Film Terbaru Salman Aristo Menyoroti Masalah Generasi Umur 20-an

Purba Wirastama    •    15 November 2017 16:00 WIB
film indonesia
Film Terbaru Salman Aristo Menyoroti Masalah Generasi Umur 20-an
Satu Hari Nanti (Foto: dok. evergereen pictures)

Metrotvnews.com, Jakarta: Salman Aristo, peraih Piala Citra lewat penulisan skenario adaptasi Athirah, mengerjakan film terbaru berjudul Satu Hari Nanti. Dia menjadi penulis dan sutradara di bawah atap produksi Rumah Film dan Evergreen Pictures.

Cerita berpusat pada empat protagonis di Swiss yang diperankan oleh Adinia Wirasti, Deva Mahenra, Ringgo Agus Rahman, serta Ayushita. Mereka telah berada di Swiss lebih dari tiga tahun dengan tujuan masing-masing.

Alya (Asti) dikirim ke Swiss untuk mendalami proses pembuatan coklat oleh kedua orang tua, yang punya bisnis produksi coklat rumahan di Jakarta. Mereka berharap Alya dapat melanjutkan bisnis, tetapi Alya lebih suka memasak makanan umum.

Bima (Deva) adalah musisi yang ingin mengejar karier lebih jauh ke Swiss. Din (Ringgo) berkeliling dunia dan mengumpulkan cerita untuk ditulis ke buku. Dia memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai pemandu wisata.

Baca juga : Menilik Bioskop Alternatif Tangerang Selatan

Sementara, Chorina (Ayu) adalah anak dari keluarga kaya raya di Indonesia yang dikirim ke Swiss untuk bekerja sebagai manajer hotel.

Menurut Salman, keempat tokoh ini sedang dalam fase evaluasi diri terhadap keputusan hidup yang telah mereka ambil, baik dalam urusan cinta maupun pekerjaan.

Alya dan Bima berpacaran lebih dari tiga tahun, Din dan Chorina lebih dari lima tahun. Mereka berempat menjalin persahabatan. Ketika ada friksi internal, mereka mencari jawaban ke pasangan sahabat.

"Mereka menjalani itu di tempat yang asing sama sekali (...), di mana nilai berbeda, mereka punya kesempatan untuk mengambil keputusan yang bisa jadi tidak tepat dan salah. Tapi itulah makna dari perjalanan, ketika misfits dan mistakes menjadi bagian dari pengalaman untuk membuat kita lebih dewasa," kata Salman saat ditemui di Qubicle, Jakarta Selatan, Rabu 15 November 2017.

"Satu hari nanti kita akan bisa menemukan apa yang kita cari lagi dan menjadi lebih baik," imbuh Salman menegaskan mengapa film diberi judul Satu Hari Nanti.

Baca juga: Kejutan-Kejutan Berdarah The Doll 2

Hal serupa disebut Salman dialami oleh generasi seumuran para tokoh, yaitu 20-an tahun. Ada orang yang telah mengambil keputusan, tapi lalu sadar ternyata salah.

"Ini orang-orang yang kayak, passion gue jadi pembuat film, dari SMA, dari kuliah. Begitu selesai kuliah, jadi filmmaker, dan bisa saja kita merasa; Salah ternyata keputusan gue," ucap Salman.

Menurut catatan LSF, film berdurasi 126 menit dan berkategori 21+. Kategori ini ditentukan Salman dan produser Dienan Silmy sejak awal proyek karena alasan kompleksitas cerita.

Syuting pada akhir 2016 di beberapa lokasi populer Swiss, seperti Thun, Danau Interlaken, Zurich, Bern, dan Gunung Jungfraujoch. Menurut Dienan, Swiss punya aturan ketat soal batas jam kerja syuting delapan jam. Syuting dilakukan selama 21 hari dalam rentang 26 hari produksi.

Film diproduksi oleh Dienan Silmy (Rumah Film) dan Khrisna Wiyana (Evergreen Pictures). Faozan Rizal menjadi pengarah sinematografi, Khikmawan Santosa penata suara, dan Angela Halim menjadi penata artistik. Aghi Narrotama dan Bemby Gusti menjadi penata musik dan Cesa David menjadi penyunting gambar.

Satu Hari Nanti akan tayang perdana dalam program kompetisi Screen Awards di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada awal Desember 2017. Film juga akan ditawarkan ke beberapa distributor kawasan Asia.


 


(ELG)

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

20 minutes Ago

Danilla merengkuh segala yang bisa dilakukan oleh seorang penyanyi pendatang baru. Mulai dari m…

BERITA LAINNYA