Ulasan Film Ant-Man and the Wasp

Agustinus Shindu Alpito    •    04 Juli 2018 15:21 WIB
resensi filmreview filmulasan filmAnt-Man and the Wasp
Ulasan Film Ant-Man and the Wasp
Ant-Man and the Wasp (marvel studios)

Jakarta: Apalah arti dapat menaklukan dunia jika tak mampu menyelematkan keluarga sendiri. Kira-kira kalimat itu cocok untuk menggambarkan bagaimana situasi dalam film Ant-Man and the Wasp.

Cerita bermula ketika Hank Pym (Michael Douglas) dan istrinya, Janet van Dyne (Michelle Pfeiffer), menjalani misi berbahaya pada 30 tahun lalu. Kala itu, Janet mengambil keputusan berani untuk menyusut seukuran atom dan masuk ke alam kuantum.

Keputusan Janet membuat dirinya tersesat di alam kuantum. Sementara itu, Hank Pym kebingungan karena tekonologi yang dibangunnya belum mampu menjangkau alam kuantum. Cerita semakin rumit karena pasangan superhero ini meninggalkan seorang putri kecil, Hope van Dyne (Evangeline Lilly).

Dalam perjalanannya, keluarga Hank Pym bertemu dengan Scott Lang, seperti yang dikisahkan pada film perdana Ant-Man. Pada sekuel ini mereka, yaitu Scott Lang, Hank Pym dan Hope sepakat untuk mencari cara menembus alam kuantum untuk menyelamatkan Janet.

Permasalahan kian rumit karena banyak pihak yang mengincar laboratorium yang dibangun Hank Pym. Lebih-lebih, mereka kedatangan "tamu" baru yang nyaris mustahil untuk dikalahkan, yaitu Ghost.

Ant-Man 2 membawa ingatan kita pada kisah-kisah superhero lainnya, yaitu memperjuangkan esensi dari sebuah keluarga. Nilai keluarga tidak lain membuat superhero tetap humanis dan dekat dengan para penggemarnya. Mereka bukan sosok-sosok sempurna yang tidak memiliki persoalan dalam lingkup terkecil dan bahwa kekuatan yang mereka miliki tidak lantas membuat hidup jadi mudah dan berjalan tanpa ada masalah.

Disutradarai oleh Peyton Reed, sekuel ini menjaga dengan baik kadar humor yang telah dibangun pada film pertama. Sosok Luis (Michael Pena) tak henti-henti membuat penonton tertawa lewat tingkah konyolnya. Kadar humor yang konsisten di sepanjang film membuat film ini semakin mudah dicerna dan menyelamatkan dari kebosanan penonton.

Hal lain yang membuat film ini tidak terlihat ambisius adalah sosok Scott "Ant-Man" Lang itu sendiri. Ant-Man benar-benar dicitrakan sebagai superhero yang sangat "manusiawi." Dia punya ketakutan yang sama dengan kita. Scott takut jika tak dapat bersama putrinya lagi, takut melanggar hukuman jadi tahanan rumah bahkan takut jika karier yang dirintis bersama Luis sahabatnya kandas.

Film Ant-Man and the Wasp rasanya bukan saja ditujukan untuk penggemar cerita superhero, tetapi untuk semua kalangan, terlebih mereka yang menyukai cerita dengan premis yang unik dan bumbu humor yang kental.

Sekuel kedua Ant-Man ini tayang pada 5 Juli 2018 di bioskop-bioskop Indonesia.

 


(ELG)