Finalis Eagle Awards Raih Film Dokumenter Terbaik di Indonesian Ethnographic Film Festival

Sri Yanti Nainggolan    •    19 November 2016 15:53 WIB
eagle awardeagle awards documentary competition
Finalis Eagle Awards Raih Film Dokumenter Terbaik di Indonesian Ethnographic Film Festival
Tim Lepo Lorun untuk Dunia (Foto: dok. pribadi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Film Lepo Lorun untuk Dunia yang merupakan film finalis dalam kompetisi film dokumenter Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2014 berhasil mengukir prestasi lain kompetisi  Indonesian Ethnographic Film Festival 2016 yang diadakan pada 16-18 November 2016 di Ruang Apung & Library Plaza, Universitas Indonesia, Depok.

Film garapan Milto Seran dan Vita Heni yang berasal dari Nusa Tenggara Timur tersebut berhasil meraih penghargaan sebagai Best Documentary Ethnographic Film Festival 2016.

"Kami sangat senang dengan penghargaan yang diterima Eagle Institute Indonesia atas prestasi ini dalam ajang yang pertama kalinya diadakan ini, di mana film kami mendapat penghargaan film dokumentasi terbaik terbaik," ungkap Agus Ramdan selaku Sekretaris Yayasan Eagle Institute Indonesia saat dihubungi Metrotvnews.com, Sabtu (19/11/2016).

Agus berharap, prestasi tersebut bisa memicu semangat para pembuat film dokumenter untuk bisa berkarya lebih baik lagi.

Melihat mulai meningkatnya perhatian pada film dokumenter di kancah kompetisi nasional, salah satunya dengan prestasi Lepo Lorun untuk Dunia, Agus menganggap bahwa ini adalah angin segar yang akan semakin mewarnai industri perfiman Indonesia.

"Dengan semakin banyaknya wadah apresiasi, maka kita berharap kedekatan dengan penonton akan semakin baik," tambahnya.

Selain itu, sejalan dengan pesan Deddy Mizwar selaku Wakil Gubernur Jawa Barat dan aktor senior, Agus juga menganggap industri kreatif adalah industri yang sangat menjanjikan karena tak akan habis, berbeda sumber daya alam yang justru sebaliknya.



Lepo Lorun untuk Dunia
mengisahkan tentang seorang perempuan Flores (desa Nita), Alfonsa Horeng yang berupaya melestarikan budaya tenun ikat Flores di tengah kondisi-kondisi keterbatasannya. Ia keluar masuk desa-desa di pedalaman Flores untuk memotivasi ibu-ibu dan berbagi pengalaman seputar ilmu menenun dengan ibu-ibu yang umumnya berusia di atas 35 tahun.

Ini adalah tahun pertama digelarnya Indonesian Ethnographic Film Festival dan rencananya akan dijadikan agenda tahunan.


 


(ELG)

Senandung Senja Yon Koeswoyo

Senandung Senja Yon Koeswoyo

1 month Ago

Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya m…

BERITA LAINNYA