Review Film Avengers Infinity War

Avengers Infinity War, Sebuah Level Baru Bagi Marvel Cinematic Universe

Purba Wirastama    •    25 April 2018 16:00 WIB
review filmFilm Avengers Infinity War
Avengers Infinity War, Sebuah Level Baru Bagi Marvel Cinematic Universe
Cuplikan trailer Avengers Infinity War (youtube marvel entertainment)

Jakarta: Mau dikata apa, Avengers: Infinity War sudah punya daya tariknya sendiri sebagai film superhero. Kisah perang antar galaksi, ajang kumpul lusinan tokoh baru dan lama dengan beragam keunikan, film layar lebar ke-19 dari Marvel Studios dalam 10 tahun, para aktor top Hollywood, nilai produksi yang begitu besar, serta berbagai efek visual level Disney-Marvel untuk sihir, metafisika, alkimia, dan sains fiksional.

Film bagian pertama ini membuktikan diri bahwa ragam tawaran tersebut bukan omong kosong. Selain fantastis dan seru, Infinity War menyuguhkan pertunjukan yang cukup menghibur, menyentuh, dan mencengkeram perhatian. Kendati level emosi yang sampai mungkin tidak sedalam itu, film besutan sutradara Russo bersaudara ini punya banyak hal, dari laga, komedi, percintaan, perang skala planet, alien, mitologi, dan relasi sahabat dan keluarga.

Ide kisahnya sederhana, jahat lawan baik. Thanos yang edan dari planet Titan memburu enam batu bertuah semesta demi ambisi menguasai hidup mati dan eksistensi. Ambisi mempertemukan dia dengan para pahlawan Avengers dan Guardians yang memiliki dan mengetahui sebagian batu.

Dalam lima menit pertama film, kita akan tahu betapa berbahaya Thanos sampai-sampai para superhero Bumi dan galaksi harus bekerja sama. Raksasa warna ungu ini tampak sangat kuat karena superhero yang terhitung kuat pun tak berdaya.

Wajib Tahu 7 Fakta Ini Sebelum Menonton Avengers Infinity War

Namun konflik pahlawan lawan penjahat ini tak sekadar jadi kisah putih vs hitam klasik. Karakter si antagonis Thanos mendapat sorotan lebih banyak dari film-film sebelumnya sehingga motivasinya bisa dipahami lebih dalam. Sementara itu, untuk karakter superhero yang karakternya telah dikenal, disegarkan lewat interaksi baru. Bayangkan jika si besar mulut Peter Quill bertemu dengan si besar kepala Tony Stark atau si keras kepala Thor.

Relasi di tingkat personal juga menjadi sorotan khusus. Gara-gara Thanos, ada relasi domestik yang terpecah, ada juga yang terajut kembali. Kendati unsur komedi khas Marvel muncul di banyak momen, film ini juga menyajikan nuansa kelam, terutama dalam cliffhanger.

Kisahnya mencakup banyak latar tempat secara nyaris simultan. Tempo penceritaan yang cepat mungkin akan terasa membingungkan bagi penonton yang tak tahu banyak referensi soal jagat fiksi Marvel. Namun secara esensial, alur cerita dan konflik ini cukup ringan dan mudah dipahami. Akhir plotnya dibuat bersambung ke Avengers 4 untuk 2019. Namun bagian satu ini cukup memuaskan ditonton sebagai satu film utuh dengan tiga babak.

Mungkin hanya kerumitan Infinity Stones yang butuh perhatian lebih. Biarlah itu menjadi suguhan spesial bagi para penggemar dan nerd. Butuh waktu khusus untuk menjelaskan bagaimana jika kemampuan mengontrol realita digabungkan dengan kemampuan mengontrol waktu. Namun dalam taraf permukaan, keenam batu bertuah ini jelas bisa memberi kekuatan merusak atau merawat kehidupan.

Soal atmosfer planet, kisah fiktif ini mengasumsikan banyak planet semesta punya komposisi udara yang ramah bagi manusia. Adaptasi udara bukan perkara sulit. Asal masih ada di dalam atmosfer semua planet, semua manusia dan makhluk bernafas lega. Namanya juga fantasi.

Infinity War adalah bukti bahwa Marvel Studios unggul dalam genre sci-fi fantasi superhero Amerika. Dua hingga tiga film setiap tahun tidak membuat tim besar pimpinan Kevin Feige jatuh pada penceritaan yang menjemukan. Film ensambel ini adalah level baru bagi Marvel Cinematic Universe.

Avengers: Infinity War
Sutradara: Anthony dan Joe Russo
Penulis: Christopher Markus dan Stephen McFeely berdasar komik dan karakter Marvel
Produser: Kevin Feige, Louis D'Esposito, Jon Favreau, James Gunn
Durasi: 149 menit
Kategori: 13+


(ELG)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

3 days Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA