Biro Jodoh hingga Hip-hop Ambon, 17 Kisah Pendek Kompetitor IF/Then 2018

Purba Wirastama    •    03 Mei 2018 21:10 WIB
film dokumenterTribeca Film Institute
Biro Jodoh hingga Hip-hop Ambon, 17 Kisah Pendek Kompetitor IF/Then 2018
17 Kisah Pendek Kompetitor IF/Then 2018 (Foto: dok. IF/Then)

Jakarta: IF/Then, program dukungan film pendek dokumenter dari Tribeca Film Institute, digelar pertama kali untuk kawasan Asia Tenggara mulai tahun 2018 bersama In-Docs, Badan Ekonomi Kreatif, dan media internasional Al Jazeera. Dari tahap seleksi awal, terpilih 17 proposal proyek dokumenter dengan beragam tokoh dan cerita.

Menurut keterangan pers dari pihak IF/Then, belasan proyek ini berasal dari empat negara Asia Tenggara. Sembilan proyek berasal dari Indonesia. Delapan lain dari Filipina, Thailand, dan Malaysia. Saat ini, seluruh proyek masih dalam tahap awal berupa pengajuan gagasan cerita.

Mereka akan mengikuti serangkaian proses mulai Mei hingga Agustus 2018, meliputi bimbingan dari pakar industri dokumenter, pengembangan naskah, presentasi di depan juri, seleksi, hingga presentasi di depan para calon investor dan distributor internasional dalam Docs by the Sea di Bali.

Mereka juga berkompetisi untuk menjadi empat finalis yang akan mendapat dukungan pendanaan dan distribusi. Tribeca Film Institute akan membantu promosi empat film yang sudah jadi kepada mitra mereka di dunia, seperti POV, The Guardian, The New York Times, Netflix, ITVS, iTunes, serta Vimeo.

Kendati masih tahap awal, gagasan kisah yang hendak disajikan 17 proyek ini sangat beragam dan meliputi berbagai pelosok Asia Tenggara. Berikut gagasan kisah yang diajukan oleh 17 tim semifinalis.

1. Bullet-Laced Dreams (Filipina - Cha Escala & Kristoffer Brugada)
Anak-anak dari suku asli di Mindanao berjuang memperoleh hak pendidikan setelah pemerintah melakukan militerisasi sekolah-sekolah mereka.

2. Dancing Queen (Thailand - Watcharee Rattanakree & Abhicon Rattanabhayon)
Seorang bekas ladyboy terinfeksi HIV dari teman pria yang tengah mempertaruhkan hidup dalam berjuang melawan virus HIV dan TB.

3. Diary of Cattle (Indonesia - David Darmadi & Lidia K Afrilita)
Potret kehidupan sehari-hari peternakan dengan sapi-sapi yang makan dan tinggal di tempat pembuangan sampah. Terlepas dari manfaat ekonomi bagi pemilik ternak, beberapa resiko tidak dapat dihindarkan, baik yang mengancam jiwa ternak maupun kerugian investasi bagi pemiliknya.

4. Home (Indonesia - Arunaya Gondhowiardjo & Firman Widyasmara)
Perjalanan orangutan muda menuju pemulihan lewat jalan panjang dan sulit dengan berbagai dukungan di sepanjang jalan menuju "rumah".

5. How Far I'll Go (Indonesia - Ucu Agustin & Dian Raisha)
Andrea dan Salsabila adalah gadis remaja beranjak 17 tahun yang menantang diri mereka untuk mandiri. Mereka berteman sejak anak-anak. Andrea meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Amerika saat berusia lima tahun.

6. If I Can Dream (Indonesia - Ratih Prebatasari)
Eros beserta empat sepupu laki-laki merupakan bagian dari musik hip-hop Manumata. Mereka tinggal di rumah nenek mereka bersama 15 orang, sejak pindah dari Seram ke Ambon pada 2001 karena konflik politik yang melibatkan Muslim dan Kristen.

7. Million Baths Babies (Thailand - Rungroj Rojanachotikul)
Hadiah besar, resiko besar. Noparit, mantan bertarung Muay Thai, menjadi promotor sebagai jalan untuk memastikan 16 anaknya berhasil di Muay Thai, tidak peduli apapun konsekuensinya.

8. Pretty Alma (Indonesia - Bani Nasution & Yogi A Fuad)
Alma berusia empat tahun. Dia berusaha menjadi anak yang cantik dan solehah meski kadang dirinya ingin melepas jilbabnya.

9. Songbirds of Aceh (Malaysia - Aminda Faradilla & Jean Chang)
Di salah satu tempat subur kelahiran kelompok garis keras Islam terbesar di dunia, sekelompok gadis muda menemukan cara untuk melawan terorisme dengan hanya menggunakan suara mereka dalam lagu.

10. Sound of Soil (Indonesia - Ika Yuliana & Almanoka Alesandro)
Hanyaterra adalah grup musik yang memainkan musik keramik dalam upaya menemukan strategi budaya baru. Mereka ingin menghidupkan kembali hubungan dengan peradaban tanah liat di Jatiwangi, Jawa Barat. Mereka menuju suatu tempat dalam pencarian suara tanah untuk perjalanan spiritualnya ke desa keramik lainnya di seluruh Indonesia.

11. Swallows Trapped in Twilight (Thailand - Komtouch Napattaloong & Nontawat Numbenchapol)
Di suatu tempat di Thailand, sebuah keluarga pengungsi Sudan hidup dalam persembunyian. Mereka menunggu pemulihan kembali dengan kamera kecil mereka.

12. The Act of Forgiving (Indonesia - Kurnia Yudha Fitranto, Teguh Hari, Amerta Kusuma)
Proses pembelajaran para pemuda untuk memahami sejarah melalui pertunjukan seni kolaboratif dengan para wanita penyintas.

13. The Ember (Indonesia - Arfan Sabran & Ishak Iskandar)
Pada 1996, Iber Djamal harus mengizinkan tanahnya diambil tentara untuk memberi jalan bagi proyek Padi Gambur pemerintah. Sejak itu, kebakaran hutan di Kalimantan terjadi sejak tahun. Sekarang dia melawan ancaman baru, yaitu invasi perusahaan kelapa sawit.

14. The Legend of the Fish (Filipina - Venice Atienza & Fanni Wu)
Apa yang harus dilakukan untuk membuat sang legenda tetap hidup?

15. The Other Half (Indonesia - Wahyu Utami Wati & Damar Ardi)
Basri, 65 tahun dan tinggal sendiri, berpartisipasi dalam pertandingan yang disebut Golek Garwo atau mencari pasangan hidup.

16. The Salt Trails of Ulu Papar (Malaysia - Nadira Ilana & Martin Potter)
Cagar biosfer dunia yang ditetapkan UNESCO di pelosok Borneo sedang terancam oleh megadam. Film dokumenter ini adalah eksplorasi sinematik yang intim dari tanah leluhur dan adat istiadat penduduk asli dusun, serta pertempuran untuk melestarikannya.

17. Touch the Color (Filipina - Baby Ruth Villarama & Carlo Joel Gutierrez)
Ketika perang narkoba di Filipina semakin intensif, sekelompok wanita yang dipenjara mengubah neraka penjara menjadi tempat penyucian dosa, sembari menunggu putusan akhir mereka di pengadilan.


 


(ELG)