh segala yang bisa dilakukan oleh seorang penyanyi pendatang baru. Mulai dari m…

BERITA LAINNYA