review film

Stratton, Kegagalan Menjadi Jagoan

Purba Wirastama    •    24 Mei 2017 08:00 WIB
review film
Stratton, Kegagalan Menjadi Jagoan
Stratton (Foto: via teaser-trailer.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menonton Stratton adalah menonton aksi prajurit elit terlatih yang nyaris selalu kalah karena perhitungan dan insting yang kurang matang. Jika poin utama kisah adalah menunjukkan bahwa satu dua orang jagoan tidak mungkin dapat memikul tanggung jawab besar menyelamatkan umat manusia, film ini cukup mampu mencapainya.

Film Stratton mengikuti perjalanan misi Special Boat Service, pasukan khusus bentukan angkatan laut Inggris, dalam menghancurkan senjata biologis berbahaya yang jatuh ke tangan orang jahat. Misi ini mendapat sorotan agen rahasia sejumlah negara. Terlebih ketika sejak awal mereka telah gagal mencegah penjahat merebut senjata tersebut.

Jagoan utama kita bernama John Stratton (Dominic Cooper), petugas lapangan pentolan SBS. Adegan pertama film adalah penugasan Stratton dan Marty (Tyler Hoechlin), rekannya di AL, untuk mencuri senjata biologis dari pabriknya di perbatasan Iran.

Penyerbuan diam-diam di 10 menit pertama terasa menjanjikan. Ketegangan dan ketidakpastian terbangun. Tanpa diduga, mereka menemui beberapa masalah yang membuat misi nyaris ompong, bahkan mengancam nyawa kedua jagoan.

Tak ada yang bisa kita percaya selain diri sendiri, kata Stratton kepada Marty. Ungkapan khas kisah mata-mata ini bisa jadi petunjuk awal bahwa 80 menit bagian film berikutnya akan diwarnai pengkhianatan dan keberadaan agen ganda. Entah memang demikian atau Stratton hanya terlalu berlebihan.

Marty mati tertembak di awal film. Stratton terus merasa bersalah karena menganggap rekan sekaligus sahabatnya gugur lantaran dia salah mengambil langkah.

Setelah Marty, rekan lapangan Stratton adalah Hanks (Austin Stowell). Bersama Sumner (Connie Nielsen) bosnya, mereka bekerjasama dengan tiga anggota utama lain yang bekerja di pusat komando. Ada Aggy (Gemma Chan), Spinks (Jake Fairbrother), serta Cummings (Tom Felton).

Dengan perangkat penyebar racun yang disita dari rekan kelompok penjahat, mereka berhasil tahu apa dan siapa sebenarnya target kejahatan bos musuh (Thomas Kretschmann). Selanjutnya Stratton dan tim harus menebus kegagalan misi pertama dengan misi-misi lanjutan. Usaha tidak selalu lancar, seperti film laga serupa secara umum.

Di sini letak kontradiksinya. Narasi film hendak menuntun bahwa tokoh utama adalah anggota pasukan khusus didikan militer. Namun film tidak berhasil menampilkan jagoan sebagai sang jagoan. Begitu pun dengan jagoan rekannya.

Pendalaman karakter terasa kurang sehingga motif para tokoh sulit dipahami. Misalnya Stratton. Rasa bersalah atas kematian Marty mengemuka dalam narasi, tetapi efek lanjutannya terhadap cerita sulit ditangkap. Tidak cukup jelas apakah dia menjadi lebih berhati-hati atau semakin gegabah.


Stratton (Foto: via teaser-trailer.com)

Penekanan ke pelanggaran protokol Stratton di misi pertama pun tak bergaung lagi setelah misi selanjutnya dimulai. Hal yang tersisa dari adegan pembuka adalah bahwa senjata telah dicuri penjahat. Lalu mereka tahu siapa dan apa ancaman yang mengintai keselamatan penduduk sipil.

Sebagai petugas lapangan pentolan, kharisma dan kemampuan militer Stratton tidak menunjukkan ketenaran SBS sebagai pasukan elit. Bisa jadi, cap negatif yang mereka terima dari beberapa institusi pemerintah memang disebabkan oleh keburukan performa tim ini.

Unsur pengkhianatan orang dalam turut muncul dalam cerita. Ketika ini terjadi, perspektif penonton sengaja dibatasi. Kita tidak benar-benar tahu rahasia apa yang disembunyikan, atau bagaimana masalah tokoh ini mempengaruhi keputusan tindakannya.

Keberadaan pembelot terkesan hanya sebagai kambing hitam, untuk mengesahkan film ini sebagai kisah polemik agen khusus pemerintah yang sering diwarnai masalah kredibilitas tiap anggota.

Senjata berbahaya tidak ditampakkan secara serius. Ancaman hanya diceritakan lewat penuturan tokoh dan penggambaran visual jarak jauh. Padahal ini menjadi masalah utama cerita.

Dialog terasa tidak diramu dengan baik dan cenderung klise. Akting para pemain top tidak banyak membantu. Selain itu, hasil penyuntingan yang terkesan buru-buru membuat beberapa detail rentan luput dari perhatian.

Jika ingin menyimak kisah pasukan elit yang menghindari tokoh utamanya beraksi terlampau hebat, selalu beruntung, dan menjalani romansa berlebih, Stratton adalah film yang tepat. Jagoan kita memang bukan John Rambo, James Bond, atau Ethan Hunt (Mission Impossible).

Sutradara: Simon West
Produser: Guy Collins, Matthew Jenkins
Penulis skenario: Warren Davis II, Duncan Falconer
Adaptasi dari: novel seri Stratton karya Duncan Falconer
Rilis Indonesia: 24 Mei 2017


(ELG)

Renjana Base Jam Bernostalgia

Renjana Base Jam Bernostalgia

5 days Ago

"Sesuai lagu kita yaitu, Jatuh Cinta dan Rindu. Bagaimana mengenang awal orang 'jatuh …

BERITA LAINNYA